Elshanti, Anak Hj. Idza Priyanti Calon Bupati Yang Tetap Berprestasi

El Shanti Baju biru tengah bersama Keluarganya Hj. Idza Priyanti, SE dan H. Warsidin, SH di rumahnya saditan Brebes, Jum'at (23/12) [Foto: Pribadi]

Brebes, Harianbrebescom- Menjadi anak Bupati, tidak identik dengan kemalasan atau foya foya dalam kehidupannya. Namun bagi anak bupati non aktif Hj Idza Priyanti SE, El Shanti Nabiihah Salma justru terus mengukir prestasi sebagai contoh teladan bagi teman teman lainnya.

Terbukti, ketika menempuh pendidikan di SMA Taruna Nusantara, Magelang pun dia menorehkan prestasi dengan mendapatkan rangking pertama secara parallel.

“Gak tau kalau saya rangking pertama parallel,” ungkap Shanti ketika dihubungi rumahnya Jalan MT Haryono Saditan Brebes, Jumat (23/12).

Siswa kelas X IPS 2 itu, pada semester 1 ini meraih nilai 86,15 sehingga mengungguli 96 siswa lainnya di jurusan IPS.
Menurut Shanti, yang penting dirinya belajar semaksimal mungkin untuk mewujudkan cita citanya sebagai Polisi mengikuti jejak ayahnya Kompol Drs H Warsidin MHum.

Apalagi, lanjutnya, sekolah di SMA Taruna sangat ketat peraturannya. Namun demikian dia nikmati dengan system dan metode pembelajaran semi militer itu.

Di SMA TN, Shanti menceritakan kesenangannya dengan kehidupan disiplin. Setiap hari dia bersama seluruh rekan se asrama melakukan apel tiga kali, beribadah, berolahraga, belajar sudah diatur sesuai dengan ketentuan sekolah tanpa harus membantah.

Penggemar Nasi Goreng ini mengaku senang dan asyik yang tidak bisa dilupakan ketika harus mengikuti pendidikan dasar kedisiplinan (PDK). Karena disitu diajarkan bagaimana menjalani kehidupan tepat waktu dan saling membantu tanpa dipaksa-paksa.

“Ada semacam daya dorong tersendiri menuntun hidup menjadi lebih baik dan bertanggung jawab,” ungkap Shanti yang saat ini tengah menikmati liburan di rumah.

“Saya berprinsip, yang penting rajin belajar, mendapat restu orang tua, selalu beribadah dan berbuat kebaikan,” tuturnya sembari tersenyum.

Menjalani kehidupan di asrama, bagi Shanti penuh makna. Karena biasanya tidak mencuci, tidak memasak, bersih bersih kamar oleh pembantu, kini harus dilakukan sendiri.

“Awalnya kikuk dan tertekan banget, tapi sekarang udah terbiasa,” ucap remaja kelahiran Jakarta 4 Mei 2001 ini dengan polos.

Termasuk larangan berkomunikasi dengan orang tua maupun teman teman di luar asrama dia terima dengan legawa.

“Kami diberi kesempatan berkomunikasi dengan orang tua pada setiap sabtu dan minggu pada jam tertentu. Itupun dengan menggunakan hape jadul, milik sekolah,” ujar pemilik tinggi badan 152 cm dan berat badan 49.

Penghobby petualang ini, di SMA TN mengikuti kegiatan esktrakurikuler panjat tebing dan menjadi Takmir Masjid Sekolah.

“Bagi saya, kedisiplinan sangat bagus untuk membangun karakter saya,” pungkasnya. [Red-Hb/Arkana]

LEAVE A REPLY