Protes Kenaikan Harga BBM Picu Aksi Kekerasan Meluas di Zimbabwe

0
9
Aksi protes menentang kenaikan harga bahan bakar di Zimbabwe (AP/Tsvangirayi Mukhwazhi)

Harare, Harianbrebes.com – Aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Zimbabwe dilaporkan berakhir dengan kekerasan, di mana polisi menembakkan amunisi hidup dan gas air mata untuk membubarkan massa.

Bentrokan tersebut menjadi situasi terburuk di negara Afrika selatan itu pasca pemilu tahun lalu, ketika enam warga sipil ditembak mati oleh polisi.

Dikutip dari The Guardian pada Selasa (15/1/2019), bentrokan itu merupakan buntut dari demonstrasi yang telah berjalan tiga hari oleh serikat pekerja Zimbabwe, di tengah kondisi krisis ekonomi yang kian mengkhawatirkan.

Selain di ibu kota Harare, bentrokan juga dilaporkan terjadi di Bulawayo, sebuah kota di wilayah selatan negara itu, ketika polisi berusaha membubarkan kelompok-kelompok pemuda yang menyalakan api di jalan-jalan, menciptakan blokade, dan dalam beberapa kasus, turut menjarah toko-toko.

Di Chitungwiza, kota satelit di selatan Harare, sebuah kantor polisi dikepung oleh massa yang mengamuk, dan suara tembakan otomatis dilaporkan terdengar di sela-selanya.

Kondisi tidak jauh berbeda terjadi di kawasan pemukiman kumuh Mabvuku, tidak jauh dari pusat ibu kota, di mana empat warga sipil dilaporkan mengalami luka tembak oleh polisi.

Akar dari bentrok yang meluas itu adalah ketidakpuasan rakyat Zimbabwe terhadap keputusan pemerintah dalam menaikkan harga BBM sebesar 150 persen pada Sabtu 12 Januari.

Hal tersebut kian diperparah dengan fakta bahwa harga barang-barang kebutuhan harian –mayoritas diimpor– telah melonjak lebih dulu, mengikuti tingkat inflasi yang kian tidak terkendali.

Kekalutan politik dalam negeri Zimbabwe juga diketahui tidak banyak berubah sejak Robert Mugabe digulingkan oleh militer –setelah berkuasan 37 tahun– pada 2017 lalu. Sang diktator meninggalkan utang negara dalam jumlah besar, kekurangan pasokan uang tunai, dan infrastruktur yang hancur.

“Kami sudah cukup menderita,” kata Philani Nyoni, seorang penulis yang turut serta dalam protes di Bulawayo. “Pemerintah sekarang sadar bahwa kami tidak senang dengan kebijakan bodoh mereka seperti kenaikan harga bahan bakar.”

Sumber : Liputan6.com

Harian Brebes

LEAVE A REPLY