Digusur, Warga Cimohong Brebes Terpaksa Tinggal di Gubuk

Ilustrasi : Seorang warga tengah merapikan rumahnya yang terdampak penggusuran. Foto : Tribun Jateng/Zainal Arifin

Brebes, Harianbrebes.com – Penggusuran 88 rumah di sepanjang bantaran irigasi Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, pada medio Desember 2018 lalu, menyisakan kesedihan bagi warga.

Warga yang sebelumnya menempati lahan milik pemerintah di Desa Cimohong, kini terpaksa mendirikan bangunan sederhana di atas bantaran atau tanggul Sungai Babakan, sebagai tempat tinggal sementara.

Di antaranya dialami seorang warga terdampak penggusuran, Wirto.

Meski dalam pembongkaran rumahnya dilakukan dengan kesadarannya, dan dibongkar dengan alat berat oleh petugas, namun ia terpaksa membangun rumah semi permanen di daerah bantaran sungai.

“Saya belum siap membangun rumah karena tak memiliki lahan dan uang. Makanya terpaksa membuat tempat tinggal di tanggul sungai untuk sekadar berteduh apalagi ini musim hujan,” kata Wirto, Minggu (27/1/2019).

Karena tidak punya uang, Wirto hanya mampu mendirikan rumah ala kadarnya.

Ia menyadari bahwa keputusannya sangat membahayakan diri dan keluarganya.

Namun, hal itu yang bisa dilakukan karena keterbatasan ekonominya apalagi dirinya tak memiliki lahan.

“Kami terpaksa bangun rumah di atas tanggul, karena untuk membangun rumah di atas lahan yang disediakan pemerintah perlu modal banyak. Untuk mengurug dan juga membeli bahan bangunan yang baru kan butuh modal yang besar,” tuturnya.
H

Meskipun pemerintah desa setempat telah mengupayakan untuk merelokasi warga tak mampu untuk membangun rumah di atas tanah milik desa, namun sebagian warga memilih membangun rumah sementara di atas bantaran sungai

Ketua BPD Cimohong, Bambang Ciptadi mengatakan, dari 88 rumah yang terdampak penggusuran, baru 2 rumah yang siap akan dibangun di lahan yang disediakan pemerintah desa.

Dia menyebutkan, warga pun menyadari itu semua, namun karena keterbatasan ekonomi dan kesiapan mereka menghadapi penggusuran, mereka belum bisa membangun rumah di lahan milik desa.

Ancaman bahaya menyelimuti mereka-mereka yang menempati tanggul Sungai Babakan.

Pasalnya, jika musim hujan seperti ini bukan tidak mungkin sungai akan banjir dan meluap serta terjadi pengikisan pada tanggul.

Namun, mereka tak lagi punya pilihan selain memanfaatkan tanggul sebagai tempat tinggalnya.

“Kami sudah mendata warga yang terdampak untuk direlokasi, tetapi sebagian memilih bikin rumah sementara di atas tanggul, sebagian lagi memilih menempati rumah saudaranya,” katanya.
Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Jateng

Harian Brebes

LEAVE A REPLY