Penyakit Langka Anemia Aplastik, Risqo Lulu Ulma’sumah Butuh Donor Darah A Plus

Risqo Lulu Ulma'sumah (7) tengah dirawat di RSU Dr Kariadi Semarang. Rabu (6/2). Foto : Istimewa

Brebes, Harianbrebes.com – Terlihat wajah bocah berusia 7 tahun saat duduk santai bersama ibunya di sebuah tempat singgah pasien di RSUP Dr. KARIADI, Semarang, Rabu (6/2) sore.

Ditengah perjuangannya melawan penyakit langka. Risqo Lulu Ulma’sumah yang akrab dipanggil (Lulu) divonis dokter mengidap penyakit anemia aplastik.

Secara singkat, anemia aplastik adalah kelainan darah yang terjadi ketika sumsum tulang belakang berhenti memproduksi sel darah baru, baik sel darah merah, darah putih, maupun trombosit.

Lulu merupakan anak ketiga dari pasangan Muniroh dan Kamaluddin (Alm). Berdomisili di Jl. Sunan Gunung Jati II Rt.01 Rw.04 Kelurahan Limbangan Wetan Brebes. Mereka datang ke Semarang untuk berobat di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi.

Muniroh mengatakan, Lulu merupakan anak yang aktif dan cerdas. Meskipun baru duduk dibangku kls 1 MI Salafiyah Kelurahan Limbangan Wetan Brebes, dia sudah pandai mengaji, membaca dan berhitung.

Pada November 2018 lalu, Muniroh berkisah, Lulu terlihat lemas sepulang main dari rumah saudaranya. Tanpa curiga, Muniroh menyuruhnya makan dan beristirahat. Itu lah gejala awal penyakit tersebut hinggap di tubuh Lulu.

“Gejalanya muncul pas dia pulang dari rumah saudaranya. Mau jalan lemes, mau ngaji lemes,” ucap Muniroh saat berbincang dengan Harianbrebes.com, Kamis pagi.

Muniroh terkejut ketika esok harinya melihat bagian kaki Lulu membiru seperti terkena pukulan. Ia pun panik saat melihat wajahnya seketika pucat pasi dengan bintik-bintik merah di tangan dan tubuhnya.

“Besoknya biru-biru seperti ditonjok-tonjok di bagian kaki semakin parah. Kemudian mimisan, gusi berdarah,” ujar ibu janda muda itu.

Muniroh lantas mencari informasi gejala penyakit itu lewat internet dibantu kedua anaknya yg cowok. Setelah itu di saat bersamaan, ia pun langsung ke dokter terdekat untuk minta rujukan agar Lulu dirawat ke RSUD Brebes. Selama di rumah sakit Lulu melakukan transfusi darah. Keadaanya berangsur membaik.

“Kata dokter kelainan darah,” ucap Muniroh.

Namun, sepulang dari rumah sakit. Lulu mendadak gusinya berdarah lagi dan sesak saat tengah bermain bersama kakaknya. Ia pun kembali mendapat perawatan di RSUD Brebes. Namun, kali ini dokter menyarankan agar Lulu segera dibawa ke RSUP Dr. KARIADI Semarang.

“Setelah seminggu di paviliun. Dokter langsung melakukan biopsi sumsum tulang belakang. Namun tahap pertama belum terdeteksi penyakitnya. Dan setelah 2 minggu kemudian Dokter melakukan biopsi yang kedua kali, akhirnya dokter menyatakan Lulu positif anemia aplastik,” kata Muniroh.

Muniroh pun kaget dengan vonis dokter. Apalagi tak ada riwayat medis dari keluarganya yang pernah mengalami penyakit itu.

Hati Muniroh pun kian kalut setelah dokter menyebut sampai saat ini belum ada obat untuk mengobati penyakit tersebut.

Adapun operasi cangkok sumsum tulang belakang bisa dilakukan, namun jelas perlu biaya yang sangat besar. Selain itu, persentase keberhasilannya pun masih diragukan.

“Solusinya, bertahan dengan transfusi trombosit saja,” kata Muniroh.

Berburu darah A+

Sejak saat itu, kehidupan Muniroh berubah drastis, yang tadinya jualan lauk pauk pada siang hari didepan rumahnya, namun kali ini seluruh perhatiannya difokuskan untuk Lulu. Sementara suaminya, Kamaluddin (Alm) Sudah meninggal sejak Lulu berada dalam kandungan ibunya 7 tahun yang lalu.

Muniroh dan kedua anaknya cowok saling berbagi peran khususnya mencari darah golongan A+ bagi Lulu. Awalnya ia meminta kepada saudaranya, kerabat dan tetangga agar bersedia mendonorkan darah.

Namun, kebutuhan darah Lulu yang banyak membuat Muniroh dan kedua anaknya mulai kewalahan. Apalagi, ketersediaan darah di rumah sakit bergantung pada stok di PMI.

“Per hari, Lulu minimal butuh 8 labu trombosit dan 2 labu sel darah merah. Karena kalau manusia normal, trombositnya idealnya 150.000 ke atas, Lulu ini bisa anjlok 10.000 trombositnya kalau lagi anjlok,” kata Muniroh.

“Untuk cari dari kita ngumpulin saudaranya saja, ternyata gak semua bisa juga. Banyak saudara dan tetangga yang kecewa gak bisa bantu,” timpal anaknya cowok.

Muniroh mengatakan, dengan kondisi Lulu saat ini proses transfusi menjadi satu-satunya cara memperpanjang harapan hidup Lulu.

“Kalau sedang ngedrop atau telat transfusi, Lulu mengalami pendarahan serta keluar bintik-bintik merah pada wajah dan tubuhnya, namun itu akan hilang jika transfusi darah sudah dilakukan,” tuturnya.

Selama mendapat perawatan di RSUP Dr. KARIADI, Semarang. Muniroh menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran atau mendengar ceramah lewat YouTube. Ia berupaya tegar menghadapi getir cobaan hidup yang ia alami.

Muniroh pun sadar, sebagai orang tua harus menjadi cermin bagi anaknya yang membutuhkan energi positif untuk menjaga semangatnya.

“Kita hanya bisa pasrah dan berdo’a kepada Allah SWT semoga anakku yang cewek ini cepat diberikan kesembuhan dan dapat melanjutkan sekolahnya. Aamiin.” Ucap Muniroh tegar. (HB-Taufik)

LEAVE A REPLY