Bupati Brebes; Pancasila Sebagai Dasar Republik Indonesia Adalah Harga Mati

Brebes, Harianbrebes.com,- Upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka memperingati HUT Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2019 di alun-alun Brebes mengusung tema SDM Unggul, Indonesia Maju.

Bupati Brebes, Idza Priyanti SE. MH. bertindak sebagai Inspektur Upacara, sementara Komandan Upacara dijabat oleh Danramil 14/Banjarharjo, Kapten Inf Agus Sulistyo dan Perwira Upacara dijabat Pasipers Dim 0713/Brebes yang jabatan resminya juga merangkap sebagai Danramil 02/Jatibarang, Kapten Inf Kunpriyanto SE.

Idza menyampaikan dalam ambutannya bahwa Pancasila sebagai dasar Republik Indonesia adalah harga mati. Tidak bisa ditawar dan harus kita tanam sedalam-dalamnya di Bumi Pertiwi.

“Pancasila inilah sebagai induk semangatnya negara ini, yang di dalamnya bersemayam ajaran-ajaran agama”, kata Idza. Sabtu, (17/8/2019) pagi.

Sejarah mencatat, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 sistem pemerintahan sempat berganti menjadi Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949.

“Kalaulah sistem pemerintahannya pernah berubah, toh akhirnya jiwa-jiwa yang telah menyatu dari Sabang sampai Merauke dari Miangas hingga Rote tidak bisa dipisahkan,” ujurnya.

Setelah itu, pada 17 Agustus 1950 Tanah Air ini kembali tegak berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di atas kelima dasar Pancasila itulah kita mendirikan Negara Indonesia yang kekal dan abadi.

Seperti halnya yang pernah diucapkan Bung Karno, jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan gotong royong”.

“Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama!” tegas perempuan yang dua periode ini menjabat Bupati Brebes.

Sejak dilahirkan, Indonesia mendapat berbagai tantangan dan persoalan berat, mulai dari seringnya bencana alam, korupsi, konflik sosial, gerakan separatisme dan radikalisme. Belum lagi tantangan modernisasi yang bergerak seiring dentang waktu berjalan.

“Jangan lagi ada niatan mengganti ideologi bangsa, jangan lagi ada ungkapan, “Ah kamu Batak, ah kamu Irian, ah kamu Bugis, ah kamu Sunda, ah kamu Madura, ah kamu Jawa.” Jangan lagi ada. Perbincangan kita harus melompat jauh ke depan”, lanjutnya.

Bangsa Cina dan India telah bergerak menuju Bulan, bangsa Amerika telah bersiap membangun perumahan di Mars, meski saat ini kita belum mampu, namun mulai sekarang mari kerahkan segala daya upaya, tenaga dan pikiran, jiwa dan raga untuk masa depan cemerlang anak anak bangsa. Kita rebut kembali kejayaan Majapahit, yang mampu ekspansi ke bagian bumi di Utara.

“Pantaskah kita hanya jadi penonton atas keberhasilan bangsa lain? Anak-anak kita harus jadi arus besar perubahan yang meluncur ke Utara, ke seluruh bagian di penjuru dunia. Wahai Anak Bangsa, kepalkan tekadmu, bulatkan semangatmu. Kita hadapi dengan satu senjata, kebersamaan. Persatuan Indonesia!, ” kata Idza.

Atas satu jalinan sebagaimana sapu lidi, yang jika lepas ikatannya ambyar kebangsaan kita, ambyar negara kita, ambyar Indonesia Raya. Sejarah telah mengikat kuat kita, perasaan senasib sepenanggungan telah menyatukan kita, dan Pancasila telah mendasari kita sebagai bangsa dan negara yang besar. Yakin lah kecemerlangan bangsa ini takkan lama lagi. Indonesia akan berjaya seribu windu lamanya, bahkan lebih.

Hadir dalam upacara tersebut diantaranya Forkopimda Brebes hadir pula Wakil Bupati Narjo SH, Sekda Brebes, Djoko Gunawan, para Kepala OPD, Pramuka, pelajar, TNI dan Polri juga organisasi kemasyarakatan turut serta dalam upacara.

Kegiatan serupa juga digelar di seluruh Sekolah, Balai Desa dan Kelurahan, serta Kecamatan yang tersebar di wilayah Kabupaten Brebes yang diikuti personel TNI dan Polri, serta unsur Pemerintah dan Masyarakat setempat. (Utsm/ Gust)

Harian Brebes

LEAVE A REPLY