Pemerintah Jamin Kawasan Industri Tak Ganggu Ketahanan Pangan Di Brebes

Brebes, Harianbrebes.com,- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DKPP) menjamin kedaulatan pangan tidak terganggu dengan adanya kawasan industri diwilayahnya.

Sekertaris DKPP Brebes, Furqon mengatakan, Kawasan Industri Brebes (KIB) tidak mengganggu kedaulatan pangan diwilayahnya. Hal itu, dikarenakan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) di Kabupaten Brebes masih cukup luas. 

Furqon juga mengklaim, hingga kini produksi tanaman padi di Kabupaten Brebes masih surplus. Kemudian, menurutnya, dari data DKPP Brebes tercatat, produksi padi tahun 2018 mencapai 556.683 ton, sementara untuk konsumsi beras masyarakat Brebes tercatat 208.655 ton. Sehingga masih ada surplus sekitar 348.028 ton. Begitupun komoditas pertanian yang lainnya, seperti bawang merah, jagung, dan cabai. 

“Pada prinsipnya kami berusaha mendorong para petani di Brebes untuk terus meningkatkan produksi pertaniannya. Sehingga kawasan industri ini tidak mengganggu produktivitas pertanian diwilayah Kabupaten Brebes,” kata Furqon saat ditemui di kantornya, Jum’at, (4/10). 

Komoditas utama Kabupaten Brebes, yaitu bawang merah, kata dia, juga selalu mengalami surplus. Di tahun 2018, lanjutnya, tercatat produksi bawang merah Brebes mencapai 303.772 ton. Sedangkan untuk konsumsi masyarakat Brebes hanya 4.266 ton per tahun. Sehingga, tegasnya, produksi komoditas pertanian utama Kabupaten Brebes sama sekali tidak terganggu dengan ditetapkannya Kawasan Industri Brebes (KIB). 

Selain itu, Furqon juga mengatakan, bagi para petani yang sawahnya terdampak pembebasan lahan untuk kawasan industri, pihaknya akan berupaya memberikan pelatihan dan keterampilan khusus kepada mereka. Pihaknya menilai, selepas lahan mereka dialihfungsikan, tentunya sebagian dari para petani tidak lagi melakukan aktivitas bertani. Oleh karenanya, sebagian dari mereka dipastikan akan beralih profesi dari petani ke pekerjaan lain. 

“Kalau lahannya sudah dialihfungsikan kan otomastis sebagian dari mereka tidak bertani lagi. Para petani bisa mengikuti pelatihan-pelatihan, keterampilan dan lainnya,” jelas Furqon. 

Upaya meningkatkan produksi pertanian, imbuhnya, juga akan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para pekerja pabrik yang jumlahnya sudah dipastikan akan terus meningkat. Utamanya untuk komoditas sayur-masyur dan buah-buahan yang produksinya juga akan ditingkatkan. Sebab, seiring berdirinya pabrik-pabrik di Brebes akan menyerap tenaga kerja secara besar-besaran. 

“Alih fungsi ini tidak mengganggu kedaulatan pangan. Pada intinya kami akan terus meningkatkan produksi. Selain produksi bawang merah yang merupakan komoditas strategis di Brebes, juga meningkatkan produksi kedelai, jagung, dan lainnya,” jelasnya. 

Sebelumnya, Kepala DPKP Brebes, Yulia Herawati menuturkan, alih fungsi lahan lebih banyak untuk pemukiman ketimbang untuk kebutuhan industri. Atas alih fungsi itu, pihaknya akan terus mengembangkan lahan-lahan baru dengan meningkatkan sarana dan prasarana pertanian, termasuk saluran irigasi.

Sistem Indeks Pertanaman (IP) menjadi diyakininya sebagai solusi untuk tetap mempertahankan bahkan meningkatkan jumlah produksi pertanian.

“Dengan IP ini maka panen bisa dilakukan dua kali selama setahun yang sebelumnya hanya satu kali. Solusinya hanya bisa meningkatkan IP, karena tidak memungkinkan menciptakan sawah baru,” ujarnya.

Untuk IP ini, ditujukan untuk sawah tadah hujan. Dan sistem IP ini nantinya dilakukan dengan dukungan pompanisasi, sumur dangkal, sumur dalam, dan air permukaan.

“Mudah-mudahan dengan sistem IP ini, Petani bisa panen dua kali dalam satu tahun,” harapnya.

Kedaulatan pangan semestinya tidak sekedar ketersediaan pangan, namun mulai dari bagaimana pangan itu dihasilkan oleh petani, yang memproduksi petani sendiri, dan bagaimana pangan itu bisa menguntungkan para petani sekaligus terjangkau bagi masyarakat miskin. (Gust)

LEAVE A REPLY