Peduli Petani, Mitha; Lahan Produktif Bukan Untuk Bangun Pabrik

Brebes, Harianbrebes.com,- Kabupaten Brebes sebagai wilayah yang Masyarakatnya kebanyakan menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian, saat ini mulai memasuki era baru dalam pengembangan ekonomi industri. Pasalnya, pada acara Central Java Investment Business Forum (CJBF), 5 November 2019 lalu, wilayah Brebes dipilih menjadi penerima investasi dalam bentuk Pembangkit Listrik Tenaga Angin (Wind Power Plant).

Bukan tidak mungkin, investasi yang digelontorkan PT Akuo Energy Indonesia dengan nilai anggaran hingga mencapai Rp 2 triliun ini akan membutuhkan lahan yang cukup luas. Bak simalakama, hadirnya investasi di Kabupaten Brebes dinilai akan memberikan kemajuan tersendiri bagi wilayah tersebut. Namun di lain sisi, banyak pihak yang merasa khawatir nantinya tidak sedikit lahan pertanian menjadi korban pembangunan proyek. 

Sebagai Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Pramitha Widya Kusuma memberikan perhatian penuh pada investasi di Kabupaten Brebes. Terlebih jika investasi tersebut memberikan dampak kemajuan bagi wilayahnya. Munculnya investasi ke daerah, bagi Pramitha diharapkan mampu mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar. 

Kendati mendukung investasi di wilayah Kabupaten Brebes, khususnya dalam bidang Pembangkit Listrik Tenaga Angin (Wind Power Plant). Namun Pramitha memberikan penegasan bagi investor untuk tidak menggunakan tanah produktif pertanian sebagai lahan proyek (pabrik). Menurutnya, sektor pertanian masih menjadi akomodasi yang menjanjikan di Kabupaten Brebes. 

Sebagai Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Daerah Pilihan IX Jateng (Kab. Brebes, Kab. Tegal dan Kota Tegal), Pramitha merasa bertanggung jawab atas kelangsungan kehidupan masyarakatnya dalam sektor pertanian.

“Karena sebagian besar Masyarakat di Kabupaten Brebes ini hidupnya bergantung pada pertanian, maka jangan sampai ada pemanfaatan lahan pertanian untuk proyek (pabrik). Dan pembangunan pabrik harus sesuai dengan regulasi,” tegas Pramitha yang kerap dipanggil Mitha, Sabtu, (9/11/19). 

Yang demikian, kata Mitha, dikarenakan sektor pertanian masih menjadi penopang ekonomi utama di Kabupaten Brebes. Bahkan komoditi bawang merah menjadi trade mark di kancah perdagangan nasional. Dari 17 kecamatan di Kabupaten Brebes, 11 kecamatan masih menjadikan bawang merah sebagai komoditi utama sektor pertanian. Luas panen bawang merah di 11 kecamatan tersebut pun cukup fantastis, hingga mencapai 20.000 – 25.000 hektar. 

Ada pun sentra produksi bawang merah terpusat di Kecamatan Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tonjong, Losari, Kersana, Ketanggungan, Larangan, Songgom, Jatibarang, dan sebagian terdapat pula di Banjarharjo.

“Perlu diketahui pula, dari sekitar 1,7 juta penduduk Brebes, sesuai data ini ada 70 persen yang bekerja di sektor pertanian. Bahkan tidak dapat dipandang sebelah mata, sektor ini menyumbang 53 persen Produk Domestik Regional Broto (PDRB) Kabupaten Brebes,” pungkasnya. (Gust)

LEAVE A REPLY