Mboyak, Bahasa Khas Blora Jawa Tengah

0
2292


Oleh Hamidulloh Ibda

 

Berbeda dengan bahasa Pati, bahasa asli Grobogan, dialek Rembang, bahasa asli Kudus, bahasa khas Jepara, bahasa khas Tuban, bahasa khas Ngawi, bahasa khas Bojonegoro, namun bahasa khas Blora Jawa Tengah juga memiliki ciri dan karakternya sendiri. Salah satu idiom unik di Blora adalah mboyak, bahasa khas Blora Jawa Tengah yang artinya “masa bodoh”.
Mboyak adalah satu ungkapan khas warga Blora yang menunjukkan ketidakpedulian. Bisa juga diartikan sebagai sikap acuh, sikap tidak peduli, sikap mengentengkan, sikap apatis, dan juga sikap meremehkan. Banyak banyak budaya yang terkandung dalam arti kata “mboyak” di Bumi Samin tersebut.
Seringkali, kita mendengar kalimat dari orang Blora berbunyi, “Ah mboyak, penting iso mangan”. Berbeda dengan dialek orang Pati, lebih memiliki ciri “em”. Misalnya, “Ah karepem dewe, penting iso mangan” atau terserah kamu sendiri yang penting bisa makan. Lain halnya pula dengan dialek Jepara, dialek Grobogan, dialek Kudus, dialek Rembang, dialek dan bahasa khas Demak, bahasa khas Semarang dan sebagainya.
Ungkapan Jawa yang masih satu akar makna dengan mboyak adalah mboh lah, wis ben kono, karepem dewe, alah mbuh, terserah kono  dan sebagainya. Mboyak, diucapakan ketika masyarakat melihat, mengetahui, memahami kejadian buruk atau kejadian yang sangat berat dipikirkan mereka. Akhirnya, mereka dengan enteng mengucapkan “mboyak ah” karena apatis terhadap sesuatu yang dihadapi.
Misalnya, masyarakat melihat DPRD kerjanya tak jelas, masyarakat bilang “mboyak ah”, atau melihat para pejabat korupsi juga bilang “mboyak” dan seterusnya. Mboyak diucapkan dan muncul sebagai idiom budaya atas kemurnian manusia terhadap perbuatan jahat. Tidak ada kata mboyak diucapkan untuk perbuatan jahat, tapi justru wujud protes terhadap kejahatan. Jadi jamaah mboyak adalah kumpulan orang yang tidak suka terhadap perbuatan jahat. Mengucapkan mboyak untuk melawan kejahatan adalah jihad melalui bahasa dan budaya.
Maka secara spekulatif kualitatif, mboyak bagi saya adalah kalimat thayyibah. Orang yang mengucapkan mboyak sebagai alat melawan kejahatan, pahala mereka sangat besar. Anjuran agama untuk mengucapkan kalimat thayyibah menjadi landasan untuk mengucapkan mboyak. Sebab, bahasa tidak memiliki agama, yang memiliki agama adalah orangnya. (Baca juga: Cara Mencintai Barongan Blora Seni Khas Blora).
Di dalam Islam, dianjurkan pertama kali untuk mengucapkan kalimat thayyibah adalah subhanallah, kemudian alhamdulillah, la ilaha illallah, allahu akbar, la khaula wala quwwa illa billah. Namun jika tidak kuat melihat kejahatan, langsung saja bilang “mboyak tenan”. Sebab, kekuatan orang berbeda-beda. Apalagi, orang Jawa dalam kondisi apa pun tetap bersyukur.
Melestarikan Bahasa Blora
Bahasa Blora harus dilestarikan, diagungkan, dikampanyekan sebagai salah satu spirit budaya dan spirit melestarikan kearifan lokal. Blora sebagai salah satu pusat budaya dan pusat seni di Jawa Tengah harus menjadi pioner kemajuan berbahasa. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang cinta pada bahasanya sendiri?
Dalam literatur linguistik, dialek dimaknai sebagai variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai. Misalnya, bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu. Dalam dunia bahasa, dialek terbagi atas dialek regional, sosial dialek dan dialek temporal serta dialek tinggi.
Dialek regional atau regional dialek cirinya dibatasi oleh tempat, misal dialek Sunda Bandung, dialek Jawa Blora, dialek Jawa Kendal, dialek Jawa Pati, dialek Jawa Kudus dan sebagainya. Kemudian, sosial dialek dipakai oleh kelompok sosial tertentu, misal dialek wanita dalam bahasa Blora. Temporal dialek adalah dari bahasa berbeda-beda dari waktu ke waktu. Misal apa yang lazim disebut bahasa Jawa kuno, Jawa klasik, dan Jawa modern, masing-masing adalah dialek temporal dari bahasa Jawa. Sedangkan tinggi variasi sosial atau regional suatu bahasa yang diterima sebagai standar bahasa itu dan dianggap lebih tinggi dadipada dialek-dialek lain.
Secara setting wilayah, sebenarnya tidak ada perbedaan antara dialek Blora dengan dialek Pati, dialek Jepara dan dialek Demak serta lainnya. Artinya, sama-sama berdialek Jawa khususnya dialek Jawa Tengah. Bahasanya adalah bahasa Jawa namun memiliki sub-sub dialek kedaerahan. Kalau di Blora berarti bahasa Jawa Blora, kalau Pati berarti ya bahasa Jawa Pati, di Kudus berarti bahasa Jawa Kudus dan sebagainya.
Gempuran globalisasi, saat ini mengakibatkan pemuda dan masyarakat Blora meninggalkan bahasa Jawa Blora. Mereka di dunia facebook, misalnya, lebih suka menggunakan bahasa alay atau penulis sering menyebut bahasa ora ceto. Bagi akademisi, pelajar dan mahasiswa, ironisnya juga sudah banyak yang bermental inlander dan menyukai bahasa orang lain, khususnya bahasa Inggris dan juga bahasa Arab.
Mental dan pikiran mereka terjajah dan tidak otentik asli Blora dan asli Jawa. Padahal, Tuhan menyuruh mereka menjadi orang Blora. Ironis, jika mereka mencintai bahasa orang lain. Di dalam penulisan dan menyatakan wujud cinta pada Blora saja, mereka menulis pakai bahasa asing, contohnya We Love Blora, I Love Blora, I Love Samin, I Love Saminista dan sebagainya.
Masak sih, untuk menyatakan cinta pada tanah kelahiran kok memakai bahasa orang lain? Pekok tenan. Orang sudah tidak percaya diri. Sudah tidak otentik, orisinil, dan bermental inlander karena lebih menganggap yang bisa berbahasa Inggris itu cerdas. Padahal, itu hanya jajahan dan wujud kebangkitan mental Kolonial Belanda yang sampai saat ini menjajah bahasa kita.
Meskipun demikian, di Blora masih banyak yang memakai bahasa khas Blora. Entah itu para guru yang sudah sepuh, para seniman barongan, wayang atau pun tayub dan sebagainya. Tapi, dengan kondisi seperti itu, saya tetap peduli dengan perselingkuhan bahasa yang sudah terjadi saat ini dan yang akan datang.
Kalau saja, banyak masyarakat tidak peduli dengan bahasa Blora sendiri, maka penulis pun kembali kepada karakter dan ekspresi budaya dasar masyarakat Blora. Dengan sedikit kesal, akhirnya dalam hati saya berkata; ah mboyak!

-Penulis adalah Peneliti Pendidikan Bahasa Indonesia pada Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here