Makna Guru Revolusioner dan Guru Profesional

8
125


Judul : Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?
Penulis : Hamidulloh Ibda dan Dian Marta Wijayanti
Penerbit : Kalam Nusantara
ISBN : 978-602-9731-9-9-6
Cetakan : Pertama, 25 November 2014
Tebal : xi+ 156 Halaman
Harga : Rp 40. 000
-Diresensi, Hakim Alif Nugroho, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Undip
Dari berbagai penelitian mutakhir, poros utama kemajuan pendidikan adalah guru. Sebagus apa pun kementerian, sistem, sarana pendidikan dan kurikulum, jika guru tidak bermutu maka pendidikan akan pincang (halaman vi). Ya, pendidikan bisa berjalan namun pincang jika gurunya biasa-biasa saja.
Menjadi guru bisa mudah dan sulit. Mudah jika ada modal, ilmu,  keseriusan tinggi, motivasi kuat dan tidak salah jurusan ketika kuliah. Maka Permendikbud Nomor 62 tahun 2013 tentang Sertifikasi Guru dalam Jabatan untuk Penataan Guru mewajibkan guru di Indonesia harus sesuai kualifikasi akademik (halaman vii).
Jika salah jurusan, maka hal itu menjadi kecelakaan akademik dan melahirkan guru “abal-abal”. Padahal saat ini Indonesia membutuhkan sosok guru revolusioner. Buku ini sangat membantu pembaca untuk menjadi guru revolusioner yang mampu menjawab tantangan zaman.
Selama ini banyak istilah yang disematkan pada guru, seperti guru profesional, ideal, impian dan unik (halaman 90). Semua itu porosnya hanya satu, yaitu guru profesional yang sesuai Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tentang Guru dan Dosen (UUGD). Padahal kondisi di Indonesia saat ini membutuhkan sosok guru revolusioner yang mampu melakukan perubahan mendasar dan menyeluruh (halaman 91). Guru tersebut adalah sosok revolusioner yang memiliki daya dobrak tinggi dan menjadi garda depan perubahan.
Jika UUGD hanya mewajibkan guru menjadi sosok profesional yang memenuhi kualifikasi akademik, memenuhi kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional serta menguasai 8 keterampilan mengajar, maka buku ini mengajak para guru untuk melampuai hal itu dan menjadi guru revolusioner.
Guru Revolusioner
Idiom di dunia pendidikan, selama ini yang paling tinggi adalah “guru profesional” sesuai UUGD tahun 2005. Namun, buku ini memberikan gagasan baru tentang “guru revolusioner”. Ya, secara sederhana, guru revolusioner di buku diartikan sebagai guru yang selalu berorientasi kepada perubahan yang mendasar, radikal dan menyeluruh.
Revolusioner, secara sejarah dimotivasi dari Aufklarung, Renaissance, Fathu Makkah, Revolusi Nasional Indonesia. Juga gagasan Ali Syariati tentang Rausyanfikr dan juga Ubermens yang digagas Friedrich Nietzsche.
Menurut penulis buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner? ini, sebenarnya guru revolusioner adalah guru impian, ia komplit dan derajatnya di atas guru profesional. Jika guru profesional itu hanya dalam tataran aturan, UUGD, regulasi, maka makna guru revolusioner itu lebih kepada sosok yang memiliki jiwa revolusi. Makna guru revolusioner adalah guru yang di dalam hati, pikiran dan jiwanya memiliki daya dobrak untuk menjebol tatanan yang ada.
Guru revolusioner memang sulit ditemukan. Apalagi penulis buku ini memberi kriteria yang sangat sulit dicapai. Di era global seperti ini, guru juga dihadapkan dengan masalah materi dan juga status. Polemik guru PNS dan honorer atau guru swasta juga menjadi masalah serius dalam dunia pendidikan.
Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner? ini membangkitkan semangat para guru di Indonesia. Namun mengapa guru SD? Karena bidikan penulis adalah guru SD yang selama ini selalu minder ketika dihadapkan dengan guru SMP dan SMA. Penulis menjelaskan, guru SD adalah kunci dan masa depan pendidikan Indonesia. (Baca juga: Beli Buku Siapkah Saya Menjadi Guru SD Revolusioner?).
Guru SD adalah guru pendidikan dasar yang menanamkan ilmu, moral, dan karakter juga bahasa pertama kali kepada anak. Jadi, sukses dan tidaknya pendidikan sebenarnya terletak di genggaman guru SD.
Buku Hamidulloh Ibda dan Dian Marta Wijayanti ini sangat memberi gelombang positif bagi pendidikan. Juga memberikan pemikiran dan konsep baru tentang pengertian guru revolusioner yang selama ini masih jarang muncul dalam pendidikan.
Semua guru sangat cocok membaca buku ini. Tak hanya guru SD, namun guru SMP, SMA dan para dosen serta mahasiswa PGSD, PGMI dan PG PAUD sangat cocok mengonsumsi buku terbitkan Kalam Nusantara ini. Saya sendiri, meskipun jurusan saya Ilmu Pemerintahan, namun saya suka terhadap buku ini, karena menguak makna dan sejarah revolusi dunia dan revolusi Indonesia.
Membaca buku ini, terasa seperti dihujani ilmu pengetahuan dan idiom-idiom yang membangkitkan gairah untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Selamat membaca!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here