Memaknai Ujian Nasional 2015 Tanpa Rencana

0
59


Oleh Dian Marta Wijayanti SPd
Guru SDN Sampangan 01 UPTD Gajahmungkur Kota Semarang
Memaknai Ujian Nasional 2015 tanpa rencana bisa dari sudut pandang apa saja. Bertahun-tahun Ujian Nasional (UN) muncul sebagai momok bagi pelajar SD, SMP, maupun SMA. Kecemasan pelajar dan orang tua terhadap hasil UN tidak dapat dihindari meskipun nilai UN bukan satu-satunya kriteria kelulusan pada tahun ini. Maka, berbagai cara dilakukan untuk bisa mendapat predikat “lulus”.
Anehnya, baru beberapa jam UN berakhir. Para pelajar seperti kehilangan arah. Setelah berbulan-bulan mereka digembleng di sekolah, mengikuti “private class”, dan begadang siang malam untuk belajar. Kebebasan menjadi bagian yang diidam-idamkan peserta UN sehingga ribuan cara dilakukan untuk merayakan pasca UN tersebut.
Beberapa hari yang lalu, di berbagai media ramai diperbincangkan undangan pesta bikini siswa SMA di Jakarta dengan motif Goodbye UN (SM, 28/04/2015). Hal itu telah menjadi perbincangan heboh. Banyak pihak yang “kontra” terhadap acara tersebut. Pesta bikini seakan menjadi “bencana baru” dalam momentum UN. Apakah UN sebegitu menakutkan pelajar sehingga mereka melampiaskan kebebasan hingga meninggalkan nilai-nilai moral yang seharusnya dijunjung tinggi?
Pesta “summer class” yang diselenggarakan oleh Divine Production merupakan titik kreativitas pihak yang tidak mendukung pendidikan moral di Indonesia. Setelah bersusah payah pemerintah menyusun kurikulum untuk memperbaiki moral bangsa, masih ada saja pihak-pihak yang memanfaatkan momentum bersejarah pelajar. Padahal jika ditelisik, kelulusan ujian belum diumumkan. Sementara banyak remaja di Jakarta yang dengan berbagai alasan mengikuti pesta budaya barat tersebut.
Pakaian adalah bagian dari jati diri bangsa. Khususnya bagi wanita, masyarakat tahu betul seperti apa pakaian “bikini” itu didesain. Apalagi jika yang menggunakannya remaja. Usia muda dengan lekuk tubuh yang indah tentu akan banyak menarik perhatian lawan jenis. Yang ditakutkan adalah meningkatnya penyebaran narkotika dan seks bebas di kalangan remaja.
Remaja adalah masa pencarian identitas. Lingkungan sangat mudah mempengaruhi sikap dan pola pikir remaja. Artinya, remaja harus pandai memilih lingkungan yang baik untuk perkembangan masa depannya.
Pasca UN
Pesta erat kaitannya dengan kegiatan berhura-hura dan menghamburkan uang. Jika banyak siswa yang tertarik pada acara “Splash After Class”, maka dapat digambarkan betapa bahagianya pelajar pasca UN. Seakan-akan UN adalah puncak akhir perjuangan mereka dalam meraih cita-cita. Padahal, UN adalah tolak awal untuk merajut cita-cita yang sebenarnya.
Keikutsertaan pelajar di acara “Splash After Class” merupakan bentuk lemahnya moral remaja. Berpakaian bikini dalam suatu pesta memang masih “tabu” di Indonesia. Tabu di sini bukan berarti ketinggalan zaman. Namun budaya Indonesia memang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kesopanan.
Sebagai generasi penerus bangsa, UN hendaknya disyukuri dengan cara positif. Masih banyak kegiatan-kegiatan positif yang bisa dilaksanakan setelah UN. Apalagi bagi peserta UN SMA. Mempersiapkan diri untuk mengikuti tes perguruan tinggi tentu lebih bermanfaat dari pada berhura-hura mengikuti pesta kolam renang tersebut.
Selain itu, bersyukur juga tidak harus dengan mengikuti pesta. Apalagi status “lulus” juga belum dikantongi oleh pelajar. Maka, tidak layak apabila pesta semacam itu dilakukan meskipun panitia penyelenggara berkilah pesta bikini hanya untuk 17 tahun ke atas.
Harapan
Menurut Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi menyatakan bahwa UN tidak efektif karena banyak pelajar merasa tertekan menjelang UN (Kompas, 12/5/2014). Rasa “tertekan” yang tidak disikapi dengan benar akan menimbulkan berbagai tindakan negatif oleh pihak yang bersangkutan. Sehingga sering diberitakan siswa melakukan bunuh diri setelah mengerjakan soal UN. Mereka takut menerima kenyataan “tidak lulus” karena malu di lingkungan masyarakat.
Ada harapan-harapan baru untuk pelaksanaan UN di tahun ini dan mendatang. Sebagai salah satu indikator kelulusan siswa, diharapkan UN dapat membawa signal positif. Jangan sampai UN justru menjelma sebagai benih kegundahan dan kecemasan yang berlebihan di kalangan siswa, guru, dan juga orang tua.
UN harus dipersiapkan secara matang tapi penuh perhitungan. Artinya, kita harus memperhitungkan kesehatan dan waktu. Banyak orang tua yang menekan putra-putrinya untuk terus menerus belajar tanpa mengenal baik. Meskipun tujuannya baik, tapi cara yang salah akan berefek buruk khususnya bagi anak.
Momok menakutkan UN sudah “membudaya”. Semua ini diakibatkan oleh respon yang berlebihan dari berbagai pihak. Andaikata UN disikapi dengan biasa, siswa tidak akan tertekan seperti sekarang ini. Santai tapi serius. Ini yang harus diterapkan dalam menghadapi UN.
Berbagai bencana pra dan pasca UN terus menerus terjadi dari tahun ke tahun. Kini saatnya memutus mata rantai tersebut. Mari, memulai UN tanpa bencana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here