Menduniakan Seni Cucuk Lampah Perempuan dalam Prosesi Nikah ala Heny Setyaningrum

0
854


Heny Setyaningrum.dok.
Dalam dunia seni, prinsip yang baik adalah menjadi pelopor, bukan pengekor, begitu pula dalam dunia prosesi resepsi pernikahan adat Jawa, khususnya Jawa Tengah. Hal itu sudah dilakukan Heny Setyaningrum, penari asal Kudus, Jawa Tengah yang kini duduk di semester empat jurusan Sendratasik Prodi Pendidikan Seni Tari FBS Universitas Negeri Semarang.
Awalnya, mahasiswa asal Kota Kretek ini hanya bergelut di dunia tari, akan tetapi dengan berjalannya roda kehidupan, banyak terobosan baru yang ia lakukan dalam hal seni dan tradisi Jawa, salah satunya adalah dengan melakukan seni Cucuk Lampah Perempuan yang saat ini sedang tren. Bahkan, Heny mengakui Cucuk Lampah Perempuan tergolong masih baru di Jawa.
Menduniakan Seni Cucuk Lampah perempuan dalam prosesi nikah ala Heny Setyaningrum ini berawal dari inisiatif dosen di kampusnya, yaitu Sayuti Anggoro, dosen jurusan Bahasa dan Sastra Jawa FBS Unnes. Perempuan yang akrab disapa Heny ini merupakan salah satu penari muda yang memiliki berbagai talenta yang mencintai seni tari sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Heny merupakan salah satu alumnus SMA 1 Jekulo Kudus yang terus mengembangkan bakatnya sejak kecil sampai sekarang. “Orang tua saya mendukung penuh karena tahu bakat saya adalah menari,” jelas dia, Senin (11/5/2015) di Semarang.
Saat kecil, Heny pernah belajar di SD Negeri 2 Sadang Kudus dan juga SMP Negeri 1 Jekulo Kudus. Sejak kecil, ia juga sering mengikuti berbagai lomba, salah satunya adalah Porseni SD di Kudus. “Saya juga pernah mendapat Juara 2 Lomba Tari Kretek Jateng DIY yang diselenggarakan oleh Sanggar Puring Sari dan Disbudpar Kudus,” kata dia.
Menari Sebagai Candu
Dengan spirit menduniakan seni tari, Heny juga mengangap menari adalah candu. Bagi perempuan tersebut, dengan menari, dia akan meras puas lahir dan batin. Tak heran, mahasiswi yang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Kreasi FBS Unnes ini pernah menari dan menguasai berbagai tari.
Perempuan yang aktif di event tari di Semarang tersebut juga sering menggelar dan aktif menjadi penyelenggara maupun panitia kegiatan seni tari. Salah satu kegiatan yang sukses adalah peringatan Hari Tari Dunia (Unnes Menari 2015) yang digelar di Unnes beberapa waktu lalu.
Meskipun dunia global menyeret pemuda untuk meninggalkan seni dan tradisi Jawa, namun bagi Heny tidak demikian. Sebab, meskipun hidup di tengah globalisasi, menari baginya adalah ruh hidup. Tak heran jika banyak deretan nama tari Jawa dan Nusantara ia hafal bahkan ia kuasai. 
Beberapa tari yang Heny kuasaisejak kecil adalah Tari Gembira, Tari Rodhat, Tari Payung, Tari Kijang, Tari Yapong, Tari Kupu-kupu, Tari Perang-perangan, Tari Badui, Tari Merak Sunda Bali, Tari Bondhan Tani, Tari Bondhan Kendi, Tari Golek Manis, Tari Denok, Tari Rebana Santri, Tari Abyor, Tari Kretek, Tari Bambangan Cakil dan sebagainya.

Tak berhenti di situ, waktu kuliah atau saat ini, Heny belajar Tari Tak Tok, Tari Sindung Lengger, Tari Prawesti, Tari Merak Ulin, Tari Gagahan Putra, Tari Golek Sri Rejeki, Tari Eka Prawira, Tari Topeng Gunung Sari, Tari Kandagan, Tari Gawil Satria, Tari Jejer Banyuwangi, Tari Saman, Tari Tiga Serangkai, Tari Piring, Tari Jaran Goyang, Tari Klana Topeng, Tari Golek Surung Dayung, Tari Klana Raja, Tari Pendhet, Tari Margapati, Tari Nelayan, Tari Srikandi Mutakaweni, Tari Srikandi Yudha dan sebagainya.
Akan tetapi, dari berbagai jenis tari di atas, dara cantik yang lahir pada 30 Oktober 1995 ini hanya menyukai satu tari saja, yaitu Gambyong. “Pokoknya saya suka tari Gambyong khas Jawa. Aku suka Gambyong karena musiknya halus dan enak ditarikan,” beber dia.
Heny, memang lahir bukan dari keluarga yang seratus persen penari. Sebab, ayahnya adalah  Pengawas di UPTD Pendidikan Mejobo Kudus, dan ibunya adalah Kepala SD Negeri 2 Sadang Kudus. Heny adalah anak ketiga dari keluarga yang sangat mendukung hobinya tersebut. “Sejak kecil yang paling mendukung saya adalah ibu untuk menggeluti dunia seni tari,” tandasnya.
Ibunda Heny sangat mendukung Heny untuk terus menggeluti dunia seni tari. Hingga sampai detik ini, Heny kecanduan menari. Bahkan, kalau tak menari dalam jangka waktu lama, ia akan pegal dan kurang semangat dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kalau belum menari, kata dia, pokoknya ada yang kurang gitu.
Bahkan, saat lulus SMA dan mendaftar di perguruan tinggi, Heny pernah diterima di UGM, namun ia tak tertarik dan justru tertarik di jurusan Seni Tari Unnes. “Dulu saya diterima di jurusan Pariwisata UGM, tapi saya memilih Pendidikan Seni Tari Unnes,” kata dia sambil menceritakan perjalanan pendidikannya. Selain menari, Heny juga bisa menyanyi. Ia lebih suka menyanyi solo song yang lebih dominan lagu-lagu modern.
Tradisi Cucuk Lampah
Menduniakan Cucuk lampah
Selain menari, sejak kuliah Heny juga tertarik untuk menduniakan dan mengkampanyekan seni Cucuk Lampah Perempuan. Cucuk Lampah adalah salah satu tradisi Jawa dalam prosesi pernikahan. Heny sangat tertartik menduniakan Cucuk Lampah Perempuan karena selama ini pelakunya adalah kaum adam.
Cucuk Lampah adalah prosesi simbolik dengan membuka jalan menuju kursi pelaminan saatresepsi pernikahan. Biasanya, orang Cucuk Lampah adat Jawa dilakukan laki-laki, namun Heny sudah melakukan Cucuk Lampah Perempuan, karena yang melakukan adalah perempuan.
“Ya Cucuk Lampah Perempuan ini memang belum dikenal banyak orang, karena biasanya laki-laki, jadi Cucuk Lampah Perempuan ini ya tergolong masih baru dan harus dikampanyekan kepada masyarakat,” terang dia.
Meskipun tergolong baru, Heny yakin bahwa Cucuk Lampah Perempuan tidak melanggar adat dan pakem Jawa. “Justru saat saya menjadi Cucuk Lampah banyak orang yang mengapresiasi dan tertarik,” tandas Heny.
Cucuk Lampah Perempuan tersebut, biasanya Heny lakukan saat ada job. “Saya kan ikut WO, jadi kalau pas ada nikahan, saya sering jadi Cucuk Lampah tersebut. Banyak orang tertarik, karena pelakunya perempuan, soalnya biasanya ya laki-laki yang menari di depan kedua pengantin,” ungkap perempuan tersebut.
Cucuk Lampah, menurut Heny bisa menolak bala atau keburukan. “Setahu saya ya tradisi Cucuk Lampah ini bisa menolak bala. Orang Jawa meyakini kalau Cucuk Lampah bisa menolak bala,” tegas dia.
Secara sederhana, Cucuk Lampah menurut Heny adalah pengiring pengantin. “Biasanya memerankan karakter panji saat Cucuk Lampah itu dilakukan,” beber Heny yang bercita-cita ingin menjadi dosen seni tari tersebut.
Dalam menari maupun melakukan Cucuk Lampah, hal pertama yang harus diketahui menurut Heny adalah karakter gerak. “Agar tidak lupa saat menari, penari harus mengenal karakter gerak,” jelas Heny yang juga ikut dalam Forum Kesenian Jawa tersebut.
Saat menjadi Cucuk Lampah Perempuan, Heny menari dari berbagai jenis tari yang ia kuasai. Pasalnya, dalam tradisi Cucuk Lampah, petugas Cucuk Lampah harus bisa dan hafal berbagai jenis tari Jawa dan tari Nusantara pada umumnya.
Biasanya, saat pengantin laki-laki dan perempuan menggunakan pakaian adat Jawa yang mau menuju di pelaminan, para penari Cucuk Lampah menari dengan daya dan tari yang unik khas Jawa. Biasanya, penari Cucuk Lampah mengantar pengantin ke pelaminan sambil menari dengan ditemani oleh dua orang pembawa kipas atau sering disebut pata.
Tak hanya mengampanyekan Cucuk Lampah Perempuan, Heny juga sudah menciptakan Tari Sluku-Sluku Batok yang durasinya enam menit. “Dinamakan Taro Sluku-sluku Batok karena lagu pengiringnya adalah Sluku-sluku Batok. Tari ini sengajar dibuat Heny untuk murid-muridnya lomba. Tari ini bisa dibawakan satu orang dan bisa dalam bentuk tim,” beber dia.
Saat ini, Cucuk Lampah memang menjadi seni dan budaya yang hampir punah. Padahal kesenian ini sangat menarik dan unik jiak didalami lebih lanjut. Di berbagai pernikahan yang digelar masyarakat Jawa terutama Jawa Tengah, hanya sedikit yang menggunakan Cucuk Lampah, karena sudah dianggap kuno dan tidak zamannya lagi.
Heny berharap, meskipun masih sedikit yang mengatahui apa itu Cucuk Lampah Perempuan, namun hal itu sudah dilakukan Heny di berbagai daerah. Ia berahap, inovasi dalam dunia seni yang ia lakukan tersebut mengembalikan kesadaran masyarakat atas pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi leluhur bangsa. Kalau tidak kita yang melestarikan tradisi Cucuk Lampah, lalu siapa lagi?
(Laporan Seni Harian Jateng/Foto: Heny).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here