Nglebak Blora, Desa Terpencil Pantas Jadi Desa Wisata Lintas Provinsi

0
Kantor Kepala Desa Nglebak Blora

Blora, Harian Jateng – Laiknya sastrawan, pantas kita menyebut Nglebak Blora, Desa terpencil di pucuk-pucuk kehidupan. Desa Nglebak memang pantas menjadi desa wisata di Blora lintas provinsi, bagi warga Blora Jawa Tengah dan Ngawi Jawa Timur dan sekitarnya.

Secara administratif, Nglebak adalah salah satu Desa yang statusnya di Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Di Desa Nglebak, terbagi atas empat dukuh, yaitu Dukuh Kalikangkung, Dukuh Nglebak, Dukuh Plumbon dan Dukuh Ngandong. Lokasinya berdekatan dengan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur yang sangat dekat dengan sungai Bengawan Solo dan juga sungai Bengawan Madiun.

Hidup di daerah perbatasan provinsi, memang tak seindah yang dikhayalkan, karena selain terpencil, sangat sulit mendapatkan sinyal ponsel dan sinyal internet di Desa Nglebak tersebut.

Kegiatan warga dengan hasil panen padinya

Dari penjelasan Bambang, Kamituwo Desa Nglebak, jumlah Kepala Keluarga (KK) di Desa Nglebak sampai 2015 sekitar  600 KK. “Ada sekitar 6 ribu penduduk dari 600 KK,” ujar dia kepada Harian Jateng, kemarin saat ditemui di rumahnya di Dukuh Kalikangkung, Nglebak, Blora.

Menurut dia, kondisi masyarakat mulai maju ketika banyak yang berpindah ke luar kota atau menjadi perantauan, baik di dalam maupun  luar negeri.

“Ya kalau tetap di sini, warga ya gak maju-maju, wong Alun-alun Blora dan nama Bupati Blora saja banyak yang tidak tahu,” ujar pria yang bertempat tinggal di dukuh Kalikangkung tersebut.

Letak Desa Nglebak, memang secara administratif menjadi salah satu wilayah Jawa Tengah paling Selatan yang berbatasan dengan Jawa Timur yaitu Dukuh Megeri Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

“Di sini itu listrik baru ada sekitar empat tahun yang lalu, sampai saat ini sinyal HP juga susah, kalau mau beli apa-apa juga harus pergi ke Ngawi,” beber dia.

Banyak juga dan hampir 90 persen, pelajar di Nglebak menempuh pendidikan di Ngawi. “Lebih susah lagi bagi perangkat desa dan guru, kalau ada apa-apa harus ke Blora Kota,” beber dia.

Masjid Al Hudda di Desa Nglebak

Kalau ingin ke lokasi Desa Nglebak, bisa lewat Randublatung memutar ke Cepu, Bojonegoro dan Ngawi. Jarak tersebut ditempuh kira-kira 27 KM atau 3 jam. “Kalau sini ke Ngawi itu 7 KM,” kata Bambang.

Kalau dari Randublatung langsung ke lokasi tanpa memutar lewat Jawa Timur itu bisa, kata dia, namun mobil susah lewat sana. Jalanannya pun terjal, kata Bambang kepada harianjateng.com, lewat jalur Kradenan-Ngawi. Hampir 90 persen penduduk, berpengahasilan dari tani.

Menurut Bambang, jika dijadikan Desa Wisata, sangat layak. Sebab, di sana hutannya masih asri, lanjut Bambang kepada harian jateng, itu pun percampuran hutan Blora dan Ngawi.

Selain itu, di sana juga dekat dengan Sungai Bengawan Solo dan Sungai Bengawan Madiun. “Di sini juga ada dua PLTS yang baru beroperasi beberapa tahun ini,” beber dia.

Potensi alam yang masih asri, membuat desa ini sangat layak dikonsumsi para wisatawan. Apalagi, perjalanan ke sana sangat menantang dan harus menempuh bebatuan terjal.

Meskipun terpencil, justru nilai eksotisme suatu desa sangat tinggi, karena jarang terjamah media massa dan dipublis di media nasional.

(Laporan Khusus Harian Jateng/Foto: harian jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here