Kaoya, Makanan khas Pati yang Melegenda

14
Kaoya di dalam toples

Kaoya merupakan salah satu makanan khas Pati yang sangat melegenda. Sebab, banyak pemuda di Pati yang awam dengan makanan yang selalu hadir saat memontum Lebaran Idul Fitri ini. Selain nasi gandul dan getuk ruting, petis runting, Pati memang memiliki kuliner yang sangat beragam dan menarik.

Kaoya rasanya sangat manis, dan ketika Anda sudah memakannya, pasti banyak yang menempel di gigi. Keunikan inilah, yang menjadikan warga Pati membuat Kaoya saat acara tasyakuran pernikahan, khitanan dan sangat ramai saat momentum Lebaran Idul Fitri.

Tak hanya Pati, sebenarnya kaoya juga banyak dijumpai di daerah eks Karesidenan Pati, seperti Rembang, Blora, Jepara, Kudus dan juga Grobogan. Akan tetapi, bedanya, kaoya khas Pati lebih besar dan rasa manisnya lebih terasa.

Jika dibandingkan dengan kaoya Blora, secara struktur bentuknya, kaoya khas Pati lebih besar dan tepungnya lebih halus. Sebab, kaoya khas Blora lebih kasar dan bentuknya tipis.

Resep dan Cara Mambuat Kaoya
Bagi warga Pati, resep dan cara membuat Kaoya memang sudah diketahui para sesepuh, namun banyak pemuda khususnya perempuan yang tidak tahu. Bahan dasar Kaoya adalah beras ketan, kelapa muda, gula pasir atau ada yang menggunakan gula merah.

Cara membuatnya yang pertama adalah menggoreng beras ketan, yaitu digoreng dengan wajan dari tanah, bukan memakai minyak goren. Kedua, setelah digoreng tanpa minya, tepung tersebut diselep, kemudian dicampur dan dimasak dan gula pasir, terus dicetak dengan cetakan dari kayu. Setelah dicetak, kemudian dikeluarkan dengan cara dipukul dengan palu dan keluarlah Kaoya siap saji.

Sebagian besar masyarakat Pati memakai cetakan dari kayu sesuai jenis, bentuk dan seleras masing-masing. Akan tetapi, banyak dijumpai cetakan Kaoya di daerah Rembang dan Blora memakai cetakan agar-agar.

Biasanya, Kaoya disajikan dimasukkan ke dalam toples. Kaoya merupakan salah satu khazanah kuliner khas Pati yang patut dilestarikan. Sebab, makanan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu dan sampai saat ini masih dilestarikan warga Pati. Akan tetapi, jarang orang yang mengetahui sejarah dan cara membuatnya.

(Laporan Kuliner Harian Jateng/Foto: Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here