Alquran adalah Kitab Menyesatkan, Apa Maksudnya?

16
Para pembaca Alquran

Banyumas, Harian Jateng – Alquran adalah kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman hidup bagi semua umat Islam di dunia. Namun bagi M Yudhie Haryono, Direktur Eksekutif Nusantara Centre mengatakan bahwa Alquran adalah kitab yang menyesatkan sekaligus mencerahkan.

Baca juga: Pria Ini Nilai Nabi Ibrahim adalah Nabi Kriminal, ini Alasannya.

“Tidak ada buku baru yang melebihi Alquran dalam menyesatkan manusia. Yang tersesat karenanya hampir mencapai jumlah yang tersesat karena buku Injil. Ditinjau dari segi kebahasaan, Alquran berasal dari bahasa Arab yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang,” ujar dia, Rabu (23/9/2015).

Kata Alquran, kata dia, adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Ia dibaca oleh para Arabis seakan-akan Tuhan dan Muhammad yang hadir. Ia dibaca dan dianggap menyelesaikan problem pembacanya.

“Ia bahkan dibaca seakan-akan bisa mengobati problem bangsa. Replikasi Tuhan, Muhammad, obat dan solusi adalah posisi Alquran kini,” papar dia.

Padahal, ujar dia, Muhammad sendiri sebagai pembuatnya tak pernah berniat sejauh itu. Sebab, lanjut dia, Alquran hanya kompilasi dari obrolan-obrolan, consensus-konsensus, cerita-cerita, mimpi-mimpi, model-model, modul-model, gambaran-gambaran dan modus.

“Sejarah Alquran adalah sejarah kejadian. Ia tak lahir dari ruang kosong. Karenanya ia cacat tempat, waktu dan agensi. Tak aplikatif di semua tempat, waktu dan generasi. Hanya pada si dungu, sebuah buku lebih mulia dari nalar. Hanya pada si miskin, sebuah buku lebih berharga dari harga dirinya. Hanya pada si palsu, sebuah buku lebih mahal dari revolusi tekhnologi dan pengetahuan,” jelas penulis buku Alquran Kitab Menyesatkan Sekaligus Mencerahkan tersebut.

Hanya pada si jahil, lanjut dia, ia dihafal dan dijadikan mantra pencari rezeki. “Ia membentuk ketersesatan centrifugal sekaligus centripetal sehingga menjadi kebenaran yang mistis mitologis. Hanya pada si cerdas, sebuah buku tetap buku, tak lebih hebat dari buku darmogandul atau novel karya si anu,” pungkas dia.(Red-HJ33/Foto: Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here