Ini Sejarah Pasar Kelembak Terbesar di Wonosobo

2
Pedagang pasar  Kembaran, Desa Kembaran, Kecamatan Kalikajar sedang menunjukkan kondisi pasar Kembaran, Selasa (1/11/2015).

Wonosobo, Harian Jateng – Sejarah Pasar Kelembak terbesar di Wonosobo, Jawa Tengah perlu diketahui publik. Pasalnya, Wonosobo memiliki sejarah yang baik dalam bidang pertanian. Sebab, dahulunya ada pasar-pasar besar yang menjual hasil pertanian berupa kelembak dan juga bawang putih. Pasar tersebut adalah Pasar Kembaran, Kecamatan Kalikajar, Wonosobo.

Ditemui Harian Jateng, Jamjuri pedagang dipasar Kembaran, Desa Kembaran menjelaskan, keberadaan pasar Kembaran, Desa Kembaran, Kecamatan Kalikajar menyimpan sejarah kejayaan pada tahun 1970.

Sebab, dulu menurut Jamjuri, pernah menjadi sentra kelembak terbesar di Indonesia. Saat itu, sekitar tahun 1970 sampai 1980  warga di lereng Gunung Sumbing banyak yang menanam kelembak. Pasalnya, mereka tidak kebingunan untuk menjualnya karena sudah ada pasar yang diburu dari pedagang berbagai daerah di Indonesia.

“Pada tahun 1970 an sangat ramai dikunjungi pedagang dari berbagai daerah. Karena, pasar Kembaran merupakan pasar yang menampung kelembak dari petani dilereng Sumbing,” katanya.

Pedagang yang memburu kelembak ke pasar Kembaran itu berdatangan dari Sumatera, Kalimantan, Jawa Barat, dan Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kedatangan mereka untuk membeli kelembak asli kembaran.

“Dulu setiap hari ada ratusan pedagang yang mendatangi pasar Kembaran. Karena, mereka membutuhkan kelembak,” beber dia.

Petani asal Bowongso, Kecamatan Kalikajar, Umar mengaku, pernah menanam kelembak. Karena, kelembak merupakan tumbuhan penghasil bahan obat dan wangi-wangian.

“Jadi yang  dimanfaatkan adalah akarnya. Akar klembak menjadi komponen dalam rokok “klembak menyan” yang populer di kalangan masyarakat menengah ke bawah,” ujar dia.

Selain itu, kata Umar, Kelembak juga dijadikan campuran dalam pembuatan jamu. Khasiat obatnya adalah sebagai pencahar. Akar dan batangnya dipakai untuk mengobati sembelit dan membantu mengatasi penggumpalan darah dan nanah.

“Dulu diburu karena digunakan untuk obat dan juga bahan rokok. Sekarang sudah tidak ada lagi petani yang menanam kelembak, karena sudah tidak menjanjikan,” ujarnya. (Red-HJ99/Foto: Mil/Harian Jateng).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here