Dilema Taxi Grab/Uber

0
 Lutfi Bakhtiyar

Oleh: Lutfi Bakhtiyar
Penulis lepas, kini tinggal di Tokyo

Fenomena kericuhan demo sopir taxi beberapa waktu lalu sepertinya hanya menunggu waktu terjadi di Jawa Tengah.

Meski pelayanan Taxi beraplikasi seperti Grab dan Uber sepertinya sudah bisa di Asia Tenggara seperti Singapura dan Thailand. Namun tak pelak perubahan tata cara bisnis yang cepat ini mengundang kontroversi hingga akan membahayakan bila tidak disikapi dengan hati-hati.

Dan dari awalpun sharing ekonomi bukan bertujuan komersil, hanya berlaku antar teman, peer to peer. Persis seperti mobil saya yang dipinjam teman kemudian diberi imbalan, 100% tidak akan bermasalah.

Sebenarnya di Indonesia sharing ekonomi bahkan lebih maju seperti dalam budaya ngenger. Seseorang menginap di rumah saudaranya agar menghemat ekonomi. Lebih luas lagi, pesantren-pesantren tradisional menggratiskan para santrinya untuk mondok.

Budaya gotong-royong dan tepo sliro ini, ternyata ditemukan juga pada pemikiran masyarakat Industry terutama saat mereka melakukan community developmet.

Tetapi, dalam memahami konteks pemikiran negara Industry harus ditekankan pada perbedaan dengan masyarakat Indonesia agar kita tidak tersesat pada westernisasi saat melakukan modernisasi.

Masyarakat negara Industry dicirikan dengan menipisnya ikatan solidaritas karena kebanyakan mereka yang tinggal disuatu tempat adalah para pendatang, seperti penghuni kompleks perumahan ataupun rumah susun dsb. Persis seperti yang pernah dijelaskan oleh Ferdinand Tonnies tentang gesellschaft (masyarakat patembayan).

Penulis melakukan penelitian di Jepang (2004-2007) tentang Community Currency System, menemukan sebuah fenomena budaya “tepo sliro dan gotong royong yang diuangkan”.

Mereka menciptakan uang sendiri sebagai pembayaran pada bagi peserta gotong-royong. Tentunya uang ini hanya bisa dipakai ditempat-tempat yang telah ditetapkan agar masyarakat yang telah memberikan jasanya memperoleh keadilan. Ada yang diberikan dalam bentuk kupon, dicatat dalam buku juga uang elektronik, laiknya kartu kredit yang mencatat setiap transaksi.

Intinya, dalam setiap gotong royong di negara Industri diperlukan sebuah imbalan dalam bentuk uang. Bagi mereka yang belum mengenal CCS bisa menggunakan uang biasa meski seikhlasnya. Persis pembayaran seikhlasnya kalau meminjam mobil teman.

Masalahnya kemudian, terjadi komersialisasi sharing ekonomy. Pada kenyataannya, pengguna jasa Taksi Uber/Grab bukanlah sanak-family ataupun teman tetapi customer biasa, padahal pengelola Grab/Uber hanyalah penyedia jasa aplikasi.

Kemudian, taxi Grab/Uber adalah milik pribadi atau taxi gelap dengan imbalan komisi. Status mereka bukanlah karyawan Grab/Uber.

Hingga saat ini sepertinya praktik Uber/grab tidak ada masalah. Namun untuk jangka panjang, praktik ini akan menghancurkan industrialisasi taxi, phk besar-besaran. Sementara driver Uber/Grab pun tidak memiliki masa depan karena mereka pekerja freelance pastinya akan sulit dimintai pertanggungjawaban bila customer dirugikan.

Dari sisi konsumen, menggunakan jasa Grab/Uber laksana bermain api yang akan berbahaya jika membesar nanti.

Sedang dari sisi pengambil kebijakan, mereka jelas pencuri. Andai dibiarkan, meskipun masyarakat akan mendapatkan kemudahan transportasi tetapi akan mematikan industrialisasi transportasi yang legal. Sama seperti membunuh angsa emas karena ingin mendapat lebih banyak telornya. Killing the goose that lays the golden eggs.

Namun demikian, konsumenpun ingin menikmati peningkatan pelayanan dari industri taxi yang murah dan mudah, hingga persiapan yang baik sebelum Taxi Uber/Grab dibolehkan untuk beroperasi.

Tokyo, 24 Maret 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here