Higroponik di Klaten Makin Diminati

0
Pengembangan hidroponik di Klaten.

Klaten, Harianjateng.com – Ada banyak kendala saat TNI Kodim Klaten, melaksanakan TMMD Reguler di Desa Panggang, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Diantaranya, minimnya ketersedaiaan air di desa tersebut, sementara selama TMMD ratusan prajurit  tinggal bersama warga desa setempat, sehingga sehari-harinya akan membutuhkan air yang jumlahnya tidak sedikit. Belum lagi, di proyek betonisasi jalan juga membutuhkan air yang tidak sedikit pula.

Belum lagi kendala sulitnya mencari sinyal HP di Desa Panggang, sehingga menjadi kendala untuk koordinasi antara desa sasaran TMMD dengan Makodim Klaten. Tidak jarang, sejumlah anggota Pendim Klaten mengemukakan, mereka harus memakai kurir jika ingin melakukan koordinasi tertentu dengan Kodim Klaten yang jaraknya dengan Desa Panggang sekitar 17 Km.

Hanya saja tampaknya semua kendala itu dijadikan sebuah tantangan bagi  Dandim 0723/Klaten, Letkol Inf. Bayu Jagat dan jajarannya untuk mensukseskan TMMD di Desa Panggang. Tidak saja di pelaksanaan proyek fisik dan non fisik, melainkan ada nilai lebih yang harus “dipancangakan” di sebuah desa di lereng Gunung Merapi itu, dibalik pelaksanaan TMMD Reguler ke-96.

Komandan Kodim 0723/Klaten, letkol Inf. Bayu Jagat lantas mencari peluang yang bisa dikembangkan di desa sasaran TMMD, sehingga ada nilai lebih. Adalah,  Istri Kades Panggang,  Ny. Sri Susilowati Msi, yang ternyata  seorang  tokoh yang memprakarsai tanaman Hidroponik di Kabupaten Klaten.

Selama ini Ny. Sri Susilowati telah sukses  mengembangkan beberapa jenis tanaman yang tidak membutuhkan media tanah dan air yang banyak. Diantaranya,  Selada, Kangkung, Tomat, Daun Mint dan sejumlah tanaman lainnya.

Dan inspirasi tanaman Hidroponik yang ada di Desa Panggang itulah oleh Dandim Bayu Jagat dinilai sebuah peluang  yang harus digarap untuk menciptakan nilai tambah di arena TMMD Reguler ke -96.

‘’Tidak ada salahnya khan, saya memikirkan   kebutuhan sayuran warga Desa Pangggang yang tahun ini menjadi desa sasaran TMMD Reguler ke-96 Kodim 0723/Klaten,’’ ungkapnya ketika ditemui disela-sela cek lapangan pelaksanaan TMMD komandonya. .

Perlu Didorong
Menurutnya,  tanaman Hidroponik, di Desa Panggang, Kecamatan Kemalang yang telah diprakarsai oleh  Ny. Sri Susilowati Msi,  layak sangat perlu didorong pengembangannya. Mengingat di wilayah itu sulit ditemukan sumber air, dan itu yang mengakibatkan warga desa setempat selama ini  sulit untuk  mengembangkan bercocok tanam.

‘’Tanaman dimaksud bisa tumbuh dengan tidak memerlukan air yang banyak, sehingga sangat pas dikembangkan di Desa Panggang khususnya, dan di wilayah Kecamatan Kemalang pada umumnya,’ tandas Dandim Bayu Jagat.

Menurutnya, dengan pengembangan  tanaman Hidroponik tersebut,  akan dapat meringankan segi ekonomi masyarakat Desa Panggang khusunya di bidang pangan. Melihat  potensi wilayah tersebut sangat sulit untuk bercocok tanam.

Gayung bersambut. Ny . Sri Susilowati Msi sendiri sudah lama berobsesi bahwa tanaman hirdropnik yang diprakarsainya itu, bisa dikembangkan untuk industri rumahan bagi semua warga Desa Panggang. Menurutnya, jika saja di setiap halaman rumah warga Panggang ada dibudayakan  tanaman hidroponik, minimal kebutuhan sayuran harian masing-masing warga bisa terpenuhi.  ‘’Sementara Pak Dandim Bayu Jagat juga bertekad untuk mendorongnya, kami akan sepakat sekali,’’ ungkapnya.

Sementara itu, potensi tanaman Hidronik yang diprakarsai oleh istri Kades Panggang, ternyata dipandang positif  juga oleh sejumlah anggota Satgas  TMMD  Kodim Klaten.  Dengan berbaurnya TNI dengan masyarakat memang  diharapakan akan terjadi subsidi silang sebagai contoh Sistem Hidroponik tersebut.

Karena personel yang ditugaskan dalam program TMMD di Desa Panggang,  adalah dari satuan Satuan tempur (Satpur) dan satuan Bantuan tempur (Satbanpur) yang mayoritas masih tinggal di Asrama, mereka berinisiatif  untuk mempelajari tanaman hidroponik. Mereka merencanakan, adanya  hidroponik bisa dimanfaatkan oleh para prajurit guna di implementasikan di satuan nanti. Hal ini cukup masuk akal, mengingat untuk lahan bercocok tanam di asrama juga sangat terbatas.

Istilah hidroponik (hydroponics) digunakan untuk menjelaskan tentang cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Di kalangan umum, istilah ini dikenal sebagai “bercocok tanam tanpa tanah”. Di sini termasuk juga bercocok tanam di dalam pot atau wadah lainnya yang menggunakan air atau bahan porous lainnya, seperti pecahan genting, pasir kali, kerikil, maupun gabus putih.

Dahulu, peneliti yang bekerja di laboratorium fisiologi tumbuhan sering bermain-main dengan air sebagai media tanam dengan tujuan uji coba bercocok tanam tanpa tanah. Sebagian orang menganggap metode itu sebagai aquakultur (bercocok tanam di dalam air). Uji coba tersebut ternyata berhasil dan patut diberi acungan jempol sehingga banyak ahli agronomi yang terus mengembangkan cara tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya, media air diganti dengan media yang lebih praktis, efisien dan lebih produktif. Cara kedua ini lebih mendapat sambutan dibandingkan cara yang hanya menggunakan media air. Oleh karenanya, pada perkembangan selanjutnya, teknik itu disebut hidroponik. Hidroponik ini kemudian dikembangkan secara komersial.

Sejarah Hidroponik
Menurut literatur, bertanam secara hidroponik telah dimulai ribuan tahun yang lalu. Seperti diceritakan,  ada taman gantung di Babilon dan taman terapung di Cina yang bisa disebut sebagai contoh Hidroponik.  Di Mesir, India dan Cina, manusia purba sudah kerap menggunakan larutan pupuk organik untuk memupuk semangka, mentimun dan sayuran lainnya dalam bedengan pasir di tepi sungai.

Terakhir pada tahun 1936 istilah hidroponik lahir, istilah ini diberikan untuk hasil dari Dr. WF. Gericke, seorang agronomis dari Universitas California, USA, berupa tanaman tomat setinggi 3 meter yang penuh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral hasil uji cobanya.

Sejak itu, hidroponik yang berarti hydros adalah air dan ponics untuk menyebut pengerjaan atau bercocok tanam, dinobatkan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat tumbuhnya.

Gericke ini menjadi sensasi saat itu, foto dan riwayat kerjanya menjadi headline surat kabar, bahkan ia sempat dinobatkan menjadi orang berjasa abad 20. Sejak itu, hidroponik tidak lagi sebatas skala laboratorium, tetapi dengan teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa saja termasuk ibu rumah tangga. Jepang yang kalah dari sekutu dan tanahnya tandus akibat bom atom, pada tahun 1950 secara gencar menerapkan hidroponik. Kemudian negara lain seperti irak, Bahrain dan negara-negara penghasil minyak yang tanahnya berupa gurun pasir dan tandus pun ikut menerapkan hidroponik.  (Red-HJ99).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here