Isu Harga Rokok Naik, Buruh di Kudus Diminta Tak Galau

0
Ilustrasi: Para buruh rokok saat bekerja di pabrik.

Kudus, Harianjateng.com –  Kepala Unit PR Gentong Gotri Kudus Agus Suparyanto mengatakan bahwa buruh rokok di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, diminta tidak perlu merisaukan isu kenaikan harga rokok Rp50 ribu karena hingga kini belum ada aturan soal itu.

“Sepanjang belum ada perubahan aturan, terutama Undang-Undang tentang cukai tentu kenaikan harga rokok yang fantastis tersebut masih sebatas isu,” ujarnya di Kudus, Senin (22/8/2016).

Dampak yang bakal dirasakan buruh di sektor industri hasil tembakau, kata dia, ketika ada kenaikan harga rokok seperti itu, tentunya akan ada rasionalisasi buruh khususnya buruh rokok sigaret kretek tangan (SKM).

Untuk itu, kata dia, sepanjang belum ada perubahan Undang-Undang maupun aturan lainnya wacana harga rokok tersebut tidak perlu dirisaukan.

Masyarakat di Kabupaten Kudus yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari sektor rokok, kata dia, akan sangat merasakan dampaknya ketika ada kenaikan tarif cukai yang fantastis karena bisa berimbas terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) buruh yang jumlahnya cukup banyak.

“Hampir 60 persen penduduk di Kudus menggantungkan hidupnya dari sektor industri hasil tembakau (IHT),” ujarnya.

Ketika ada PHK, kata dia, tentunya harus ada yang bertanggung jawab, termasuk pemberian pesangon buruh karena terdampak kebijakan.

Selain itu, kata dia, sejumlah sektor usaha yang selama ini menggantungkan usahanya terhadap kemajuan industri rokok juga akan ikut terpengaruh.

Ia mengaku, lebih memfokuskan upaya agar penjualan rokoknya bisa meningkat, dibandingkan memikirkan wacana kenaikan harga rokok yang fantastis tersebut.

Ketua Harian Persatuan Pengusaha Rokok Kudus Agus Sarjono menambahkan, wacana kenaikan harga rokok yang cukup tinggi tersebut merupakan hasil kajian akademisi.

“Jika ada kenaikan, tentunya dibarengi dengan aturan yang cukup jelas, seperti halnya aturan soal perubahan tarif pita cukai rokok yang selama ini sering terjadi setiap tahunnya,” ujarnya.

Menurut dia, sektor industri hasil tembakau memang tidak pernah berhenti mendapatkan tekanan, meskipun demikian kebijakan pemerintah selalu dipatuhi. (Red-HJ99/ant).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here