Pemimpin Berani dan Penerobos

1
Armanto Abas

Oleh Armanto Abas

Penulis adalah Presiden Mahasiswa Unimus Semarang

 

Lepas dari belenggu rezim otoritarian, kampus  kita sangat mendambakan pe­mimpin yang benar bekerja untuk mahasiswa. Laku politiknya didasarkan pada kepen­tingan  mahasiswa banyak, yang memiliki empati dan sanggup memberikan contoh dari apa yang telah dikatakan.

 

Hampir gejala pesimistis merenggut kampus tercinta  kita, akibat nihilnya pemim­pin transformatif pemimpin transformatif menjadi pembi­caraan hangat di tengah konsolidasi demokrasi, saat mesin kaderisasi organisasi mahsasiswa intra kampus/ORMAWA tidak berjalan dengan baik. Keadaan  ini diperpa­rah dengan banyaknya kasus kurangnya suport terhadap kegiatan kegiatan mahasiswa, Bapak Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan harusnya melihat ini sebagai peluang di mana membangkitkan semangat organisasi mahasiswa tanpa diskriminatif atau pilih kasih, mengaktifkan kembali perran  pembina UKM-UKM yang selama ini dianggap pasif menjadi solusi bersama untuk mewujudkan ormawa berkemajuan.

 

 

Gejala anomali ini terus ber­langsung dan sangat nampak . Sehingga sikap apolitis terhadap politik terus mencuat, kepercayaan terhadap pemimpin menurun. Boleh dikata kita butuh pemimpin berani  dan penerobos. Seperti yang dika­takan Menteri Luar Negri BEM Universitas Muhammadiyah Semarang Arif Wibowo atau Bang Arif bahwa pemimpin itu berani dan penerobos.

 

 

Pemim­pin harus menerabas ancaman dan kepentingan sempit untuk membela kaum tertindas, dan menerobos tembok pikiran, tembok budaya, serta tembok perilaku yang menghalangi manusia untuk menjadi manusia manusiayang utuh dan paripurna.

 

 

Ada tokoh –  tokoh transformatif Indonesia yang lahir pasca-reformasi. Tidak menu­tup kemungkinan tokoh-tokoh  ini merupakan contoh nyata dari apa yang disebut sebagai “pemimpin transfor­matif”. Apa yang mereka katakan, itu pula yang dilakukan. Mereka bekerja, melayani, mempelajari masalah, dan menawarkan solusi bagi persoalan bangsa. Komunikasi yang dibangun bukan instruksi gaya “birokrat lama” melainkan memberikan teldan untuk menggerakkan orang.

 

 

Misalnya, Anies Baswedan konsen dalam dunia pendidik­an, sehingga ia menggagas dan menggerakkan anak-anak muda terbaik bangsa untuk terjun ke pelosok Nusantara, tujuan­nya untuk mengajar di sekolah-sekolah terpencil. Gerakan ini yang kemudian diberi nama Gerakan Indonesia Mengajar. Ridwan Kamil yang lahir dari kalangan minoritas memiliki integritas tinggi memerangi korupsi, lon­catan politiknya sekarang menjdi wali kota Bandung. Kang emil dikenal orang yang ceplas-ceplos, berani dan terbuka pada  rakyatnya. Sedangkan, ada lgnasius Jonan yang mampu mengubah wajah kereta api Indonesia.

 

 

Dengan begitu, ke depan Universitas Muhammadiyah semarang dan In­donesia tidak perlu khawatir akan mandeknya calon pemim­pin. Paling tidak kita bisa me­nyebut hal paling utama lahir­nya pemimpin transformatif. Pertama, mereka itu adalah sosok yang memiliki kemampuan refleksi memadai. Artinya pe­mimpin harus memiliki dua ke­sadaran sekaligus dalam proses refleksivitas, yakni kesadaran diskursif (discursive conscious­ness) dan kesadaran praktis (practical consciousness ).

 

 

Kedua, memiliki basis asketisme dalam laku kepemimpinannya. Artinya, pemimpin harus mampu mempraktikkan kesederhana­an, kejujuran dan kerelaan ber­korban. Tindak-tanduknya bu­kan menjual massa tapi mem­proyeksikan tindakannya demi kamaslahatan rakyat/mahasiswa  banyak. Ketiga, harus memiliki per­forma kerja dan komunikasi memadai. Performa kerja dili­hat dari reputasi dan agenda kerja, keduanya tak bisa dipi­sahkan. Misalnya, reputasi ter­kait dengan cara pandang masyarakat/ mahasiswa atas sosok pemimpin dengan segala macam atribut­nya.

 

 

Sementara agenda kerja terkait dengan program nyata saat ini dan ke depan. Performa pemimpin sudah seharusnya mengacu pada jati diri pemimpin yang menginsiprasi banyak orang. Jika pemimpin secara dominan terjebak dalam politik pencitraan saja, maka akan selalu menciptakan hiperealitas. Hiperealitas politik yaitu menghadirkan reality by proxy yang lahir dari ketidak­mampuan kesadaran dalam membedakan antara realitas dan fantasi. Semoga ini menjadi pemantik mengasa logika berfikir agar bisa membedakan realistis dan fantasi.

Hidup mahasiswa!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here