Hevearita: Khusus Pasar Johar Kita Perlakukan Spesial

1
Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu (kanan) saat menyampaikan sambutan dalam Seminar Nasional Detail Engineering Design (DED) Revitalisasi Pasar Johar Semarang bertajuk "Rekonstruksi Kritis Peran dan Fungsi Aktivitas Ekonomi Kota Semarang" di gedung Lawang Sewu, Kamis (24/11/2016).

Semarang, Harianjateng.com –  Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menegaskan bahwa pembangunan Pasar Johar yang direncanakan dibangun pada tahun 2017 akan dikhususkan dari sisi anggaran. Sebab, pada tahun 2017, Presiden Joko Widodo membuat kebijakan tidak boleh membangun pasar besar.

 

“Pada intinya Pemkot Semarang sangat mensupport pembangunan Pasar Johar Kota Semarang. Memang kebijakan Pak Presiden Jokowi di tahun 2017 tidak ada pembangunan pasar besar, tapi Pasar Johar ini khusus dan kami prioritaskan,” ujar Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dalam Seminar Nasional Detail Engineering Design Revitalisasi Pasar Johar Semarang bertajuk “Rekonstruksi Kritis Peran dan Fungsi Aktivitas Ekonomi Kota Semarang” di gedung Lawang Sewu, Kamis (24/11/2016).

 

 

Apalagi, menurut Ita, persiapan sudah sampai Detail Engineering Design (DED) yang berlangsung dan mengonsep persiapan matang untuk pembangunan Pasar Johar di tahun 2017 mendatang.

 

 

Ita, sapaannya, juga mengakui bahwa pedagang Pasar Johar selama ini memang tidak neko-neko. “Pedagang pasar di Semarang memang tidak neko-neko. Tapi kita juga jangan dioyak-oyak, karena kita juga punya regulasi dan kalau tidak tepat akan dapat surat cinta dari APH. Tapi pada intinya, kami munsupport dengan pembangunan Kota Semarang,” lanjut dia.

 

 

Sementara itu, Prof. (Em). Mohammad Danisworo guru besar arsitek dari ITB, menegaskan jika mau membangun pasar, maka harus mengutamakan aspek konservasinya. “Kalau mau membangun pasar, maka harus menggunakan etika konservasi,” beber guru besar kelahiran Semarang tersebut.

 

 

Sedangkan Dr. Ir Ramalis Sobandi ST MT pakar pasar menegaskan bahwa jika DED sudah siap secara fisik, maka harus diimbangi dengan persiapan DED lingkungan sosial dan ekonomi. Sebab, ketiganya menurut dia harus padu. “DED itu bagian fisik lingkungan, kan ada prisma tadi ya ada tiga hal. Kalau secara fisik sudah sampai DED, maka sosial harus sampai DED juga,” tutur dia.

 

 

Nah kalau dari sudut ekonomi juga harus jelas, lanjut Ramalis, yang grosir berapa, jumlah pedagang jelas, jualannya apa, karena apa, ruang itu nggak kaku, karena tempat parkir bisa jadi tempat pameran dan kegiatan lain.

 

 

Ia juga menjelaskan, dalam pasar tradisional banyak sekali penguasanya. Jika ingin mengondisikan penguasa itu, maka pemerintah harus bisa merangkulnya. “Penguasa pasar kan banyak ya, ada paguyuban, preman, jagoan parkir, rentenir, copet, itulah penguasa pasar,” papar dia.

 

Dalam kegiatan tersebut, hadir Prof Ir Totok Rusmanto M.Eg yang menjadi moderator, dengan keynote speaker Prof. (Em). Mohammad Danisworo dan Dr. Ir Ramalis Sobandi SE MT yang membahas konsep pengembangan Kawasan Johar, Detail Perancangan Arsitektur Bangunan Cagar Budaya (BCB) Pasar Johar dan Detail Perancangan Arsitektur Bangunan Baru Pasar Johar. Selain itu, hadir dari perwakilan dinas terkait dan tamu undangan dari berbagai kalangan. (Red-HJ99/HI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here