Berani dan Bersatu untuk Kemajuan

8
Arif Wibowo

Oleh Arif Wibowo

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu keperawatan dan Kesehatan dan Menteri Luar Negri BEM Unimus

 

 

Lepas dari belenggu rezim otoritarian, kampus  kita sangat mendambakan pe­mimpin yang benar bekerja untuk mahasiswa. Laku politiknya didasarkan pada kepen­tingan  mahasiswa banyak, yang memiliki empati dan sanggup memberikan contoh dari apa yang telah dikatakan.

 

Hampir gejala pesimistis merenggut kampus tercinta  kita akibat nihilnya pemim­pin transformatif Pemimpin transformatif menjadi pembi­caraan hangat di tengah konsolidasi demokrasi, saat mesin kaderisasi organisasi mahsasiswa intra kampus/ORMAWA  tidak berjalan dengan baik. Keadaan  ini diperpa­rah dengan kurangnya suport anngaran terhadap kegiatan kegiatan mahasiswa, dan menaikan anggaran Dana Pengembangan mahasiswa / DPM di tiap ormawa ini adalah salah satu komitmen saya untuk maju menjadi calon presiden mahasiswa,

 

Gejala anomali ini terus ber­langsung dan sangat nampak . Sehingga sikap apolitis terhadap politik terus mencuat, kepercayaan terhadap pemimpin menurun. Boleh saya katakan sudah saatnya berani dan menjadi garda terdepan dalam  memperjuangkan  hak hak mahasiswa serta memenuhi kewajiban mahasiswa.Pemim­pin harus menerabas ancaman dan kepentingan sempit untuk membela mahasiswa, dan menerobos tembok pikiran, tembok budaya, serta tembok perilaku yang menghalangi mahasiswa untuk menjadi manusia manusiayang cerdas.

 

Ada tokoh –  tokoh transformatif Indonesia yang lahir pasca-reformasi menjadi inspirasi saya untuk maju menjadi calon presiden mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang. Tidak menu­tup kemungkinan tokoh-tokoh  ini merupakan contoh nyata dari apa yang disebut sebagai “pemimpin transfor­matif”. Apa yang mereka katakan, itu pula yang dilakukan. Mereka bekerja, melayani, menganalisis masalah, dan menawarkan solusi bagi persoalan bangsa. Komunikasi yang dibangun bukan instruksi gaya “birokrat lama” melainkan memberikan teladan untuk menggerakkan orang.

 

Misalnya, Anies Baswedan konsen dalam dunia pendidik­an, sehingga ia menggagas dan menggerakkan anak-anak muda terbaik bangsa untuk terjun ke pelosok Nusantara, tujuan­nya untuk mengajar di sekolah-sekolah terpencil. Gerakan ini yang kemudian diberi nama Gerakan Indonesia Mengajar. Ridwan Kamil yang lahir dari kalangan minoritas memiliki integritas tinggi memerangi korupsi, lon­catan politiknya sekarang menjdi wali kota Bandung. Kang emil dikenal orang yang ceplas-ceplos, berani dan terbuka pada  rakyatnya. Sedangkan, ada lgnasius Jonan yang mampu mengubah wajah kereta api Indonesia.

 

Dengan begitu,  saya tidak muluk muluk dalam berbicara tentang VISI MISI  dan program kerja tetapi saya sudah mengkonsepkan VISI MISI dan Program kerja yang efektif dan efisiensi berdasarkan landasan landasan substansi persoalan mahasiswa, dan kajian intlektual yang mumpuni ke depan ORMAWA Universitas Muhammadiyah semarang akan kita benah bersama dan akan kita bawah bukti karya atau cipta nyata untuk indonesia yang berkemajuan .

Performa pemimpin sudah seharusnya mengacu pada jati diri pemimpin yang menginsiprasi banyak orang. Jika pemimpin secara dominan terjebak dalam politik pencitraan dan menjelek jelekan calon lain  saja, maka akan selalu menciptakan hiperealitas. Hiperealitas politik yaitu menghadirkan reality by proxy yang lahir dari ketidak­mampuan kesadaran dalam membedakan antara realitas dan fantasi. Semoga ini menjadi pemantik mengasa logika berfikir agar bisa membedakan realistis dan fantasi dan menetukan pilihan yang benar serta tidak terjebak oleh publikasi kata kata manis ataupun pajang foto lebay dan alay di sosial media.

Hidup mahasiswa!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here