Rebo Wekasan di Kudus, MI NU Matholi’ul Falah Tunjukkan Prestasi

0
Salah satu pertunjukan di panggung Rebo Wekasan di Jepang, Kudus.

Kudus, Harianjateng.com – Pada malam kelima Rebo Wekasan di Desa Jepang, Kudus, Jawa Tengah menjadi suguhan yang sangat menarik pada panggung seninya,terbukti dengan tiap malam hadirnya pengunjung dari berbagai wilayah di Kudus bahkan juga ada dari luar kota yang rela menyempatkan waktunya untuk Rebo Wekasan.

Stand-stand bazar juga menjadi sasaran utama oleh para pemburu oleh-oleh untuk menjajakan dan berbelanja di stand bazar.

Namun yang menjadi sorotan utama adalah panggung seni dengan desain panggung yang terbuat dari anyaman bambu dengan ciri khas yang melekat pada masyarakat Desa Jepang dengan penghasil anyaman yang terbuat dari bambu.

Dalam panggung yang berukuran 4×8 meter persegi tersebut tiap malam selalu menghadirkan pertunjukan seni yang selalu ramai jadi perhatian masyarakat.

Namun kadang juga panggung yang bernuansa coklat itu menjadi panggung yang sangat mengerikan bagi para pemula untuk ikut serta dalam pentas seni,selain penontonya yang sangat banyak Rebo Wekasan Jepang juga diikuti oleh seniman yang sangat luar biasa.

Minggu malam kemarin pada Minggu (27/11/2016, MI NU Matholi’ul Falah menampilkan seni rebana klasik juga penampilan da’i cilik yang berhasil memukau publik.

Salah satu peserta, Luthfi mengatakan bahwasanya ini adalah penampilan yang pertama kali MI NU Matholi’ul Falah dan terbilang sangat sukses. “Hal ini juga sebagai penampilan kelanjutan setelah kemarin anak-anak berhasil menjuarai lomba se Kabupaten Kudus serta Da’i cilik juga juara 2 tingkat Kabupaten beberapa waktu lalu,”imbuhnya.

Selain MI NU Matholi’ul Falah juga banyak penampilan dari RTQ dan sekolah-sekolah lain yang bernaung di Desa Jepang,dan ajang pentas seni Rebo Wekasan juga digunakan para sekolah-sekolah untuk berlomba mengadu bakat antara satu sama lain.

 

Selerti halnya arip mahasiswa STIBI asal Pati,ini menjadi menarik dan kearifan lokal yang harus tetap dijaga juga perlu pelestarian.

Mahasiswa jurusan Sejarah dan Budaya Islam tersebut sangat senanng ketika pertama kalli menginjakkan kaki di Desa Jepang. “Pandangan pertama kali saya tertuju pada bangunan Gapura Paduraksa yang terlihat kokoh selain gapura Masjid yang juga peninggalan wali juga saya amati,masih dengan nuansa kuno yang melekat,ini bisa jadi referensi buat teman-teman di STIBI untuk melakukan kunjungan sejarah dan kebudayaan lokal karena kami (STIBI) ada dengan jurusan sejarah,”tuturnya. (Red-HJ99/hms).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here