Pertahun, Pemrov Jateng Beri 3,5 Miliar untuk Desa Wisata

19
Prasetyo Aribowo (kanan) dalam acara Collaborative Destination Development (CDD) bertajuk “Religious, Nature, and Herritage Tourism Destination at Central Java” di lantai 7 Crowne Plaza Hotel Semarang, Rabu (7/12/2016).

Semarang, Harianjateng.com – Tiap tahun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, mengalokasikan dana sebesar Rp. 3 miliar sampai Rp.3,5 miliar untuk pengembangan desa wisata yang ada di Jawa Tengah.
“Anggaran untuk desa wisata di Jateng itu Rp. 3 miliar sampai Rp. 3,5 miliar pertahunnya. Kegiatannya, berupa pelatihan marketing wisata, kemudian bantuan untuk desa wisata yang berjumlah 126 itu. Kita juga fasilitasi untuk studi banding di desa wisata seperti Bali. Kita juga bantu pembuatan website agar memudahkan untuk promosi,” beber Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah Prasetyo Aribowo yang mewakili Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam acara Collaborative Destination Development (CDD) bertajuk “Religious, Nature, and Herritage Tourism Destination at Central Java” di lantai 7 Crowne Plaza Hotel Semarang, Rabu (7/12/2016).

Di Borobudur itu, lanjut dia, sudah laku keras lewat website. “Di sana ada yang namanya desa bahasa. Sistemnya untuk wisatawan berbentuk paket wisata. Paketannya, 10 hari bisa Bahasa Inggris. Jadi di sana, wisatawan dipaksa berbahasa Inggris tiap hari. Saya kira, ke depan akan menarik jika semua desa wisata memiliki konsep seperti itu,” papar Prasetyo Aribowo.

Pihaknya juga mencontohkan Desa Wisata Kandri di Kota Semarang. Menurut dia, ke depan Pemkot Semarang bisa memaksimalkan desa wisata itu dengan berbagai desain menarik agar menyedot jutaan wisatawan.
Sementara itu, Hevearita Gunaryanti Rahayu Wakil Walikota Semarang yang mewakili Walikota Semarang Hendrar Prihadi, menegaskan bahwa untuk wisata Kota Semarang, saat ini Pemkot sudah menggenjotnya di berbagai hal. Hevearita mencontohkan di Kota Lama Semarang. “Kota Lama misalnya, di Kota Lama tidak bisa para penghuninya ditiadakan. Sebab di sana harus ada kehidupan, karena di sana kan ada perkantoran, ada asrama Kodam, pokoknya ada kehidupan agar tetap bagus,” beber dia.

Jadi di tahun 2016 ini, lanjut Ita, kita membangunkan kesadaran pada pemilik gedung. “Tapi di 2016 ini sudah ada 26 bangunan Kota Lama yang dikonservasi. Nanti kita juga akan kita ajak pegiat wisata, untuk melakukan kegiatan-kegiatan menarik,” papar dia.
Ia membeberkan, di Kota Semarang banyak sekali even maupun kegiatan yang mendukung promosi wisata. “Kita juga ada CFD, festival, jadi ke depan kami harap pasti kota lama akan bisa meraih word herritage di tahun 2020,” harap Ita.

Selain Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo yang mewakili Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan Hevearita Gunaryanti Rahayu Wakil Walikota Semarang yang mewakili Walikota Semarang Hendrar Prihadi, hadir pula Priyo Jatmiko GM Bandara Ahmad Yani Semarang dalam acara tersebut. Hadir pula berbagai kalangan yang ikut berdiskusi dalam Collaborative Destination Development (CDD) bertajuk “Religious, Nature, and Herritage Tourism Destination at Central Java” tersebut. (Red-HJ99/HI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here