Hoax dan Badan Siber Nasional

1

Oleh Yuniar Riza

Penulis adalah Mahasiswa Program Sarjana (S-1) Ilmu Hukum FH UII, aktif di Forum Kajian dan Penulisan Hukum (FKPH) LEM FH UII

 

Berita hoax kian mewabah dan mendapat reaksi yang cukup mencengangkan dari berbagai kalangan. Seperti cuitan mantan Presiden ke-6 RI melalui akun twitter pribadinya beberapa waktu lalu, “Ya Allah, Tuhan YME. Negara kok jadi begini. Juru fitnah & penyebar “hoax” berkuasa & merajalela. Kapan rakyat & yg lemah menang?”.

Tak dapat dipungkiri pemerintah melalui  Kemenkumham RI  hendak menyegerakan pembentukan Badan Siber Nasional (BSN), lantaran kinerja lembaga yang telah ada dianggap belum optimal menangani wabah penyakit media.Mengutip pernyataan Warren G. Bennis (1996), birokrasi telah menjadi usang (bureaucracy has become obsolete), maka untuk mengatasi matinya birokrasi (death of bureaucracy)diberbagai negara dibentuklah lembaga-lembaga baru yang diharapkan lembaga-lembaga baru tersebut dapat bekerja lebih efisien.

BSN yang ditargetkanterbentuk tahun 2017 ini perlu di apresiasi dan di dukung. Lantaran kasus-kasus yang terjadi di dunia maya seperti penyadapan rahasia negara, masifnya penyebaran konten/berita hoax, penipuan dalam lalu-lintas e-commercebelum sepenuhnya teratasi. Selama ini fungsi pengawasan dan penertiban lalu-lintas informasi elektronik tersebar di berbagai lembaga, sehingga kinerjanya tidak maksimal.

Justifikasi

Terdapat beberapa justifikasi yang menjadi pembenar pembentukan BSN ini. Pertama, negara Indonesia dibangun berdasar sendi kemanusiaan yang adil dan beradab (Sila-2). Kehadiran negara dalam konsepsi negara kesejahteraan (welfare state) menuntut negara bertanggung jawab terhadap urusan-urusan masyarakatnya. Melalui badan ini pemerintah akan lebih optimal dalam merawat adab dankepribadian luhurmasyarakat.

Kedua,negara Indonesia dijalankan atas dasar hukum (Pasal 1 ayat 3 UUD NRI 1945). Studi ilmu hukum mengenal apa yang disebut dengan sistem hukum (legal system), yaitu komponen-komponen yang saling terkait dalam pelaksanaan hukum. Komponen tersebut salah satunya adalah struktur hukum (legal structure),yaitu komponen “penggerak” hukum. Sub-sistem struktur hukum ini antara lain lembaga, badan, atau institusi, dan pihak-pihak yang bertanggungjawab menjalankandan menegakkan hukum. Kehadiran BSN sebagai komponen struktur sangat berpotensi dapat mengoptimalkan penegakan hukum, khususnya ketertiban dalam lalu-lintas media.

Ketiga, aktivitas masyarakat semakin berkembang di tengah jaminan kebebasan dan luasnya lalu-lintas informasi dan komunikasi. Tak pelak hal ini menimbulkan masalah baru bagi keberlangsungan kehidupan bernegara. Tersadapnya RI oleh Australia beberapa tahun lalu, meningkatnya penyebaran konten-konten bermuatan kebencian, fitnah, penipuan, asusila, kekerasan, bahkan disintegrasi sangat menghambat proses pembangunan nasional.

Tujuan pembentukan BSN direncanakan untuk memayungi seluruh kegiatan siber nasional termasuk mengkoorinir siber diberbagai institusi (Kemenhan, Kepolisian, BIN), menekan maraknya penyebaran berita hoax, meningkatkan pertahanan keamanan, dan menertibkan perdagangan elektronik.

Catatan

Kendati demikian jangan sampai kehadiran BSNdimanfaatkan sebagai sarana untuk menjustifikasi tindakan anti kritik oleh penguasa. Pembentukan BSN harus disertai instrumen untuk menentukan kriteria informasi yang bermuatan hoax.Instrumen tersebut setidaknya memperjelas perbedaan antara pernyataan yang bersifat “mengkritik” dan pernyataan yang bersifat “mengujar kebencian/fitnah/bohong”, memperjelas parameter “pelanggaran ITE” dan “kebebasan berpendapat”, memperjelas karakteristik konten berita yang bermuatan hoax (misalnya, tidak disertai sumber yang valid, tidak bisa diverifikasi,dll.).

Kehadiran BSN diharapkan menjadi jawaban atas belum efektif dan efisiennya penangkalan penyimpangan dan pelanggaran lalu lintas elektronik oleh lembaga yang ada sebelumnya. Sehingga mulai Tahun 2017 ini lalu-lintas elektronik akan semakin tertib, aman dan mengarah pada kemanfaatan. (*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here