Polemik Tol Semarang-Batang, Warga Kendal Kembali Demo

0
123
Suasana audiensi

Kendal, Harianjateng.com – Ratusan warga masyarakat Kabupaten Kendal terkena dampak proyek nasional pembangunan Jalan Tol Semarang – Batang, bersama dengan Jaringan Masyarakat Kendal (JAMAK), kembali lakukan aksi demo di depan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kendal, Kamis (09/02/2017).

 

Ratusan warga masyarakat tersebut bersama dengan JAMAK, melakukan aksi demo kembali karena janji – janji yang dulu blm di penuhi terkait pendataan ulang, baik tanah, bangunan, tanaman.

 

Dalam orasinya para pendemo meminta kepada BPN yang remi atas permasalahan – permasalahan pembangunan proyek nasional Semarang – Batang yang ada di Kabupaten Kendal.

 

JAMAK meminta kepada BPN yang resmi sebagai ketua tim pengadaan tanah, Tolak Waskita untuk menyewa lahan masyarakat sebelum ganti rugi layak diselesaikan, segera selesaikan komplain masyarkat mengenai validitas objek ganti rugi, baik tanah, bangunan dan tanaman, musyawarah tentang bentuk dan besaran ganti rugi secara transparan dan bebas dari intimidasi oknum satker dan BPN serta mafia tanah, segera selesaikan ganti rugi yang layak sesuai dengan pagu anggaran APBN secara transparan dan adil, serta bebas dari praktek mafia tanah dan minta pertanggungjawaban Kepala Daerah dan DPRD untuk mendukung tuntutan masyarakat. (tanggung jawab moral pemerintah daerah).

 

Salah satu perwakilan dari warga Kartika Nur Sapto menyampaikan, yang jelas memang apa yang terjadi masih jauh dari apa yang mereka bayangkan, harga yang disampaikan oleh pihak apraisial kewarga masih rendah, karena mereka jual rumah buat beli rumah lagi nggak cukup, itulah yang menginspirasi masyarakat berkomitmen untuk tetap memperjuangkan minta haknya.

 

“Untuk permintaan warga sendiri di kaliwungu yang terkena pembebasan Jalan Tol, untuk harga tanah didalam sekitar 800 kalau 400 blm cukup. Kalau tempat tanahnya di luar sekitar 1 sampai 2 jutaan,” tegas dia.

 

Sedangkan Heri Fathurahman, kepala BPN Kendal menanggapi dengan menyampaikan, permasalahan ini adalah permasalahan dinamika data yang diawali dalam artian seperti itu, seperti yang disampaikan oleh teman – teman pendamping masyarakat tadi agar kinerja kita bisa lebih baik dalam masalah data.

 

“Dinamika masalah data itu adalah baik data yang dimiliki masyarakat maupun data fisik itu sendiri. Data fisik itu dalam artian peta yang disajikan adalah peta yang cukup lama yaitu  peta pada tahun 2014 dan staknan proses yang begitu terhenti. Disinilah ada dinamika – dinamika data yang berubah – ubah dilapangan seperti adanya pewarisan hak dibawah tangan. Dengan kejadian ini memang ada hikmah dan nanti kita akan jalin komunikasi dengan masyarakat dan pendamping masyarakat,” beber dia. (Red-HJ99/Heri).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here