Nasionalisme Ekonomi

0

Top of Form

Bottom of Form

Top of Form

Oleh M Yudhie Haryono

Direktur Eksekutif Nusantara Centre

Mari mulai dari kisahku. Sengaja menemuinya dan bertanya ngalor-ngidul. Dari yang sangat serius sampai yang bercanda. Pakde, “apa yang akan dilakukan di 2017 saat duite di APBN makin tipis?” tanyaku penuh gurau. “Mudah, jawabmu.” Aku naikin pajak, naikin tarip, naikin hutang dan hapus subsidi (fungsi negara). Yah. Tak ada gagasan baru. Tak ada terobosan jenius. Kuasa tanpa kekuasaan. Menikmati krisis tanpa kritis.

 

Selanjutnya, kita bisa mulai dengan pertanyaan, “mengapa kini kita panen krisis (ekopol)?” Dengan mengkompilasi data, kita bisa menjawabnya dengan tesis: krisis merupakan anak tangga dari konflik. Dan, konflik merupakan hulu dari kemenangan ideologi neoliberal. Karena itu, hilirnya adalah profit taking and acumulate capital.

 

Jahat sekali bukan?

Jadi, krisis adalah metoda, cara dan siasat perampokan dan penjarahan semata dari oligark kepada kaum paria. Tidak lebih dan tidak kurang. Sebab itu kehadirannya didukung oleh sistem, tekhnik, perangkat, watak, doktrin dan agensi. Terutama agensi yang punya mental hewan (animal spirit) yang brutal, serakah dan irasional.

 

Sejak kpn sejarah perampokan dan penjarahan ini bermula? Tentu saja sejak bermetamorfosenya wajah old colonialism berwatak teritorial ke wajah new colonialism berwatak kurs dan utang (bonds).

 

Kita tahu, surat utang merupakan piranti fiskal (depkeu) sedang percetakan uang merupakan piranti adrenalin (bank sentral). Karena kini keduanya diisi oleh agensi neoliberal maka gejolak dan krisis selalu dimulai dari dua institusi tersebut dng instrumen utang dan jebakan kurs.

 

Tentu saja ada penguatnya. Yaitu rapuhnya struktur ekonomi kita karena mengalami denasionalisasi dan deindustrialisasi. Praktis kini kita hanya punya ekonomi distribusi dan konsumsi. Pada negara yang tak kuat industri dan produksinya maka warganegaranya hanya jadi budak. Mental budak yang kini menjadi elite negara mengakibatkan nonproduktif dan tidak mampu merancang industri sendiri sesuai kondisi dan kebutuhannya.

 

Akhirnya kita menjadi tanah jajahan bagi pemodal asing/aseng yang menentukan industrinya sesuai selera global. Kita lalu dikendalikan oleh asong (begundal lokal kaki tangan asing/aseng) yang lebih sadis.

 

Ingat, pada negara merdeka, konflik dan krisis sebisa mungkin dihindari. Pada negara modern, konflik dan krisis dicari solusinya. Pada negara predatoris, konflik dan krisis diciptakan (terus menerus). Itu artinya, jika Anda berkuasa dan memilih, pilihlah model negara merdeka sesuai konstitusi. Agar negara merdeka dan terhindar dari konflik plus krisis ekonomi maka perkuat nasionalisasi dan industrialisasi sebagai roadmapnya.

 

Lalu, apa itu nasionalisme ekonomi? Ini adalah idealisme yang berorientasi kpd tindakan pengelolaan ekonomi yang lebih mengutamakan proses pelipatgandaan nilai tambah sumber daya ekonomi nasional yang memberikan nilai guna bagi sebesar-besarnya kesejahteraan dan kemakmuran seluruh warganegara: dari, oleh dan untuk semua warganegara.

 

Landasannya yaitu setiap kehidupan berekonomi harus memiliki ciri/identitas, cita-cita/idealisme yang berbeda2. Identitas tersebut harus dipertahankan karena merupakan properti dan prasyarat kedaulatan. Logika ini memberikan satu isyarat bahwa sistem ekonomi dan pengelolaannya tidak bisa diseragamkan dan tidak bisa didekte agar mengikuti doktrin sistem ekonomi dari negara dan bangsa lain.

 

Terlebih, tugas nasionalisme ekonomi kita juga jelas dan berbeda dng bangsa lain: 1)Membunuh kemiskinan, kebodohan, kepengangguran, kesakitan, ketimpangan, konflik, krisis, ketergantungan dan keterjajahan.2)Menumbuhkan jiwa dan mental merdeka, mandiri, modern dan martabatif kapanpun dan di manapun plus oleh siapapun.3)Memastikan posisi Indonesia sebagai pusat peradaban mulia.

 

Tanpa roadmap dan mental nasionalisme ekonomi, tugas presiden hanya mencekik warganya: naikin hutang, naikin tarif, naikin pajak, naikin iuran, hapus subsidi (tugas negara). Itulah keseharian dik Jokiwi kini.

 

Lalu, apa tugas kita kini? Mulai jihad dengan kata dan kalimat. “Wahai sekalian manusia, barangsiapa mengetahui sesuatu maka hendaklah mengatakan apa yang diketahuinya, dan barang siapa tidak mengetahui maka hendaklah ia mengatakan, wallahu a’lam” (Allah lebih mengetahui).” Selanjutnya, revolusi angkat senjata.(*)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here