Mencegah Depresi Postpartum Dengan Dukungan Keluarga

0

Harianjateng.com- Peringatan Hari Kesehatan Sedunia yang diperingati pada tanggal 7 April tahun 2017 ini mengambil tema khusus yaitu depresi (depressive disorder/clinical depression) suatu penyakit psikis yang ditandai dengan rasa sedih dan putus asa yang dialami di waktu-waktu tertentu, yang merupakan reaksi normal dalam menghadapi masalah, namun perasaaan ini akan menjadi sangat berbahaya pada tingkat akut jika berlangsung selama beberapa hari bahkan bermingu-minggu dan dianggap sebagai suatu masalah serius yang harus ditangani dengan lebih serius. Salah satu kalangan yang sering mengalami depresi adalah wanita yang baru saja melahirkan atau yang biasa disebut dengan depresi postpartum.
Depresi postpartum merupakan suatu masalah serius yang dapat dialami wanita setelah melahirkan. Selain menimbulkan akibat-akibat yang merugikan (adverse effects) yang langsung dirasakan oleh wanita yang mengalaminya, depresi postpartum dapat menimbulkan efek buruk jangka panjang yang tidak hanya merugikan wanita penderita, tapi juga bagi seluruh anggota keluarganya.
Faktor resiko terjadinya depresi post partum diantaranya adalah kurangnya dukungan sosial dan dukungan keluarga serta teman, kekhawatiran akan bayi yang sebetulnya sehat, kesulitan selama persalinan dan melahirkan, merasa terasing dan tidak mampu, masalah/perselisihan perkawinan atau keuangan, kehamilan yang tidak diinginkan.
Menurut penulis terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi faktor resiko terjadinya gangguan psikologis pada ibu hamil dan ibu pasca persalinan (postpartum).
Pertama, pemberian dukungan dari suami, keluarga, lingkungan, maupun professional seperti dokter kandungan atau bidan selama kehamilan, persalinan dan pasca persalinan dapat mencegah depresi dan mempercepat  proses penyembuhan. Dukungan tersebut akan memberikan keyakinan kepada ibu untuk menjalani peran barunya. Ibu akan merasa lebih percaya diri dan merasa diperhatikan sehingga ibu akan lebih bahagia dengan persalinannya.
Kedua, mencari tahu tentang gangguan psikologis yang mungkin terjadi pada ibu hamil dan ibu yang baru saja melahirkan sehingga jika terjadi gejala dapat dikenali. Suami dan keluarga juga harus mengetahui tanda gejala gangguan tersebut sehingga dapat segera bertindak apabila terjadi kegawatdaruratan.
Ketiga, konsumsi makanan sehat,istirahat cukup, dan melakukan olahraga minimal 15 menit perhari. Olahraga ringan seperti berjalan kaki di pagi hari bersama suami juga dapat menjaga suasana hati tetap baik. Selain itu suami juga berperan sebagai pengingat ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisina dengan tetap mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
Keempat, mencegah pengambilan keputusan yang berat selama kehamilan. Hal tersebut mencegah ibu mengalami stress sehingga dapat menimbulkan dampak psikologis yang berkepanjangan. Selain itu suami dan keluarga juga harus turut berperan dalam setiap pengambilan keputusan ibu, serta menjadi partner sharing ibu ketika terjadi suatu masalah.
Kelima, mempersiapkan diri secara mental dengan membaca buku atau artikel tentang kehamilan dan persalinan,serta mendengarkan pengalaman wanita lain yang pernah melahirkan dapat membantu mengurangi ketakutan. Primigravida atau ibu yang baru pertama kali hamil sering mengalami kecemasan akan perubahan-perubahan yang terjadi kepada dirinya selama kehamilan dan bahkan setelah melahirkan. Oleh karena itu dengan membaca pengetahuan tentang kehamilan maupun persalinan serta mendengarkan pengalaman wanita lain akan membuat ibu mendapatkan gambaran serta membuat ibu menjadi lebih siap menghadapi peran barunya sebagai ibu.
Keenam, menyiapkan seseorang untuk membantu keperluan sehari-hari (memasaka,membersihkan rumah,belanja,dll). Hal ini bisa dikerjakan oleh asisten rumah tangga maupun dengan meminta bantuan dari anggota keluarga lainnya. Dukungan tersebut akan membuat pekerjaan ibu menjadi lebih ringan dan ibu dapat fokus menjalani tugas barunya dalam mengurus anaknya.
Melalui dukungan keluarga tersebut diharapkan seorang ibu dapat menjadi lebih siap dalam menjalani tambahan perannya. Selain itu, keluarga terutama suami dapat turut berperan aktif dalam proses persiapan kehamilan maupun persalinan. Dengan demikian peran sebagai orang tua baru tidak hanya dirasakan oleh ibu namun juga oleh seluruh keluarga

Tesha Rosyida Nur Agustina Mahasiswa jurusan kebidanan AKBIT Yogyakarta

Red-HJ99

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here