Wali Kota Semarang Pimpin Prosesi Dugderan Menyambut Bulan Suci Ramadhan

2
132

Semarang, Harianjateng.com- Puluhan ribu orang padati halaman Balaikota Semarang hingga meluber ke Jalan Pemuda Kota Semarang saat ikuti Dukderan yang dilaksanakan pada Selasa (15/05/2018).

Mereka terlihat sangat antusias menonton tarian ragam warna dugder yang dipertontonkan oleh puluhan orang berpakaian tradisional Jawa. Sambil terus bergerak lincah mengikuti irama lagu gamelan khas budaya Semarang, puluhan penari tersebut menjunjung pula empat patung warak yang ikut dibawa bergoyang ke kanan dan ke kiri sesuai gerak tariannya.

Pertunjukan tarian ragam warna dugder itu menjadi pembuka prosesi Kirab Budaya Dugderan. Prosesi yang diikuti tak kurang dari 2.300 peserta pada tahun ini, merupakan sebuah tradisi masyarakat Kota Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Nama ‘Dugderan’ sendiri diambil dari suara bedug dan meriam yang berbunyi  “dug, dug, dug”, “der, der, der”, yang pada saat itu digunakan sebagai penanda untuk memberi tahu masyarakat Semarang bahwa Bulan Ramadhan telah tiba.

Tradisi ini disebut sudah ada sejak tahun 1881, yang pada saat itu dilaksanakan pertama kali oleh Bupati Semarang, Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Dan saat ini, setiap tahunnya prosesi Dugderan dipimpin langsung oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Namun ada pemandangan sedikit berbeda dari pakem prosesi kirab yang seharusnya. Karena secara tiba-tiba Wali Kota Semarang meminta kepada masyarakat yang memadati Balaikota Semarang untuk bisa tenang. Ia meminta masyarakat untuk menyempatkan diri berdoa bagi para korban bom di Surabaya. “Saudara-saudara, sebelum karnaval dimulai, mari kita semua berdoa kepada Allah SWT untuk korban terorisme di Surabaya, kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing,” tutur Hendi.

Setelah memipin doa bersama, Hendi kembali melanjutkan prosesi dengan memukul bedug, kemduian dirinya ikut dalam rombongan kirab menaiki kereta kuda untuk berangkat ke Masjid Kauman Semarang dan Masjid Agung Jawa Tengah.

Tetlihat pemandangan yang tidak seperti biasanya, karena dalam iring-iringan rombongan kirab tersebut. Kereta kuda yang dinaiki Hendi tampak dikawal langsung oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abioso Seno Aji.

Di Masjid Kauman, dirinya menerima  Suhuf Halaqoh dari para alim ulama di Kota Semarang. Hadir dalam kesempatan itu sejumlah ulama di Kota Semarang, seperti K.H. Hanief Isma’il, serta Ketua PCNU Kota Semarang, K.H. Muhammad Anasom. Selain itu, di sana Hendi juga membagikan kue khas Semarang yaitu Ganjel Rel dan air Khataman Al Quran. Pembagian kue dan air tersebut memiliki makna untuk warga merelakan hal yang mengganjal, serta membersihkan diri dengan meminum air Khataman Al Quran sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Usai mengikuti proses di Masjid Kauman Semarang, Hendi beserta rombongan bertolak ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk menyerahkan Suhuf Halaqoh kepada Gubernur Jawa Tengah, yang diwakili oleh Sekda Provinsi Jateng, Sri Puryono. Rangkaian prosesi tersebut kemudian ditutup dengan diumumkannya kepada warga bahwa sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan.

Hendi menuturkan, prosesi Kirab Dugderan yang dengan membawa Warak ini dapat juga dimaknai sebagai simbol toleransi yang kuat. “Warak sendiri kan adalah hewan mitologi Kota Semarang yang melambangkan keberagaman”, jelas Hendi.

“Tadi juga rombongan kirab paling depan membawa bendera Merah Putih, ini adalah representasi kondisi Kota Semarang yang menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam keberagaman,” tegasnya Hendi.

Red-HJ99/Ovan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here