Sertijab Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY

6

Semarang, Harianjateng.com- Serah Terima Jabatan Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dari Bapak Bambang Kiswono kepada Bapak Aman Santosa, Jumat pagi (16/11/2018) bertempat di Kantor Otoritas Jasa Keuangan Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Serah terima jabatan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Bapak Wimboh Santoso.

Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak H. Ganjar Pranowo, kepala eksekutif pengawas perbankan, Bapak Heru Kristiana, Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Bapak Rukma Setyabudi, Walikota Semarang, Bapak Hendrar Prihadi, Anggota Komisi XI DPR RI, Bapak Salamudin Dimyati Rois dan kepala perwakilan BPKP Provinsi Jawa Tengah, Bapak Heri Subowo serta masih banyak tamu undangan lainnya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Dewan Komisioner OJK Bapak Wimboh Santoso menyampaikan bahwa Bapak Aman Santosa berasal dari Purwokerto pastinya sudah paham mengenai daerah – daerah di sini, sehingga nantinya dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap pembangunan di Jawa Tengah. “Kehadiran Bapak Aman Santosa yang asli dari Jawa Tengah pasti sudah memahami seluk beluk daerahnya, sehingga diharapkan keberadaan OJK di Jawa Tengah dapat dirasakan denyutnya dan manfaatnya oleh masyarakat Jawa Tengah secara keseluruhan,” ujarnya.

Selanjutnya, setelah serah terima jabatan tersebut, pada kesempatan yang berbeda, Kepala OJK Regional 3 Jawa Tengah dan DIY yang baru, Aman Santosa menyampaikan, “sektor perbankan Jawa Tengah posisi September 2018 mengalami pertumbuhan yang cukup baik, terlihat dari pertumbuhan aset sebesar Rp403,77 triliun atau mencapai 8,16% yoy, kredit sebesar Rp294,38 triliun atau mencapai 8,55% dan dana pihak ketiga yang tumbuh sebesar Rp305,91 triliun atau tumbuh sebesar 9,82%. Pertumbuhan dana pihak ketiga ini lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 6,65%.”

“Seiring dengan hal tersebut, perkembangan perbankan syariah di Jawa Tengah, tercatat pembiayaan yang disalurkan sebesar Rp20,12 triliun atau mengalami pertumbuhan 18,44%yoy, pertumbuhan pembiayaan ini lebih tinggi dibandingkan nasional yang tumbuh sebesar 14,35%. Share pembiayaan tersebut terhadap nasional 6,84%. Hal ini seiring dengan kualitas pembiayaan yang disalurkan lebih baik dibandingkan nasional yang ditunjukkan dengan NPF sebesar 2,68% sedangkan nasional sebesar 3,45%,” tambah Aman.

Lebih rinci Aman menyampaikan, penyaluran kredit per jenis penggunaan sudah efektif terlihat pada penyaluran terbesar pada kredit modal kerja sebesar Rp161,5 triliun atau tumbuh sebesar 10,66% yoy dengan share sebesar 54,87%. Sedangkan penyaluran kredit per sektor ekonomi terbesar yaitu pada sektor perdagangan besar dan eceran yang tumbuh sebesar Rp96 triliun atau tumbuh sebesar 10,42%.

Di sektor lainnya, perkembangan Industri Jasa Keuangan Non Bank di Jawa Tengah, mencatatkan pembiayaan pada perusahaan pembiayaan sebesar Rp49,74 triliun meningkat 6,62%yoy dengan share terhadap nasional sebesar 11,01%. Kualitas pembiayaan yang disalurkan sudah cukup baik terlihat dari NPF sebesar 1,34% lebih rendah dibanding NPF nasional sebesar 3,17%. Selain itu data mengenai Bank Wakaf Mikro terdapat 9 Bank Wakaf Mikro yang telah diresmikan di Jawa Tengah dan DIY, 7 diantaranya ada di Jawa Tengah.

Sedangkan perkembangan sektor pasar modal, jumlah single investor identity (SID) di Jawa Tengah tercatat sebanyak 72.675 meningkat 33,57% yoy, dengan nilai transaksi saham sebesar Rp3,18 triliun.

Perkembangan pembiayaan baru melalui Peer-to-Peer Lending Financial Technology (Fintech) berkembang cukup signifikan dimana sampai dengan September 2018 terdapat 73 perusahaan terdaftar dengan 1 perusahaan yang berizin. Dari sisi outstanding pembiayaan tercatat sebesar Rp708,01 miliar dengan 142.367 borrower sedangkan dan dari sisi lender sebesar Rp151,18 miliar dengan jumlah lender sebanyak 12.450 orang. Sedangkan dari perusahaan pergadaian, tercatat jumlah perusahaan sebanyak 58 perusahaan secara nasional, 7 diantaranya berada di Jawa Tengah.

Aman menambahkan, selain mengatur dan mengawasi, tugas pokok OJK yaitu perlindungan konsumen, sampai dengan September 2018, jumlah pengaduan masyarakat sebanyak 277 yang didominasi pengaduan terhadap perbankan sebanyak 41,50%, diikuti perusahaan pembiayaan sebesar 13,43%.

Red-HJ99/Heri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here