Cerita Pring Jagat, Padepokan Penjaga Nasionalisme

2
Suasana Padepokan Pring Jagat Kendal, Ahad (10/3/2019).

Kendal, Harianjateng.com – Sayap perkembangan zaman yang mengepakkan berbagai jenis virus, tak menjadikan Pring Jagat luntur terombang-ambing gelombang dan meninggalkan budaya dan tradisi. Namanya Pring Jagat, sebuah padepokan yang berada di pinggiran Kabupaten Kendal. Dihiasi dengan asesories kuno ala Indonesia, mencerminkan padepokan ini kental akan kebudayaan.

Bangunan yang berdiri sejak tahun 2004 itu awalnya hanya sebuah gubuk kecil dan berkembang menjadi gubuk besar, hingga kini menjadi bangunan kokoh yang tetap merawat dan menjaga pohon bambu dan ilalang kering di sekelilingnya. Ada suatu hal yang membedakan dengan yang lainnya, yaitu padepokan ini mencetak para generasi muda, para santri yang berakhlakul karimah dan berkebudayaan.

Padepokan yang tumbuhkembang di Dukuh Singo Padu, Kelurahan Sukodono, RT. 06 RW. 02 Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini terus berusaha mendidik para santri menjadi generasi tangguh dan berbudi pekerti yang baik. Hal itu dibuktikan dari setiap santri jemaah yang masuk padepokan Pring Jagad langsung diberi pembinaan pendidikan, baik itu formal maupun nonformal, serta penguatan wawasan kebangsaan cinta terhadap tanah air Indonesia.

Di bawah asuhan sosok kharismatik yang berambut panjang, Padepokan Pring Jagad sangat dikenal di dunia persilatan hingga di kalangan organisasi kemasyarakatan tingkat nasional, ia adalah Gus Muhammad Ilyas. Gus Ilyas merupakan seorang santri yang saat ini telah menempuh pendidikan magister di salah satu universitas di Kabupaten Semarang.

Penjaga Budaya dan Nasionalisme
Ia pernah mengatakan, bahwa seorang santri selain mempunyai bekal ilmu agama yang kuat juga harus wajib mempunyai ilmu bela diri serta harus memiliki rasa cinta terhadap tanah air, agar seorang santri sehat secara jasmani dan rohani, dan yang paling penting tidak lupa akan sejarah bangsa ini.

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa budaya merupakan jatidiri dan kekayaan bangsa Indonesia harus terus diuri – uri hingga akhir hayat, yang mana suatu budaya tidak dimiliki oleh negara lain. Ada beberapa model dan cara Pring Jagat menjaga budaya dan nasionalisme. Mulai dari membekali santri dengan ilmu agama, wawasan kebangsaan, silat, dan pendidikan formal.

“Salah satu wujud komitmen kami menjaga nasionalisme ya menjaga beladiri silat Pagarnusa, yang merupakan budaya lokal yang saat ini dijaga dan terus dikembangkan oleh Pring Jagad. Tidak hanya itu, beladiri internasional seperti Taekwondo juga hadir mewarnai sebagai tempat untuk menampung bakat-bakat para santri dan jemaah,” kata Muhamamd Ilyas kepada Harianjateng.com, Minggu (10/3/2019).

Di padepokan yang punya ratusan jemaah ini, sering terdengar suara-suara pengajian dan suara menggebu-gebu dengan jargon “cinta terhadap tanah air hukumnya adalah wajib”.

Kalau negara ini aman tenteram, kata Muhammad Ilyas, damai penuh dengan rasa dan kasih sayang, ibadah juga bisa berjalan istikamah. “Namun jika negara ini tidak aman, jangan berharap kita bisa beribadah dengan lancar,” kata pria berambut panjang tersebut.

Jargon itu muncul sudah puluhan tahun terdengar, hingga kini tetap masih terdengar pada setiap Rabu malam, yang mana ternyata suara itu adalah istiqosah bersama dan penyampaian sejarah tentang agama Islam dan sejarah negara tercinta yaitu Indonesia.

Tidak hanya sampai masalah pendidikan dan ilmu agama saja, Padepokan Pring Jagad berdiri sejak tahun 204 ini juga menjadi obat bagi orang-orang yang sedang sakit kejiwaannya. Karena Gus Ilyas merupakan sosok yang sangat bijaksana, siapapun orang yang datang ke padepokan tersebut berati mereka adalah sedulur, termasuk orang yang sedang terganggu kejiwaannya Gus Ilyas akan menerimanya dengan baik.

Di padepokan ini selain memperingati hari besar Islam dan kebangsaan Indonesia, kata-kata ruwat sudah tidak asing lagi didengar oleh para santri maupun para jemaah, karena itu sudah menjadi intentas dari Padepokan Pring Jagad.

“Menjunjung tinggi solidaritas persaudaraan, duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, yang artinya tidak ada satupun yang membedakan derajat manusia hidup di duniawi ini, namun yang membedakan hanya iman dan taqwa kepada Allah Swt,” demikian yang sering disampaikan oleh Gus Ilyas dalam setiap pertemuan.

Di Padepokan Pring Jagad ini mengajarkan pembelajaran ala santri yang tetap menjaga nilai-nilai tradisi seperti ngaji Alquran, kitab kuning seperti Safinatun Najah dan Ta’limu Muta’alim, majelis zikir selawat dan manakib Nurul Burhan yang harus diikuti oleh para santri.

Gus Ilyas dikenal jarang tidur pada malam hari, karena ia sering berkelana untuk menyiarkan agama dan memberikan penguatan wawasan kebangsaan dari kampung ke kampung hingga sampai kepelosok kampung yang jarang dijamah oleh banyak manusia. Salah satu kampung itu bernama Promasan yang letaknya berada di bawah kaki gunung Ungaran yang mana masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Kendal.

Dengan sifat kepeduliannya pria berambut panjang itu bersama teman-teman santrinya sering berkunjung bahkan mengutus para santrinya seminggu sekali untuk melihat kondisi masyarakat setempat. “Desa demi desa saya jajahi, di kampung-kampung, kami mengajak masyarakat untuk tetap menjaga tradisi dan budaya, lewat apa saja, yang penting tidak khianat pada NKRI,” tegas dia.

Selain blusukan ke pelosok desa, di Pring Jagat tidak hanya membekali para jamaah dengan ilmu agama saja, namun juga memfasilitasi para santri dan jamaah dalam bidang pendidikan, bagi para santri yang pendidikannya hanya sampai Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) akan disekolahkan lagi sampai sampai lulus wajib belajar yaitu di tingkat SMA sederajat melalui pendidikan Paket C.

Bagi kami, katanya, meski di pelosok, bukan alasan untuk tidak menjaga nasionalisme. “Kami berpedoman, bahwa dari karakter nasionalisme inilah akan timbul spirit memajukan pendidikan dan kebudayaan, apalagi di Kendal ini banyak budaya yang tercecer seperti silat yang kami kembangkan di sini,” papar dia.

Sebagai pelaku agama dan budaya, ia berharap agar semua elemen dapat bersatu dalam rangka mewujudkan Indonesia maju dari budaya dan tradisinya, terutama tradisi lokal yang jarang diketahui dunia. (Heri Susanto).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here