Peringatan Harlah NU Ke-94, HMJ dan Uki Gelar Diskusi Rakyat

0
38

Temanggung, Harianjateng.com – Dalam rangka peringatan Harlah NU ke-94, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ)  dan Unit Kajian Islam (Uki) STAINU Temanggung mengadakan diskusi rakyat yang bertajuk “Membaca Peta Gerakan Nahdlatul Ulama, Menuju Kemandirian Umat”, Jumat (31/01/2020) di aula kampus STAINU Temanggung, Jawa Tengah.

Acara ini dihadiri oleh puluhan Mahasiswa STAINU Temanggung dan menghadirkan dua pemateri, yaitu Hamim Saifuddin, M.Pd., pembina Unit Kajian Islam sekaligus mengisi materi Aswaja dan Hamidulloh Ibda,M.Pd., yang merupakan dosen sekaligus Kaprodi PGMI mengisi materi tentang filsafat. Dalam diskusi ini mengambil sudut pandang dari sisi Aswaja dan filsafat kemandirian.

Mahasiswa dalam megemban warisan para tokoh NU, wajib melestarikan dan mengaplikasikan apa yang telah diajarkan para pendiri NU, terlebih lagi kemandirian Mahasiswa dalam menyongsong kemajuan kampus STAINU Temanggung ini. Hal tersebut disampaikan oleh ketua HMJ Tarbiyah Dheta Ari Sabila.

Kehadiran BEM juga turut mengapresiasi kegiatan ini, Wahyu Egi Widayat dalam sambutannya mengungkapkan, “mahasiswa perlu mengingat lagi, membakar semangatnya, meramaikan kampus dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an Nahdliyah”.

Nahdlatul Ulama dalam 94 tahun terakhir memiliki peran besar dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bertahan air. NU mengalami beberapa fase menuju kemandirian Umat dengan dibentuknya Nahdlatu al tujjar atau kebangkitan Ekonomi, taswirul afkar sebagai bentuk kemajuan intelektual kaum Nahdliyin.

“Nahdlatul Ulama secara umum sebenarnya sudah mandiri, dalam arti mandiri disini bukan hanya soal ekonomi umat saja, akan tetapi juga berkaitan dengan Ideologi karena ini menyangkut keyakinan umat, Justru hal yang pokok yang perlu dipahami dalam arti kemandirian umat adalah kemandirian ideologi,” kata Hamidulloh Ibda.

Ada hal menarik lagi yang bisa kita pikirkan, lanjut Ibda, Nahdlatul Ulama adalah organisasi untuk mewadahi umat yang mengkombinasikan antara beragama dan bernegara, mewujudkan rasa nasionalis yang tinggi, dan NU itu bukan wadah ekonomi secara praktis bagi umat, maka makna dari kemandirian umat dalam bidang ekonomi adalah nomer sekian setelah kemandirian dalam berideologi walaupun dalam bidang ekonomi terus kita kembangkan lewat koin NU.

“Sebenarnya para tokoh-tokoh NU sangat hebat, berdakwah dengan cara ramah, memahami kitab kuning sejarah. Namun karena kita masih membawa budaya kolonialisme, yang dianggap pintar dan cerdas adalah orang-orang yang mempunyai pangkat dan jabatan. Padahal belum tentu semua itu sesuai kenyataan. Nyatanya yang terjun dalam masyarakat adalah para kiai-kiai,” terang Kaprodi PGMI tersebut.

Dalam diskusi kali ini, pernyataan dari dua pemateri masih banyak yang menarik dan ilmiah, kegiatan ini diakhiri dengan sholawat bersama rebana STAINU Temanggung.

Red-HJ99/ Ahmad Farichin