Semasa Hidup Gus Solah Rekatkan Persaudaraan NU – Muhamadiyah

0
Oleh : Wakil Ketua Komite I DPD RI-Anggota MPR, Dr. Abdul Kholik, S.H., M.Si.

Harianjateng.com- Pada awal Februari tahun 2020 kita kehilangan figur sekaligus tokoh besar bangsa ini dari Nahdlatul Ulama (NU) dengan wafatnya Gus Sholah. Sosok yang dikenal sangat konsisiten dalam perjuangan kemasyarakatan dan kenegaraan, serta sangat mengayomi dan menghargai perbedaan.

Kita yang masih merasa kehilangan dan bisa jadi akan sulit mendapatkan pengganti figur seperti beliau. Ungkapan rasa kehilangan, kesan, dan pesan yang disampaikan dari semua kalangan menegaskan sosok beliau yang memang diterima semua kalangan. Sering digambarkan juga sebagai sosok yang mampu meneruskan Gus Dur, kakak kandungnya yang mengayomi semua golongan.

Di antara banyak warisan penting Gus Sholah adalah ihtiarnya untuk terus menjaga persaudaraan antar sesama warga bangsa, umat beragama, dan ormas keagamaan. Secara spesifik ikhtiar untuk terus memupuk persauadaraan antara NU dengan Muhammadiyah sebagai dua ormas penting dalam perjalanan bangsa ini layak kita renungkan kembali. Seperti tampak pada pesan terakhir beliau kepada Wamenag, Drs. Zainut Tauhid Sa’adi

Pesan itu disampaikan melalui putra beliau Ipang Wahid dua hari sebelum Gus Sholah wafat  untuk menghadiri pemutaran perdana film “Jejak Langkah 2 Ulama” yang akan rilis Januari 2020. Film itu memiliki misi meluruskan posisi dua tokoh pendiri NU dan Muhammdiyah KH Hasyim Asyari dan KH. Ahmad Dahlan. Keduanya sejak usia muda sangat dekat sama-sama nyantri kepada Kiai Saleh darat Semarang.

Usia keduanya juga sepantaran, hanya terpaut dua tahun, sehingga layaknya kakak dan adik seperguruan. Semua kita tahu, kemudian Kh. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah pada tahun 1912 dan Kh Hasyim Asyari mendirikan NU pada tahun 1926. Peran Gus Sholah dalam mendukung film ini amatlah besar. Tidak lain karena film ini diproduksi atas kerjasama Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Ponpes Tebuireng, dimana beliau menjadi pengasuhnya.

Dengan demikian kontekstualitas pesan Gus Sholah melalui kerjasama pembuatan film itu, tidak hanya meluruskan kesalahan persepsi  dalam hubungan kedua Ormas terbesar bahkan berupaya mengembalikan kisah historis pada tempatnya semula.

Apa yang dilakukan oleh Gus Sholah melalui kerjasama pembuatan film itu hanyalah salah satu ihtiar untuk terus menghidupkan persaudaraan diantara NU-Muhammdiyah. Karena memang begitulah adanya. Meski ada perbedaan lebih karena metode dalam dakwah dan segmen. Muhammdiyah lebih banyak berkembang di perkotaan, sementara NU basisnya banyak di wilayah pedesaan. Kalaupun ada perbedaan hanya menyangkut aspek-aspek khilafiah dan tidak perlu dikedepankan. Justru persamaan itulah yang harus menjadi pegangan bersama.

Bila dirunut, apa yang dilakukan oleh Gus Sholah dengan film itu, hendak meneruskan rintisan Gus Dur, pada era awal reformasi. Ketika itu hubungan NU dan Muhmmadiyah mengalami berjalan sangat intens dan mampu menjadi perekat sekaligus solusi bagi persoalan kebangsaan. Dasar ikatan yang berkembang saat itu adalah mengawal reformasi dan menjaga keutuhan NKRI, bahkan mencakup juga agenda pemberdayaan ekonomi umat.
Tercatat sejumlah bentuk hubungan yang sangat erat dan saling pengertian yang tinggi layaknya persaudaraan kakak dan adik seperguruan. Saling berkunjung dan menyelenggarakan pengajian bersama dilakukan secara bergiliran dalam kurun waktu tahun 1998-2000.

Terdapat sejumlah faktor yang menjadi perekat, yaitu spirit ukhuwah Islamiyah, adanya generasi baru (muda) yang berfungsi sebagai penghubung dan perekat, serta pengembangan kerjasama di bidang pemberdayaan masyarakat dan sosial budaya.

Walhasil pada era itu tercipta integrasi yang kuat diantara NU-Muhammdiyah. Begitu eratnya hubungan diantara kedua ormas ini sampai muncul ungkapan yang saling menguatkan. Pernah diusulkan pada saat itu agar di kantor PBNU ada perwakilan Duta Besar Muhammadiyah, dan sebaliknya di Kantor Pusat PP Muhammadiyah dibuka Duta Besar NU. Bahkan meski tidak secara langsung berkaitan, momen politik yang terjadi pada saat itu mengantarkan Ketua NU sebagai Presiden dan Ketua Muhammadiyah sebagai Ketua MPR pada saat itu.

Harus diakui, hubungan integratif kedua ormas ini belakangan mengendur dan bahkan tidak tampak di permukaan. Bisa jadi itulah alasan mengapa Gus Sholah begitu bersemangat untuk menghadirkan kembali gambaran yang asli tentang sosok dan kedekatan pendiri kedua ormas itu.

Jadi sepertinya beliau risau dengan hubungan kedua ormas saat ini dan ingin kembali merekatkan sebagai kekuatan bangsa. Di tengah kondisi bangsa dan ancaman serta tantangan yang semakin berat terasa betul urgensinya ihtiar Gus Sholah untuk terus kita jaga. Basisnya pemahamanya sama, bahwa sebuah integrasi dapat terbangun apabila lebih mengedepankan persamaan dan mengenyampingkan perbebedaan.

Red-HJ99