Dampak Abrasi, 3000 Hektar Tambak di Brebes Hilang

0

BREBES,– Setiap tahun, sekitar 30 meter daratan dipesisir pantai utara Kabupaten Brebes, hilang terkikis air laut atau abrasi. Bahkan, selama 39 tahun ini sudah ada sekitar 3000 hektar lahan tambak yang sudah menyatu dengan lautan.

Kepala Desa Randusanga Wetan, Kecamatan/ Kabupaten Brebes, H. Swi Agung Kabiantara mengatakan, persoalan abrasi yang berlangsung selama bertahun tahun ini juga berdampak pada kerusakan tambak di desanya.

“Dari 450 hektar tambak di Desa Randusanga Wetan, ada sekitar 250 hektare yang mengalami kerusakan akibat abrasi, 30 hektar diantaranya sudah menyatu dengan laut,” kata Agung, Kamis, (14/10).

Agung memperkirakan, hampir tiga tahun terakhir sudah lebih dari 50 meter daratan yang hilang. Artinya setiap tahunnya 20 meter tambak di desanya hilang. Dia memperkirakan, tambak-tambak yang hilang itu sepanjang 1 kilometer dari batas Kota Tegal dan lebih dari 50 meter hingga seratus meter dari bibir pantai.

“Dan tidak hanya itu saja, dampak yang lebih luas adalah tambak- tambak milik warga sekarang sudah tidak bisa dikelola lagi. Karena tambak-ambak itu sudah rusak,” jelasnya.

Hilangnya daratan akibat tergenang air laut tersebut sudah menjadi ancaman nyata warga masyarakat di wilayah pesisir utara Kabupaten Brebes.

Dari tahun ke tahun, menurutnya, proses alam ini masih terus berlangsung hingga kini. Namun tidak ada penanganan seperti di Kota Tegal. Padahal di sejumlah wilayah, proses abrasi ini makin parah. Bahkan, terjangan air laut semakin menjadi dan mengancam pemukiman penduduk setempat.

“Pemerintah Kota Tegal sudah membuat bangunan break water atau pemecah gelombang yang digunakan untuk melindungi daerah perairan laut dari gangguan gelombang,” tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Desa Randusanga Kulon, Afan Setiyono, mengatakan, salah satu desa yang terkena abrasi cukup parah adalah Randusanga Kulon. Karena, sekitar 750 dari 1.300 hektar lahan tambak di wilayahnya sudah hilang terkena abrasi. Abrasi ini juga berdampak pada ekonomi masyarakat. Di mana setiap sore air sudah masuk ke pemukiman penduduk sehingga mengganggu aktifitas warga.

“Luasan desa kami ada 1300 hektar, kemudian akibat abrasi, ada sekitar 750 hektar yang hilang. Yang sangat memprihatinkan, saat air laut pasang menggenangi pemukiman warga dan mengganggu kegiatan ekonomi mereka,” tuturnya.

Data di Dinas Perikanan Brebes menyebut, luas lahan tambak di Brebes mencapai 12 ribu hektar. Lahan tambak ini berada di 13 desa di lima kecamatan pesisir, masing masing; Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung dan Losarri.

Di sisi lain, Kabid Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan Brebes, Iskandar Agung menjelaskan, di Brebes ada sekitar 12 ribu hektar tambak. Namun, akibat terkena abrasi sejak tahun 1985, sekitar 3000 hektar di antaranya sudah tergenang air laut.

“Sekitar 3000 hektar dari 12 ribu lahan tambak di wilayah pesisir utara sudah rusak. Dari lima kecamatan yang terdampak, tiga kecamatan, masing masing Brebes, Wanasari dan Losari merupakan yang terparah,” ucapnya.

Menurut Iskandar, saat ini sekitar 4.000 hektar lahan yang perlu mendapat perhatian serius dan harus dijaga. Karena sekitar 2.000 hektar dari 4000 hektar lahan itu sudah kritis akibat abrasi. Sedangkan sisanya sudah bisa tertangani dengan penanaman mangrove di wilayah pesisir.

“Sebetulnya ini terkait dengan isu pemanasan global juga. Jadi memang sebetulnya ada teknologi terkait dengan penanganan abrasi ini, di antaranya melalui metode vegetasi. Jadi penguatan sabuk pantai dengan penanaman penanaman vegetasi lokal seperti mangrove dan lainnya,” pungkasnya. (Gust)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here