Dirikanlah Salat untuk Mengingat-Ku!

0

Oleh : Dr. Didi Junaedi, M. A.
(Dosen Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon)

‎“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka
‎ sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.” ‎
‎ (Q.S. Thaha: 14)‎

Ayat di atas menegaskan bahwa setelah Allah menunjukkan eksistensi ‎diri-Nya, dan menyatakan tidak ada tuhan selain Dia, selanjutnya Dia ‎memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mendirikan salat untuk ‎mengingat-Nya.‎

Salat adalah mikraj-nya orang-orang mukmin. Salat adalah barometer keimanan seseorang. Jika seseorang salatnya ‎baik, dalam artian tidak sekadar mengerjakan shalat sesuai ketentuan fiqh, ‎yakni memenuhi sayarat dan rukunnya saja, tetapi menghayati makna ‎terdalam dari seluruh aktivitas salat berupa gerakan dan bacaannya, ‎kemudian diterjemahkan dengan pengamalan ke dalam aktivitas sehari-hari, ‎maka sudah pasti amal yang lainnya pun akan baik. Hal ini sebagaimana ‎ditegaskan dalam al-Quran, “Sesungguhnya salat itu mencegah dari ‎‎(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (Q.S. al-Ankabut: 45).‎

Inti dari salat adalah agar seseorang selalu mengingat Allah Swt. ‎Mengingat dalam pengertian bahwa ia merasa selalu disertai dan diawasi oleh ‎Allah kapan saja dan di mana saja ia berada. Shalat yang baik akan ‎melahirkan sikap muraqabah, perasaan selalu dimonitor oleh Allah Swt. ‎Sehingga ia tidak akan melakukan aktivitas kehidupan yang akan ‎membawanya ke dalam lembah dosa yang pada gilirannya akan ‎menyengsarakan dirinya sendiri.‎

Salat adalah sarana paling efektif bagi seorang hamba untuk ‎berkomunikasi dengan Tuhannya. Ketika kita dirundung masalah, ditimpa ‎pelbagai persoalan hidup, diuji dengan beragam kesulitan, maka cara terbaik ‎untuk mengadukan segala persoalan kita tersebut adalah dengan ‘berdialog’, ‎‎‘curhat’ dengan Allah Swt melalui shalat.‎

Allah Swt adalah tempat terbaik bagi kita untuk mencurahkan segala ‎perasaan kita. Dialah yang Maha Mengetahui persoalan hamba-Nya. Dialah ‎yang Maha Mengerti kemampuan hamba-Nya. Dialah yang Maha Memberi ‎solusi atas segala persoalan yang sedang dihadapi hamba-hamba-Nya.‎

Tidak ada masalah yang dibebankan Allah kepada seorang hamba, ‎melampaui batas kemampuan hamba-Nya. Allah Maha Tahu batas kemampuan ‎setiap hamba-Nya. ‎

Ketika ujian dan cobaan datang menghadang, ketika beragam musibah ‎dan petaka menimpa seorang hamba, ketika itu pula Allah sedang ‎‎‘berkomunikasi’ dengan hamba-Nya. Allah ‘menunggu’ komunikasi balik dari ‎hamba-Nya. Wujud komunikasi itu adalah sikap hamba atas segala yang ‎menimpanya. ‎

Apakah ia bersedia menerima kenyataan disertai panjatan doa penuh ‎ketulusan dan kesabaran, ataukah justru keluh kesah, kekesalan, bahkan ‎mempertanyakan keadilan Tuhan yang menjadi pilihan hamba tersebut dalam ‎menyikapi keadaan yang tengah menimpanya?‎

Penentuan sikap ini pada gilirannya berimbas pada cepat atau lambatnya ‎pertolongan Allah hadir kepada kita. Semakin kita sabar menerima ketentuan ‎Allah, dengan terus berpikir positif dan berikhtiar untuk keluar dari masalah ‎yang tengah kita hadapi, semakin cepat uluran pertolongan Allah datang ‎menjumpai kita. Sebaliknya, semakin sering kita menambah daftar keluhan, ‎ratapan, bahkan ‘gugatan’ kepada Allah, semakin jauh pertolongan-Nya dari ‎kita.‎

Salat menyadarkan kita untuk mengingat bahwa Allah adalah Zat yang ‎Maha Segala-galanya. Salat juga mengajarkan kita untuk melakukan ‎kepasrahan total, menyadari kelemahan diri kita, serta mengakui keterbatasan ‎kemampuan kita.‎

Salat menjadi sarana paling efektif untuk menggugah kembali fitrah ‎kemanusiaan kita. Dari mana kita berasal, untuk apa kita lahir ke muka bumi ‎ini, serta ke mana kita kelak akan pulang? Serentetan pertanyaan mendasar ‎ini dijawab oleh al-Qur’an surah al-An’am: 162: “Katakanlah: Sesungguhnya ‎salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta ‎alam”.‎

  • Ruang Inspirasi, Kamis, 25 Januari 2024.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here