24.4 C
Brebes, Indonesia
Jumat, Januari 24, 2020

Pendidikan Non Formal Jangan Di Nomorduakan

Jakarta, Harianbrebes.com,- Dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X para pegiat pendidikan masyarakat nonformal mempermasalahkan adanya restrukturisasi ditubuh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penghilangan nomenklatur pendidikan masyarakat dan kesetaraan dinilai akan berdampak adanya dikotomi antara pendidikan formal dan non formal. Padahal dua jenis pendidikan ini dilindungi undang-undang dan bagian dari tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Pendidikan masyarakat dan kesetaraan memerlukan penguatan dan Supporting yang khusus. Menggabungkan pendidikan formal dan formal ke Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah dinilai tidak tepat,” ujar Ali Zamroni Anggota Komisi X DPR RI Fraksi Gerindra.

Menurutnya, dalam Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2019 dan Peraturan Mendikbud Nomor 45 Tahun 2019, Inti kedua aturan itu ialah mengenai konsolidasi eselon 1 di Kemdikbud setelah pendidikan tinggi (dikti) dikembalikan ke Kemendikbud. Namun adanya penggabungan dan penghilangan beberapa unit kerja di Kemendikbud. Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Dikmas akan digabung dengan Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) dengan nomenklatur baru Ditjen PAUD dan Dikdasmen.

Selain dikmas dari nomenklatur Direktorat Jenderal, unit-unit kerja di bawah Ditjen PAUD dan Dikdasmen tidak ada yang khusus menangani dikmas. Hal ini dinilai akan berakibat buruk kepada perkembangan pendidikan nonformal yang tidak hanya mendidik anak-anak yang putus sekolah, tetapi juga memberantas buta huruf, memberdayakan masyarakat melalui berbagai pelatihan, kursus dan keterampilan lain.

“Dengan adanya penghilangan seperti ini Pendidikan Masyarakat Non Formal seakan Dinomorduakan. Mereka merasa kehilangan rumah disaat nomenklatur “Dikmas” sudah tidak ada lagi dalam struktur organisasi kerja Kemendikbud, Apakah Pak Menteri mempunyai kajian khusus mengenai penghapusan ini. Kami juga mengesalkan kenapa tidak ada pembahasan pada saat Rapat Kerja dengan DPR RI selama ini seakan akan hal ini di tutup tutupi oleh Menteri Nadiem,” ungkap Ali Zamroni.

Pada kesempatan yang berbeda, Pelaksana Tugas Dirjen PAUD dan Dikmas sekaligus Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Harris Iskandar menuturkan, memasukan dikmas ke bawah dikdasmen agar saling melengkapi untuk memberi berbagai alternatif pendidikan bagi masyarakat. Menurut dia, dari segi anggaran, harapannya tidak akan berkurang dan tetap akan ada pembinaan bagi dikmas. (HB/Gust)

Jalingkut Brebes Ditargetkan Bisa Dilalui Kendaraan Mudik Lebaran Mendatang

Brebes, Harianbrebes.com,- Proyek pembangunan jalan lingkar utara (Jalingkut) Brebes-Tegal yang telah dimulai sejak awal Januari 2020 ini, ditargetkan bisa fungsional saat arus mudik lebaran mendatang.

Tercapainya target fungsional saat lebaran tersebut ditentukan dengan selesainya pembangunan lima titik jembatan Jalingkut yang menghubungkan Kabupaten Brebes dengan Kota Tegal. Demikian seperti halnya yang disampaikan Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VII Semarang, Ahmad Cahyadi saat ditemui sejumlah wartawan.

“Ada lima titik jembatan yang dibangun sepanjang Jalingkut. Ini kita kebut jembatannya dulu agar bisa dilalui kendaraan saat arus mudik lebaran sebagaimana target dari Menteri PUPR,” kata Cahyadi, saat meninjau pembangunan Jalingkut di Brebes, Kamis (23/1/2020).

Dari lima titik jembatan tersebut, menurutnya, ada satu titik jembatan yang sudah selesai dibangun, namun belum bisa dilalui kendaraan. Tepatnya, jembatan itu berada di Kaligangsa, Brebes. Hal tersebut, dikarenakan konstruksi bangunan jembatan masih belum kuat.

Untuk mengantisipasi hal itu, nantinya di titik tersebut akan dibuatkan jembatan sementara berupa jembatan bailey yang terbuat dari rangka baja. Sehingga kendaraan tetap bisa melintas Jalingkut dari Brebes ke Tegal atau sebaliknya.

“Jembatan bailey itu meski sementara tapi kuat. Kendaraan ukuran berapapun bisa melintas. Karena bahannya itu dari rangka baja. Sehingga aman dilewati,” jelasnya.

Cahyadi menuturkan, kontrak pelaksanaan pembangunan Jalingkut Brebes-Tegal tersebut sampai Desember mendatang. Kendati demikian, pihaknya ingin memastikan semua tahapan pekerjaan terlaksana dengan baik. Terlebih adanya target fungsional dari Menteri PUPR saat lebaran mendatang.

“Nantinya pembangunan jembatan dilakukan serentak berbarengan agar bisa selesai. Namun tetap yang satu jembatan itu, di Kaligangsa, belum bisa dilalui. Sehingga nanti pakai jembatan bailey,” ujarnya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) jalan nasional Brebes-Tegal Bina Marga Wilayah 1 Jawa Tengah, Yudi Harto Suseno menambahkan, saat ini proyek nasional tersebut dalam tahap pembersihan dan penimbunan material.

Meski sudah fungsional saat lebaran nanti, kata Yudi, bukan berarti pembangunan Jalingkut sepanjang 17 km tersebut sudah selesai. Nantinya, sebagian Jalingkut sudah berupa aspal.

“Sebagian sudah berupa rigit aspal. Namun sebagian lagi masih berupa timbunan tanah. Tapi tetap aman dilalui kendaraan,” tambahnya.

Proyek pembangunan Jalingkut Brebes-Tegal sepanjang 17,005 kilometer tersebut sempat mangkrak selama bertahun-tahun. Proyek Jalingkut itu kali pertama dimulai pembangunannya oleh PT Bumiredjo pada 2010 lalu dengan total anggaran Rp 205 miliar.

Namun, proyek itu berhenti di tengah jalan saat proses pembangunan baru mencapai 48 persen. PT Bumiredjo selaku kontraktor menghentikan pekerjaan karena pemerintah tidak membayar selama dua bulan. Karena itu, persoalan tersebut akhirnya dibawa ke jalur hukum.

Panjang ruas Jalingkut yang mencapai 17 kilometer, meliputi wilayah Kabupaten Brebes dan Kota Tegal. Yakni, mulai dari Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba, Brebes hingga Kelurahan Muarareja Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal.

Dari panjang Jalingkut, ruas jalan yang masuk wilayah Brebes mencapai 12 kilometer mulai dari Bangsri hingga Kaligangsa Wetan, Kecamatan Brebes. Sisanya masuk wilayah Kota Tegal. (Nal/Gust)

Brebes Jadi Kawasan Industri, Perlukah Pabrik Pengolahan Limbah B3?

Brebes, Harianbrebes.com, – Diantara pabrik-pabrik yang beroperasi di Kawasan Industri Brebes tentu ada limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang harus ditangani dengan baik agar menjadi ramah lingkungan.

Adanya pembangunan pabrik pengolahan limbah B3 di Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes yang dikhawatirkan oleh masyarakat setempat itu justru nantinya sangat dibutuhkan. Hal yang demikian itu seperti halnya yang disampaikan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pengolahan Sampah (DLHPS) Kabupaten Brebes, Budhi Darmawan saat ditemui sejumlah wartawan di kantornya, Rabu (22/1/2020).

“Pabrik-pabrik yang berdiri di Brebes itu semuanya ada limbah B3. Kalau tidak ditangani dengan baik, justru akan membahayakan lingkungan. Belum lagi limbah medis dari Puskesmas dan rumah sakit,” katanya.

Saat ini, menurutnya, baru RSUD Brebes yang memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dengan insenerator. Itupun, RSUD Brebes hanya mengolah limbahnya sendiri dan tidak diperbolehkan menerima limbah B3 dari luar.

Bahkan selama ini, perusahaan di Brebes yang memiliki limbah B3 itu bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengumpulkan dan mengirimnya ke IPAL di Bogor. Adapun, jauhnya jarak pengolahan limbah tersebut membuat biaya pengiriman sangat mahal. Karenanya diharapkan, dengan adanya pabrik pengolahan limbah B3 di Brebes, nantinya semua limbah B3 dapat diolah di pabrik tersebut.

“Mengenai apakah pabrik pengolahan limbah B3 ini aman dan tidak membahayakan lingkungan, kita lihat kajian Amdalnya. Karena saat ini, masih dalam tahap penyusunan Amdal,” ucapnya.

Kepala Bidang Perencanaan dan Penataan Lingkungan DLHPS Brebes, Nelva P menambahkan, sudah seharusnya Brebes miliki pabrik pengolahan limbah B3. Jika tidak ada, justru limbah B3 dari pabrik-pabrik yang ada di Brebes dikhawatirkan dibuang sembarangan.

Terkait perizinan, Nelva menuturkan, DLHPS Brebes hanya memberikan rekomendasi saja. Sedangkan izin pengolahan dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Namun, rekomendasi dikeluarkan setelah kajian Amdal selesai disusun.

“Prosesnya masih lama, karena saat ini dalam penyusunan kajian Amdal. Mereka sudah pernah melakukan public hearing. Kalau izin yang sudah kami berikan itu pengumpulan limbah. Lha sekarang ini perluasan menjadi pengolahan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam kajian Amdal yang sedang disusun, nantinya akan diketahui cara penanganan dampak yang muncul. Ia menduga, kekhawatiran warga dikarenakan ketidakpahaman mengenai mekanisme dan pentingnya pengolahan limbah B3.

Diberitakan sebelumnya, belasan warga Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes, mengatasnamakan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan, melakukan aksi penolakan berdirinya pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Aksi penolakan dilakukan dengan melakukan pemasangan spanduk di beberapa titik dan penggalangan petisi warga Desa Cimohong. Penolakan dilakukan karena warga khawatir akan bahaya limbah B3.

Seorang warga Cimohong, Sakri mengatakan, penolakan dilakukan secara spontanitas. Alasannya, warga khawatir adanya pabrik pengolahan limbah B3 yang dibangun CV Bumi Slamet, nantinya akan berdampak buruk bagi warga dan lingkungan.

“Kami khawatir pabrik itu berdampak dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu kami melakukan penolakan,” kata Sakri.

Dikatakannya, pendirian pabrik pengolahan limbah B3 juga tidak ada sosialisasi. Setahu warga, pabrik yang saat ini dalam proses pembangunan tersebut untuk pencucian pasir. Namun belakangan diketahui menjadi pengolahan limbah. (Nal/Gust)

HM. Aqsho Ketua PCNU Brebes Terima Kunjungan Kapolres

Brebes, Harianbrebes.com – Kapolres Brebes AKBP Aris Supriyono, S.I.K., M.Si, bersama Kabag Ops Polres Brebes Kompol Raharja, S.H.,M.H, Kasat Intelkam AKP Edi Sudarmono, Sh, Kasat Binmas AKP Kamal Hasan, SH, Kasubag Humas AKP Suraedi, Kasat Lantas AKP Moch Adimas Purwonegoro Sugeng Eko, SIK. Dan KBO Sat Intelkam Ipda Yazis Asmungi, melaksanakan kegiatan silaturahmi dengan Ketua dan Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Brebes.

Kegiatan ini, dilaksanakan hari Senin (20/1/2020) yang bertempat di Kantor PCNU Brebes, yang beralamat di Jl. Yos Sudarso no 36 Koplek Islamic Centre Brebes.

Rombongan dari Polres tersebut, disambut langsung oleh Ketua Tanfidziyah H. M. Aqsho, M.Ag, Wakil Ketua KH. Sodikin Rahman, Sekretaris Lahmuddin serta Bendahara H. Agus Hasanuddin dan H. Sufawijaya.
Ketua Tanfidziyah H. M. Aqsho, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan , ucapan selamat datang kepada Kapolres beserta rombongan di kantor PCNU Brebes

“Kami ucapkan selama datang kepada Kapolres beserta rombongan di kantor PCNU Brebes , dengan sepenuh keikhlasan kami siap membantu program Harkamtibmas Polres Brebes,” ujar M. Aqsho.

Sementara itu Dalam sambutannya Kapolres Brebes AKBP Aris Supriyono, S.I.K., M.Si berharap agar para ulama, tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat bersinergi dengan kepolisian dan dapat berjalan bersama untuk menciptakan situasi wilayah yang kondusif khususnya di wilayah Polres Brebes.

Dalam kesempatan itu juga Kapolres Brebes yang aslinya asal Jepara. Pihaknya bercerita waktu remaja aktip di IPNU Ranting I Bandungharjo Keling (sekarang Donorejo) Jepara, suka ngaji Alquran, Barjanjinan dan Solawatan.
Ketika Kapolres menanyakan apa yang bisa dibantu untuk NU, yang ditimpali langsung oleh Ketua Tanfidziyah, bahwa Ansor Banser yang anggotanya sampi saat ini sudah 11.000, sedang punya keinginan untuk mempunyai mobil Komando Satkorcab Banser Brebes dan Mobil Komando GP Ansor Kab. Brebes, yang saat ini sedang mengumpulkan Donasi dari anggota dan donatur NU, yang langsung diapresiasi dan menyambut siap membantu dan mempasilitasi pengadaan 2 buah mobil Komando tersebut.

Alhamdulillah keinginan untuk mempunyai mobil Komando dimudahkan dengan hadirnya Kapolres di PCNU Brebres, yang diamini Ketua Ansor Kab. Brebes Ahmad Munsip bersama, Bayu Rohmawan (Wakil Ketua), Subhan (Kasatkorcab Banser) Dan Fauzan Amin (Kasetma Satkorcab Banser) yang sedang ada di PCNU Brebes.

Dalam pertemuan demi keselamatan dan kelancaran tugas Acara ditutup dengan Doa oleh KH. Sodikin Rahwan selaku Wakil PCNU Brebes. (Hb44/Hi).

Pemuda Rimba Panas Curug Salurkan Bantuan Sembako Untuk Korban Banjir Di Desa Cikeusal, Brebes

Brebes, Harianbrebes.com,- Komunitas pemuda yang mengatasnamakan Rimba Panas Curug beserta Grup Sriling Galing mendatangi Posko Banjir di Desa Cikuesal Lor, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Mereka bermaksud untuk menyalurkan bantuan korban banjir di desa setempat.

Sebelumnya, puluhan pemuda itu saling bahu membahu menggalang dana di Desa kedungbokor, hingga tepatnya di Hari Jadi ke 342 Kabupaten Brebes, Sabtu, (18/1) hasil penggalangan dana dari warga disalurkan ke posko banjiran cikuesal lor.

Salah satu pemuda Rimba Panas, Sukim (25) menuturkan, dirinya berserta puluhan rekannya menggalang dana dilingkungan Desa Kedongbokor atas ijin dan dukungan dari Kepala Desa (Kades) Kedungbokor.

“Melalui Bapak Kades Jumarso, kami menggugah hati para dermawan agar sekiranya bersama sama membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir bandang di wilayah Kecamatan Ketanggungan, Brebes,” ucap Sukim, Senin, (20/1).

Bantuan dari pemuda Rimba Panas ini, menurutnya sangat membantu korban banjir di Desa Cikeusal. Bahkan warga setempat merasa senang dengan bantuan yang berupa sembako tersebut.

“Harapan kami dihari jadi kabupaten Brebes, kita bukan siapa-siapa melainkan semua adalah saudara,” lanjut Sukim.

Disisi lain, Kades Kedungbokor, Jumarso (34) membenarkan, bahwa Pemerintah Desa (Pemdes) Kedungbokor dalam hal ini, mendukung pergerakan pemuda Rimba Panas yang peduli dengan korban banjir bandang.

“Kami mendukung dan merasa senang dengan adanya pergerakan pemuda yang peduli akan saudara saudara kita yang tertimpa musibah banjir,” ungkap Jumarso.

Tentu dengan dirangkulnya pemuda Rimba Panas, menurutnya, akan membawa sebuah kebaikan dan hal hal yang positip.

“Dan di Hari Jadi Kabupaten Brebes, kami atas nama Pemdes Kedungbokor beserta pemuda Rimba Panas dengan tegas menolak radikalisme dan peredaran narkoba, “NKRI harga mati,” pungkasnya. (*/Gust)

Masuki Usia 342 Tahun, Brebes Makin Mulya

Brebes, Harianbrebes.com,- Memasuki usia 342 tahun pada 18 Januari 2020, Kabupaten Brebes makin Mulya. Terbukti, banyak yang terkesima dengan penampilan Brebes yang makin berkembang dan maju di berbagai sisi. Apalagi dengan ditetapkannya Kabupaten Brebes sebagai Kawasan Industri Brebes (KIB) dan Kawasan Peruntukan Industri Brebes (KPIB) mulai 2020.

“Alhamdulillah di paruh pertama dari periode kedua kepemimpinan Idza-Narjo, Brebes makin Mulya. Apalagi dengan kehadiran KIB dan KPIB,” ujar Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (17/1) kemarin.

Menurut Idza, data BPS menunjukkan angka kemiskinan Kabupaten Brebes tahun 2019 berada di angka 16,22 persen. Angka ini turun dari tahun sebelumnya yakni 17,17 persen. Insya Allah di 2020 angka kemiskinan akan turun lagi. Terlebih Presiden Jokowi telah menetapkan Kabupten Brebes sebagai salah satu kawasan industri nasional melalui Kawasan Industri Brebes dan Kawasan Peruntukan Industri Brebes pada November 2019 lalu. Direncanakan, kawasan industri akan terbentang dari kecamatan Losari, Tanjung hingga Bulakamba.

Selain itu, sebuah kebanggaan bagi kita semua, bahwa produk pasta bawang dari Brebes sudah mulai memasuki pasar ekspor. Terbukti, beberapa waktu lalu telah dilakukan ekspor perdana ke Arab Saudi. Keberadaan kawasan industri dan kemajuan di bidang perekonomian adalah upaya kita mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah sebesar 7% pada 2023 nanti.

Brebes tidak hanya dilirik para investor, tapi para investor sudah menambatkan hatinya dengan bukti menanamkan investasi dengan nilai yang sangat tinggi. Terhitung hingga akhir Desember 2019 sebanyak 24 investor yang telah mendirikan pabrik di Kabupaten Brebes. Dan akan terus berkembang, karena yang masih dalam proses perijinan sebanyak 12 perusahaan.

Kehadiran KIB dan KPIB selain membuka kran investasi seluas-luasnya juga ada peran dari pemerintah pusat dan provinsi. Yakni dengan dipenuhinya berbagai sarana dan prasarana penunjang KIB dan KPIB. Seperti penyelesaian jalan lingkar utara (jalingkut) Wanasari-Kota Tegal, dan nantinya dilanjutkan jalingkut Wanasari-Losari. Juga pembangunan bendungan karet di empat sungai, yakni Kali Pemali, Kali Kabuyutan, Kali Cisanggarung dan Kali Babakan. Selain itu juga akan ditunjang dengan Pembuatan Balai Latihan Kerja dan Pembangunan Politeknik Vokasi.

Untuk mengatasi terjadinya rob dan abrasi, akan dibangun tanggul penahan rob dan abrasi di sepanjang pesisir pantai Brebes, Wanasari, Bulakamba, Tanjung dan Losari.

Selain itu, lanjut Idza, dilakukan revitalisasi Waduk Malahayu Banjarharjo dan Waduk Penjalin Paguyangan yang telah mengalami pendangkalan. Mengingat sejak dibangunnya waduk tersebut belum pernah dilakukan pengerukan. Dengan normalisasi waduk maka kebutuhan air bagi petani akan terpenuhi dan lahan hijau akan tetap lestari meski sektor industri hadir di Brebes.

Hal yang baru adalah pembangunan jalan Tol Brebes-Cilacap dan pembangunan Waduk Bantarkawung yang mampu menampung air hingga lebih kurang 1 milyar kubik.

Keberhasilan Pembangunan 2019

Di tahun 2019, banyak pembangunan fenomenal yang telah dilakukan oleh pemerintahan Idza-Narjo. Pada 26 Desember 2019 lalu telah dilakukan peresmian 58 proyek infrastruktur yang dilakukan dalam sehari dan berhasil mencetak rekor MURI. Proyek-proyek tersebut antara lain, melanjutkan pembangunan RSUD Brebes, pembangunan RSUD Bumiayu, pembangunan Islamic Center, Makam Syeh Junaedi, Stadion Karangbirahi, pembangunan jembatan Wlahar, revitalisasi pemandian air panas Cipanas Buaran, pembangunan puskesmas perawatan jiwa dan Napza dan lain-lain.

Sedang tahun 2020 kini sedang digarap pembangunan RSUD Ketanggungan, Kantor Pelayanan Terpadu (KPT), Pembangunan jembatan Plompong, Pembangunan Pendopo Bumiayu, Perbaikan jalan Losari–Prapag Lor, Jalan Kretek–Kaligua, Rehab Puskesmas Sitanggal dan Kelanjutan Pembangunan Stadion Karangbirahi.

Pretasi regional dan nasional

Meningkatkan dan mempertahankan prestasi adalah cerminan kinerja bagi daerah dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Sepanjang 2019, Kabupaten Brebes menorehkan prestasi antara lain sebagai Kabupaten Layak Anak tingkat Nindya, Satya Lencana Karya Pembangunan Bidang Koperasi, Kabupaten Peduli HAM, Ionvasi Daerah Gerakan Kembali Bersekolah, Empat lembaga pendidikan dinobatkan sebagai sekolah Adiwiyata Nasional, yakni SMP N 1 Jatibarang, SMP 5 Brebes, SD Brebes 02 dan SMA 1 Bantarkawung. Sedangkan Sekolah Adiwiyata Provinsi yakni SD Kalilangkap 02.

Tak hanya sarana fisik yang menjadi sasaran program pemerintahan tetapi juga Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk peningkatan SDM, Pemkab telah menggelontorkan beasiswa untuk siswa SMP/MTs dan SMA/MA/SMK serta Biaya Bidik Misi bagi anak-anak Brebes yang menempuh kuliah. Juga untuk pembiayaan Gerakan Kembali Bersekolah (GKB).

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi terus dilakukan. Jika tahun 2018 AKI sebesar 31 orang, maka tahun 2019 terdapat 37 kematian ibu,  sedangkan untuk AKB tahun 2018 terjadi kematian bayi sebanyak 325 dan akhir tahun 2019 turun menjadi 287 bayi.  

Angka Stunting di Kabupaten Brebes saat ini masih cukup tinggi. Angka stunting di Brebes berdasarkan hasil penimbangan serentak 2019 mencapai 11,47 persen. Karenanya Brebes menjadi daerah terintervensi. Harapan saya program-program daerah dan intervensi pusat dapat segera menurunkan angka stunting ini.

Perubahan perilaku terhadap buang air besar sembarangan juga terus dilakukan oleh Pemkab Brebes dengan dukungan seluruh elemen masyarakat. Untuk itu, disepakati bersama tahun 2020 Kabupaten Brebes terbebas dari ODF atau buang air besar sembarangan. Sebanyak 139 desa dari 292 desa dan 5 kelurahan dengan cakupan akses Jamban 86,07 persen.

Pendataan aset daerah yang dimiliki Kabupaten Brebes telah menunjukan hasil yang sesuai harapan. Karena bisa menjadi acuan dalam penilaian BPK sehingga diharapkan pada 2020 ini, Brebes mendapatkan penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

Hari Jadi Brebes yang jatuh pada 18 Januari, mengambil tema Brebes Mulya. Dikandung maksud Mulya yang berkaitan dengan keluhuran, budi baik, dan sesuatu yang berhubungan dengan martabat.

Di hari jadi ke-342 Kabupaten Brebes menjadi wilayah yang meninggikan martabat pemimpin dan warganya. Sekaligus melantipkan akal budi untuk bekerja memuliakan kemajuan daerahnya. Sesuai dengan semboyan Kabupaten Brebes Mangesti Wicara Ebahing Praja demi tercapainya Visi Kabupaten Brebes yang unggul, sejahtera dan berkeadilan. (Hms/Gust)

Investor Pabrik Pengolahan Limbah B3 di Cimohong Brebes Pastikan Akan Patuhi Aturan

Brebes, Harianbrebes.com,- Pabrik pengolahan lombah bahan berbahaya dan beracun (B3) akan didirikan di Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes. Pabrik yang dibangun oleh CV Bumi Slamet tersebut saat ini dalam proses pembangunan.

Humas CV Bumi Slamet, Raharjo mengatakan, pihaknya sudah mengantongi sejumlah izin, seperti Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dari dinas terkait, hingga ijin yang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

“Kita sedang dalam tahap pematangan lahan, adapun bangunan yang ada CV. Bumi Slamet sudah mengantongi izin dari dinas terkait,” ucapnya, Jumat (17/1/2020).

Ia memastikan, akan mematuhi semua aturan terkait perizinan pendirian pabrik pengolahan limbah B3 tersebut. Termasuk juga izin yang berkaitan dengan lingkungan.

“Justru adanya pabrik ini akan membantu warga Brebes secara keseluruhan. Saat ini sudah banyak pabrik yang berdiri dan belum ada pengolahan limbahnya. Karena itu, agar lingkungan tidak tercemar, perlu adanya pabrik pengolahan limbah,” jelasnya.

Sedangkan terkait aksi penolakan dari kelompok warga, menurutnya, itu sah saja karena bagian dari demokrasi. Hanya saja, ia menyayangkan aksi warga karena kepentingan segelintir orang.

“Itu bagian dari demokrasi. Sehingga jika melakukan penolakan, ya itu sah saja. Yang penting kami bekerja sesuai aturan,” katanya.

Sebelumnya, belasan warga Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes, yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan, melakukan aksi penolakan berdirinya pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Aksi penolakan dilakukan dengan melakukan pemasangan spanduk di beberapa titik dan penggalangan petisi warga Desa Cimohong. Penolakan dilakukan karena warga khawatir akan bahaya limbah B3.

Seorang warga Cimohong, Sakri mengatakan, penolakan dilakukan secara spontanitas. Alasannya, warga khawatir adanya pabrik pengolahan limbah B3 yang dibangun CV Bumi Slamet, nantinya akan berdampak buruk bagi warga dan lingkungan.

“Kami khawatir pabrik itu berdampak dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu kami melakukan penolakan,” kata Sakri. (*/Gust)

Jadi Daerah Industri, Kabupaten Brebes Butuh Pabrik Pengolahan Limbah

Brebes – Kabupaten Brebes telah berubah menjadi daerah industri dengan ditetapkannya Kawasan Industri Brebes (KIB) oleh Presiden RI, Joko Widodo. Dengan begitu, maka akan banyak investor yang masuk dan mendirikan pabrik di Brebes.

Kepala Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Brebes, Ratim mengatakan, dengan banyaknya pabrik yang berdiri di Brebes maka diperlukan adanya pengolahan limbah melalui intalasi pengolahan limbah (IPAL) maupun pabrik pengolahan limbah.

“Selama ini pabrik pengolahan limbah, terlebih limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) memang belum ada di Kabupaten Brebes. Padahal sudah banyak pabrik yang beroperasi,” katanya, Jumat (17/1/2020) saat temui wartawan.

Menurut Ratim, pabrik-pabrik yang sudah maupun akan beroperasi di Brebes pastinya akan menyisakan limbah produksi. Jika tidak ada pabrik pengolahan limbah B3, justru dikhawatirkan pabrik akan membuang limbah sembarangan.

“Pabrik pengolahan limbah memang sangat dibutuhkan. Kalau tidak ada pabrik pengolahan limbah, dikhawatirkan mereka akan membuang limbah sembarangan,” pungkasnya.

Terkait adanya aksi penolakan warga yang mempertanyakan legalitas pembangunan pabrik pengolahan limbah B3 di Desa Cimohong, Bulakamba, pihaknya akan melakukan pengecekan lokasi pembangunan pabrik tersebut. Pihaknya juga melakukan pengecekan dokumen perizinannya.

“Dokumen memang sudah masuk tapi baru tahapan proses. Di kami hanya soal IMB, kalau izin yang mengeluarkan Kementerian LHK. Setahu kami, pabrik itu sudah mengantongi izin prinsip,” jelasnya.

Meski sudah mengantongi izin sekalipun, katanya, sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan. Hal itu karena dampak adanya pabrik nantinya akan berhubungan langsung dengan warga sekitar.

Sebelumnya, belasan warga Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes, yang mengatasnamakan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan, melakukan aksi penolakan berdirinya pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Aksi penolakan dilakukan dengan melakukan pemasangan spanduk di beberapa titik dan penggalangan petisi warga Desa Cimohong. Penolakan dilakukan karena warga khawatir akan bahaya limbah B3.

Seorang warga Cimohong, Sakri mengatakan, penolakan dilakukan secara spontanitas. Alasannya, warga khawatir adanya pabrik pengolahan limbah B3 yang dibangun CV Bumi Slamet, nantinya akan berdampak buruk bagi warga dan lingkungan.

“Kami khawatir pabrik itu berdampak dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu kami melakukan penolakan,” kata Sakri. (*/Gust)

Sambut KIB, Bupati Ingatkan Masyarakat Agar Siapkan Mental

Brebes, Harianbrebes.com,- Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE MH menginginkan masyarakat agar menyiapkan mental dalam menyambut Kawasan Industri Brebes (KIB). Hal tersebut disampaikan Bupati saat Sarasehan hari jadi ke-342 Kabupaten Brebes 2020 di pendopo Kabupaten Brebes,  Kamis (16/7).

Keberadaan Kawasan Industri Brebes (KIB), kata Idza, merupakan suatu keniscayaan yang benar benar akan terjadi. Untuk itu, dirinya mengingatkan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Brebes untuk menyiapkan mental dan keterampilan diri guna menghadapinya.

Menurut Idza dijadikanya Brebes sebagai kawasan Industri sedikit banyak akan membawa perubahan dan pengaruh yang bermacam macam, baik pengaruh yang bersifat positif maupun negatif.

“Saya minta seluruh masyarakat siapkan mental dan keterampilan diri,” ujar Idza.

Sementara itu Kepala Baperlitbangda Kabupaten Brebes, Drs. Edy Kusmartono MSi menyampaikan berbagai hal terkait Kawasan Industri dan Kawasan Peruntukan Industri. Salah satunya terkait akan terbukanya banyak lowongan pekerjaan yang sudah secara khussus diminta untuk diisi oleh masyarakat Brebes sendiri.

Untuk menjawab kehawatiran banyak pihak akan terjadinya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh suatu industry, Edy menyampaikan bahwa pabrik pabrik yang masuk di Brebes diutamakan adalah pabrik yang padat pekerja dan minim limbah.

“ Tenang saja, sudah ada Tim Khusus yang bertugas untuk mengawasi maslah limbah, sehingga pabrik dengan limbah tidak aman maka tidak akan di izinkan berdiri di Brebes,” terang Edy.

Narasumber lain Cendekiawan Muda yang juga merupakan ahli sejarah dan  Editor sebuah media Online asal Kecamatan Ketanggungan Ivan Aulia Akhsan SS mengingatkan keberadaan Kawsan Industri Brebes memang akan menjadikan perubahan besar terhadap Kabupaten Brebes. Baik perubahan sosial budaya maupun taraf hidup dan perekonomian masyarakat sekitar.

Namun demikian menurut Ivan masyarakat diminta jangan terus bergantung pada Kawasan Industri yang ada sehingga kemudian anak muda Brebes enggan untuk menempuh pendidikan lebih tinggi lagi.

“Jangan sampai anak muda kita selesai tamat SMA/SMK kemudian stop untuk mempunyai niat melanjutkan kuliah, karena lulus SMA saja sudah bisa kerja di pabrik,” ujar Ivan mengingatkan.

Selain itu, Ivan juga mengingatkan agar adanya KIB harus bisa lebih mensejahterakan masyarakat, untuk itu perlu adanya peningkatan UMK. Sehingga dapat meningkatkan daya beli masyarakatnya.

Adapun pesan dari Ketua Pengadilan Agama Brebes Abdul Basyir yang juga hadir dalam acara tersebut kepada pemerintah Kabupaten Brebes agar dapat memperhatikan dampak dampak yang ditimbulkan dari KIB, baik yang berupa dampak sosial dan dampak Kamtibmas. (Hms/Gust)

Inilah Pemaparan Berbagai Upaya Tanggap Bencana Tanah Longsor Di Salem, Brebes

Brebes, Harianbrebes.com,- Segala aspek tentang bencana alam, terutama longsor wilayah pegunungan di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dikupas dalam Talk Show Aksi Babinsa Kodim 0713 Brebes, di Studio 2 Radio Singosari Brebes 103.9 FM, Jalan Veteran No. 14, Kauman Baru, Kecamatan/Kabupaten Brebes. Rabu (15/1/2020).

Selaku narasumber yang dihadirkan kali ini adalah Babinsa dari Koramil 13 Salem, Pelda Rahmat, dan Kepala Dusun Sunajati, Desa Gunungjaya, Kecamatan Salem, Diswo Siswoyo (50). Pemandu acara adalah Rara Elshanum atau Siti Khumairoh (31) dan Riri atau Rosi Maulani (27), Penyiar Radio News FM Ketanggungan.

Desa Gunungjaya merupakan salah satu desa yang terletak di lingkungan Pegunungan Lio, Salem, dimana gunung ini sangat terkenal dengan bencana alam longsornya saat terjadi pada Februari 2018 silam, merenggut 18 korban jiwa. Gunung Lio juga merupakan pegunungan yang berpotensi longsor.

Disampaikan Kadus Diswo Siswoyo, bahwa mudahnya aparat keamanan berkoordinasi dengan perangkat desa dan cepat membaur di tengah-tengah masyarakat karena mereka adalah para putra daerah setempat.

“Pihak desa mudah melakukan koordinasi dalam hal apapun di wilayah karena Pak Babinsa dan Bhabinkamtibmas merupakan putra daerah Salem. Termasuk tanggap bencana, masyarakat mudah digerakkan,” ucapnya.

Sementara Pelda Rahmat berupaya memotivasi agar masyarakat serta para pendengar agar mencintai lingkungan yang nantinya akan diwariskan dan dinikmati oleh generasi selanjutnya.

“Kalau ada perusak-perusak hutan di kawasan Gunung Lio dan Perhutani BKPH Salem, KPH Pekalongan Barat, untuk kepentingan sesaat, hendaklah berhenti dan fikirkan bagi anak cucu kita,” ajaknya.

Upaya pembalakan liar atau penebangan yang tak terkendali dapat merusak keseimbangan dan ekosistem hutan sehingga dampaknya jelas longsor/banjir. Seperti contoh adalah hutan di Dusun Sunajati, kini sudah hijau kembali karena masyarakatnya rajin menanam dan merawat pohon.

Menjawab pertanyaan dari salah satu pendengar setia terkait maraknya kecelakaan sepeda motor matic masuk jurang di tanjakan/turunan di Gunung Lio, Babinsa menghimbau agar tidak mematikan mesin motor untuk menghemat BBM pada saat menuruni bukit. Pasalnya, laju motor semakin tidak terkendali karena tidak ada engine brake sehingga hanya mengandalkan rem saja.

Inilah yang memicu angka kecelakaan masuk jurang sebanyak 13 korban jiwa serta 5 orang luka berat dalam rentang waktu 2018-2019, saat menuruni bukit melewati ruas jalan provinsi Banjarharjo, Brebes-Majenang Kabupaten Cilacap.

Sedangkan pertanyaan tentang kewaspadaan pihak terkait dan masyarakat setempat terhadap bencal dan lalin, mereka sudah membentuk relawan gabungan untuk berpatroli di titik-titik yang berpotensi longsor, memasang pembatas jalan darurat dari bahan kayu dan ban bekas di titik rawan kecelakaan (tanjakan/turunan Panginuman, Saninten, Muncang serta Kiara. Setidaknya kurang lebih 200 meter pengaman jalan darurat tersebut terpasang.

Diswo menyatakan, relawan gabungan terdiri dari TNI-Polri, Dishub dan Bina Marga Provinsi, Satpol PP Salem, Perhutani, Libansa (supir mobil pick up L300 lintas Salem-Banjarharjo), Komunitas Bangbara, Banser, para supir travel lintas Salem-Jakarta, Grup Trabas Nalaktak Salem, Karang Taruna Desa Pasirpanjang, Pemuda Pancasila PAC Salem, serta pemrakarsa jalan darurat Gunung Lio.

“Tim ini akan memberitahukan kepada masyarakat jika longsor akan terjadi, sehingga korban jiwa pada musibah sebelumnya dapat dieliminir. Tim ini juga merupakan garda terdepan di Salem dalam penanganan bencana,” pungkasnya.

Kadus yang mewakili masyarakat Salem ini, menyatakan apresiasi kepada dinas terkait (Dinas Bina Marga Provinsi) yang menjadwalkan pemasangan guardrail/pembatas jalan permanen, patok jalan/delineator dan lampu penerangan jalan pada Februari mendatang. (Aan/Gust)

Berita Terbaru