Mengapa Harus Revolusi?

M Yudhie Haryono
o /

Oleh M Yudhie Haryono

Direktur Eksekutif Nusantara Centre

 

 

Untuk kalian yang diam

Masih adakah waktu mendidik saat semua struktur dan suprastruktur rusak dan sakit? Begitu rusaknya sampai aku berkeyakinan jika para nabi diturunkan di indonesia juga akan menyerah. Begitu bejat moral bangsa ini di semua lini. Tak ada yang tidak korupsi. Tak ada elite yang tidak mengkhianati. Tuhanpun sudah tak peduli. Hiper-liberalisme dan ultra-neoliberalisme sudah nyata di semua sudut kehidupan kita. Mari kita cek kegiatan para pemangku republik:

 
Tahukah kalian tugas politisi di Indonesia? Adalah memastikan karpet merah dipasang saat para penjajah datang sambil mengedit undang-undang yang melindunginya dari amuk warga negara. Berebut recehan demi dasi dan nginap di rumah bordil karena istri-istri mereka kini sibuk menghabiskan sisa korupsi dana dari APBN. Kadang-kadang, sambil tersenyum mengejek warga negara saat tangan mereka dibergol KPK.

 

Tahukah kalian tugas ekonom di Indonesia? Adalah menghitung berapa uang yang beredar, berapa jumlah perusahaan dan berapa keuntungan dari bisnis asing dan aseng. Mereka adalah orang-orang sangat cerdas yang tahu duit tapi “tak punya duit.” Mereka masuk kategori “working class” yang tak lebih mulia dari polisi cepek di jalan-jalan. Ekonom kantong budak. Itulah sesungguhnya ilmuwan ekonom kita!

 

Taukah kalian tugas serdadu di Indonesia? Adalah baris-berbaris menghabiskan APBN sambil menjaga aset-aset asing dan aseng dari usaha nasionalisasi yang dituntutkan warga negara. Di saku mereka banyak dollar karena tips uang judi, narkoba, illegal logging, illegal fishing, money laundring dan bisnis lendir. Sesekali mereka baku tembak sok jagoan di depan tuannya agar warga negara tahu betapa jahilnya perbuatan mereka. Bukan merah putih dan sapta marga di dadaku tapi merah rupiah dan sapta pesona impianku.

 
Tahukah kalian tugas presiden dan kabinet Indonesia? Adalah memastikan bekerjanya satu kurikulum dari hilir neoliberalisme yaitu freedom financial. Roadmapnya: perbankan, asuransi, investasi, utang, kurs, valuta asing, devisa dan penetapan mata uang internasional yang memosisikan warga negara menjadi warga melarat dan menderita. Paria di negerinya sendiri dan mengaku merdeka dalam penjajahan yang terus berlangsung hingga seribu tahun lagi.

 
Tahukah kalian tugas mahasiswa, ilmuwan, elite agamawan dan sastrawan-budayawan kini terhadap Indonesia? Mereka berlomba-lomba menghilangkan harga diri (mental konstitusional) sebagai pintu masuk bagi keberanian korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN); sambil memupuk mental oligarki, kleptokrasi, kolonialisasi dan kartelisasi. Padahal, korupsi dari pejabat tinggi merupakan sumber pembusukan moral dan komitmen keadilan. Dalam peribahasa Latin dikatakan, corruptio optima pessima, pembusukan moral (korupsi) dari orang yang tertinggi kedudukannya adalah yang paling jahat dan sadis.(*).

LEAVE A REPLY