Prof. Tri Marhaeni : Penelitian Mudah asal ada Kemauan Keras

Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti M.Hum, Dosen Pascasarjana UNNES, saat memberikan materi pada seminar Nasional Guru Mulia Karena Karya, Sabtu (3/12), di Gedung PGRI Kabupaten Brebes. [Foto; Humas Brebes]

Brebes, Harianbrebes.com—Penelitian pada hakekatnya sangat mudah, asalkan ada kemauan keras. Semuanya bisa melakukan penelitian, namun tidak bisa rampung karena tidak ada kemauan. Apalagi bagi seorang guru, yang setiap hari menekuni dunia tulis menulis dan menghadapi permasalahan dengan berbagai latar belakang yang bisa dijadikan bahan kajian. Kata Dosen Pasca Sarjana UNNES Prof Dr Tri Marhaeni Pudji Astuti MHum, Sabtu (3/12)

“Kita terlalu manja, sehingga tidak mampu merampungkan jenis penelitian yang kita kaji,” ujar Tri Marhaeni yang juga peraih Doktor Antropologi UGM Yogyakarta 2005 saat menjadi pembicara pada seminar nasional Hari Guru Nasional dan HUT ke-71 PGRI Tingkat Kabupaten Brebes di Gedung Guru Brebes.

Menurut Tri Marhaeni, dalam mengambil obyek penelitian tindkan kelas (PTK) tidak perlu muluk-muluk. Cukup yang dihadapi guru di dalam kelas maupun sekolah. Masalah diangkat langsung dari masalah yang dihayati guru dalam keseharian di kelas. Bisa juga, masalah yang diteliti merupakan masalah yang paling merisaukan selama guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Sehingga dalam melaksanakan PTK, guru tidak perlu meninggalkan kelas karena dilakukan dimana guru mengajar.

“PTK ini, semata-mata untuk perbaikan mutu pembelajaran di kelas jadi tidak perlua keluar dari koridor pembelajaran,” ucap wanita cantik kelahiran Grobogan 9 Juni 1965.

Dalam penelitiannya, Tri Marhaeni memaparkan, pelaksanaan tindakan hendaknya konsisten dengan rancangan yag telah dibuat. Penting diingat, pelaksanaan PTK dari siklus ke siklus metode, model, strategi, teknik (tindakan ) pembelajaran yang diterapkan harus sama.

“Yang harus diulang dari siklus ke siklus adalah metode pembelajaran yang diterapkan atau tindakan,” tandas Tri yang juga Tim Penilai Angka Kredit Tingkat Nasional untuk Pengawas Sekolah dan Guru sejak tahun 2008.

Lewat PTK, lanjutnya, hasil yang bisa diambil berupa peningkatan atau perbaikan kinerja guru di sekolah. Peningkatan atau perbaikan mutu proses pembelajaran di kelas, peningkatan atau perbaikan kualitas penggunaan media, alat bantu belajar, dan sumber belajar. PTK juga bisa meningkatkan dan memperbaiki prosedur dan alat evaluasi yang digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar siswa serta perbaikan masalah-masalah pendidikan di sekolah.

Ketua Panitia Sri Mulyaningsih melaporkan, seminar ini digelar sebagai upaya peningkatan pemahaman guru untuk membuat PTK atau PTS. Sebab PTK dan PTS menjadi salah satu persyaratan seorang guru dalam kenaikan pangkat ke IV/c.

Di Brebes, sudah ada 347 guru yang dilatih secara intensif. Pelaksanaan pelatihan tahap pertama berada di Salem, Bumiayu, Tonjong, Ketanggungan dan Losari. Untuk tahap 2 sebanyak 250 orang guru di Brebes, Wanasari, Losari dan Salem juga mendapatkan pelatihan serupa.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes Dr Tahroni pada sambutan pembukaannya menyikapi tentang moratorium Ujian Nasional. Penghapusan UN, menurutnya sangat bagus karena Menteri Pendidikan Nasional telah melihat kondisi riil di tiap daerah. Dengan tidak melihat level sekolah, kewenangan penuh kepada daerah, kepada sekolah.

“Mari dukung moratorium UN tanpa harus ciptakan konflik,” ajaknya. [Red-Hb/Arkana]

LEAVE A REPLY