Soewardi Wirjaatmadja; Perang Kobokan di Banjarharjo, ingatkan Arti Perjuangan Pahlawan

Ir. Iskandar, MM, Ketua DHC 45 saat memberikan sambutan bersama tokoh masyarakat Brebes, HM. Supriyono (Mantan Asisten 1 Brebes), Drs. Kustoro, MM (Asisten 3 Brebes), Gunawan Wibisono (Mantan Dandim 0713), dan Tokoh Senior H. Soewardi Wirjaatmadja, SH), Pada Diklat DHC BPK 45, Kamis (8/12) Foto: Humas Brebes]
o /

Banjarharjo, Harianbrebes-Dewan Harian Cabang (DHC) Badan Penerus Pembudayaan Kejuangan 45 (BPK 45) mengajak kepada generasi pemuda untuk mendalami arti perjuangan para pahlawan bangsa. Hal ini penting dilakukan untuk menghargai jasa Mereka sehingga mampu memiliki semangat untuk meneruskan perjuangannya demi tetap tegaknya NKRI.

 
“Generasi muda berpotensi kuat meneruskan perjuangan bangsa dan Negara,” ucap Ketua DHC BPK 45 Kabupaten Brebes Ir Iskandar MM saat menyampaikan sambutan Pendidikan dan Latihan Kebangsaan di Balai Desa Banjar Lor, Kecamatan Banjarharjo Brebes, Rabu (7/12).

Iskandar meminjam pidato Bung Karno yang mengibaratkan kekuatan pemuda dalam bela Negara.
“Beri aku 10 pemuda untuk mengguncang dunia,” tegasnya.

Kondisi perjuangan tempo dulu, lanjut Iskandar, lewat panggul senjata dan pengorbanan harta, dan nyawa. Namun perjuangan di era kini jauh lebih sulit, karena melawan bangsa sendiri. Untuk itu, Iskandar mengingatkan agar jangan mudah dipecah belah. Termasuk didalam perjuangan sekarang adalah jangan korupsi, jangan narkoba, jangan seks bebas.

Asisten III Sekda Brebes Kustoro yang mewakili Plt Bupati Brebes menilai bahwa generasi muda mulai dilanda krisis identitas. Penyebabnya antara lain adanya budaya asing yang menyusup, generasi muda lebih menghargai budaya modern yang dianggap baik bagi dirinya. Untuk itu, penting mengulang peristiwa perjuangan, guna membangkitkan kembali semangat juang generasi muda.

“Diklat ini, sangat baik untuk menggugah kembali semangat generasi muda terhadap kejuangan pejuang Brebes terutama pada pertempuran Kobokan,” ucap Kustoro.

Kustoro melihat, isu perpecahan, upaya adu domba banyak bermunculan di bumi pertiwi. Dia masih percaya kalau generasi muda mampu menjadi benteng fisik dan mental untuk mempertahankan NKRI.

Bagi para orang tua, dia berpesan untuk selalu ing ngarso sung tuladha, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani.

Atas nama pemerintah daerah, Kustoro juga menyampaikan pesan pilkada agar masyarakat Brebes bisa secara aktif pada pilkada 15 Februari 2017 mendatang. Partisipasi masyarakat dalam pilkada merupakan bagian dari perjuangan di alam demokrasi ini.

Dalam kesempatan tersebut, Kustoro menyerahkan bantuan operasional untuk masing masing Dewan Harian Ranting kepada 17 DHR masing masing Rp 1 juta. Bantuan operasional tersebut bisa digunakan untuk pembentukan Dewan Harian Anak Ranting yang ada di desa-desa.

Diklat yang berlangsung sehari tersebut diisi antara lain oleh H Soewardi Wirjaatmadja, Dosem STAI Brebes Hj Sulaemanah dan mantan Dandim 0713/Brebes Gunawan Wibisono.

Tokoh senior Brebes H Soewardi Wirjaatmadja menceritakan tentang perang antara Belanda dan Indonesia di Dukuh Kobokan, Kecamatan Banjarharjo pada Agustus 1947. Pertempuran sengit disiang bolong itu terjadi di perempatan dengan batas timur di Desa Banjar Lor, selatan Desa Banjarharjo, barat desa Tegalreja dan utara di desa Kubangpari.

“Pasukan tentara dari BKR dipimpin Pratikno dan TKR dipimpin Bakja. Sebanyak 90 Tentara Indonesia gugur, sementara dari pihak Belanda 32 serdadu tewas,” papar Mbah Wardi panggilan akrabnya.

Diklat diikuti 100 peserta dari Pramuka dan Karang Taruna utusan dari masing-masing kecamatan. Juga para pengurus DHC BPK 45 Ranting di 17 Kecamatan serta anggota Veteran. [Red-Hb/Arkana].

LEAVE A REPLY