Resensi Buku Tentang Ruang

Buku Tentang Ruang Karya Avianti Armand, diresensi oleh Shinta Kusumasari, mahasiswi Jurusan Teater semester V, FSP, ISI Yogyakarta, kelahiran Bumiayu.

Judul Buku : Buku Tentang Ruang
Penulis : Avianti Armand
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Halaman : 155 halaman
Tanggal Terbit : Cetakan Kedua Agustus 2016
ISBN : 978-602-03-2729-7

BUKU ini merupakan kumpulan puisi kedua karya Avianti Armand, seorang arsitek, setelah kumpulan puisi Perempuan Yang Dihapus Namanya (November 2010) mendapatkan penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2011. Pada kumpulan puisi kedua ini, Avianti kembali berbicara tentang perempuan, namun secara lebih berjarak. Berjarak bukan berarti berjauhan karena Avianti tetap menggunakan simbol-simbol yang dekat dengan sosok dirinya. Lewat puisi-puisi dalam kumpulan ini, pembaca diajak mengenali sosok perempuan yang teguh, hebat, dan kokoh, namun tak lepas juga dari kesedihan dan keresahan. Ia menggambarkannya secara simbolis melalui ruang-ruang tanpa batas.

 
Apabila diselami lebih lanjut, terdapat beberapa simbol dominan dalam kumpulan puisi ini: Pintu yang menggambarkan kedatangan dari dalam, kepulangan, dan kesadaran dari dalam diri, yang kemudian lebih mengacu pada hati; jendela: pengetahuan dari luar, kesadaran hal-hal baru dari luar diri, serta segala sesuatu yang berhubungan dengan pikiran; dinding, yang menggambarkan pembatas diri serta kegelisahan yang sulit ditembus; serta kursi yang melambangkan penantian, keresahan, harapan, kesedihan, kegelisahan.

Simbol-simbol tersebut diselipkan dalam kalimat-kalimat puitis yang sangat lugas, tidak bertele-tele, mudah dicerna, namun memberikan keleluasaan yang luas bagi pembaca untuk menghadirkan makna tersendiri. Avianti menghadirkan “ruang” interpretasi yang luas bagi pemaknaan puisi-puisinya yang ditampilkan berselang-seling antara puisi-puisi panjang seperti “Serigala”, “Buku Harian”, dan “Tentang Sebuah Rumah” dengan puisi-puisi singkat seperti “Lampu”, “Gelas”, “Pigura”, “Layang-Layang” dan “Kertas”.

Puisi-puisi Avianti cenderung naratif dan deskriptif. Beberapa puisinya dituliskan dengan gaya bercerita yang santai dan to the point. Gaya yang sama dengan yang ia gunakan pada penulisan cerpen-cerpennya pada kumpulan cerpen Negeri Para Peri dan Kereta Tidur. Gaya naratif yang kental dapat kita lihat pada puisi “Hantu Waktu” misalnya, yang terbagi menjadi sepuluh fragmen yang masing-masingnya terasa seperti dongeng yang dipenuhi deskripsi mendetail tentang suasana yang dibangun.

Aku telah melihat segalanya:
Salju dan abu.
Roda kereta dan kuda.
Orang-orang yang bergegas menembus dingin yang menggumpal.
Lalu ambang membentang ruang, jendela memaparkan waktu.
(Armand, 2016: 11)

Keresahan dan kepedihan sangat terasa dalam setiap fragmen puisi ini, namun tidak dengan bahasa yang mendayu-dayu, melainkan lebih dengan penggunaan gambaran-gambaran lugas tentang kekosongan dan rasa hampa.

Di balik pintu itu ada ruang tinggi dan lengang.
Dan di baliknya ada ruang
tinggi dan lengang
yang bercerita tentang sayap-sayap yang lumpuh.
Lalu kau katakan sesuatu pada gambar bisu itu,
“Aku dan dia punya sebuah rahasia.”
(Armand,2016:15)

 
Dapat disimpulkan bahwa ada dua tema besar dalam Buku Tentang Ruang: perempuan dalam keresahan serta kegelisahan tentang kenangan yang membelenggu. Meski singkat, kadang puisinya sarat dengan gambaran keputusasaan, seperti yang tergambar dalam puisi “Lampu”:

Tak ada selain lampu yang dia ingat.
Mungkin karena laki-laki mabuk itu menunjuknya sebelum rubuh ke lantai.
Mungkin karena dalam bising dan pekat asap
ia menjelma ngengat yang menggerogoti kepalanya.
(Armand, 2016:85)

Begitu juga dalam puisi “Kertas”:

Kelak ketika tak ada lagi pohon untuk menulis,
sajakku akan gersang dan kelaparan.
Hatimu akan berpuasa tanda setia.
Dan kita akan berbaring di kaki maut,
dengan alas berlembar-lembar kertas.
(Armand, 2016:93)

Kedua puisi di atas menunjukkan upaya Avianti menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang deskriptif untuk menggambarkan semacam kehampaan dan kesedihan yang tidak jelas benar penyebabnya, namun dapat dirasakan lewat atmosfer yang dibangun dalam puisi-puisi tersebut.
Meski demikian, dalam kumpulan ini, Avianti juga menghadirkan gaya berpuisi yang cukup jenaka, seperti pada puisi “Hal-Hal yang Wajar Hari-Hari Ini” yang ditulis lebih menyerupai iklan baris:

Perempuan Organik, 44 tahun, menarik, sehat tanpa suplemen, obat-obatan pelangsing dan pemutih, mandiri, subur, rajin beribadah. Mendambakan pria organic, seusia, six packs, tidak impoten, dan berkecukupan: cukup kaya, cukup setia, cukup lucu. Diutamakan yang tidak bau badan.
(Armand, 2016:111)

Secara garis besar, Buku Tentang Ruang ini sangat menarik untuk dibaca karena sudut pandang Avianti yang seorang arsitek cukup menghadirkan nuansa baru bagi khazanah puisi di Indonesia. Puisi-puisinya tidak rumit, cenderung gamblang, dan mudah dinikmati semua kalangan. Ruang-ruang yang ia hadirkan lewat puisinya juga cukup beraneka ragam sehingga pembaca dimanjakan dengan berbagai variasi yang ada. Ruang untuk interpretasi pun menjadi tidak bersekat karena sebagian besar puisinya mengangkat tema-tema yang secara umum dirasakan setiap orang.

Diresensi oleh:
Shinta Kusumasari,
Mahasiswi Jurusan Teater semester V, FSP, ISI Yogyakarta, kelahiran Bumiayu

LEAVE A REPLY