Asing-Aseng?

Zezen Zaenal Mutaqin ( Ang Zen)

Oleh Zezen Zaenal Mutaqin*
LAGI musim ribut asing-aseng, boycot roti ini dan toko waralaba itu. Mari kita merenung tentang ketebelece asing-aseng ini. Jangan nyinyir, saya menulis dengan gaya satir.
Coba lihat disekelilingmu, apa yang ada. Ini yang saya punya: jam yang saya pakai dengan harga yang lumayan, Seiko, adalah buatan Jepang. Laptop yang dipakai mengetik ini dibuat di Cina namun perusahaannya berasal dari Amerika (Macbook Apple); telepon genggam dirancang dan dikembangkan di Lembah Silikon, USA dan dibuat di China; pendingin ruangan itu bermerek ‘Toshiba’: jelas Jepang. Speaker jinjing untuk mendengar musik bermerk JBL, pasti bukan buatan Bandung. Baju saya memang di jahit di Indonesia, namun keuntungannya mengalir jauh ke Spanyol (Zara). Sementara sepatu yang sudah rada kumal ini dibuat di Ceko dan dengan merek Italia.

Apalagi? Saya penasaran membalik cangkir teh kramik yang setiap hari dipakai untuk meminum kopi: dibuat di China. Telepon itu: Panasonic, Jepang punya, Bro. Lampu Philips: namanya saja jelas bukan Indonesia, itu punya Belanda. Kalkulator itu, yang selalu memudahkan saya menghitung anggran dan laporan, Casio, dibuat di China dan dimiliki oleh perusahaan Jepang. TV yang beru dibeli: Toshiba, Jepang punya.

Ah, staples ini mungkin buatan Cikarang atau Surabaya. Ternyata bukan! Sampai teknologi semudah satples saja harus dibuat dan dibeli dari Jepang! Gila.
Kampret, perusahaan pembuat celana dalam saya juga ternyata tidak dimiliki orang Indonesia–mereknya apa, itu rahasia terdalam hidup saya. Anda tak perlu tahu.
Karena penasaran, saya pergi sebentar ke toilet untuk buang air sekalian survei kecil-kecilan. Sialan, semua isi kamar mandi, dari shampo sampai sabun cuci tangan, semuanya punya asing meski bukan aseng (Unilever, Jhnson&Jhnson, Kao)

Belum lagi melihat jalanan dan dunia luar: motor, mobil, alat berat, pesawat, restoran, bangunan dan semua tetek bengeknya seperti semen, cat tembok, bohlam dan neon jalanan sampai rokok yang iklannya di mana-mana: semuanya bukan milik kita, Bro, Sis. Gila. Lalau setelah 50 tahun lebih merdeka, apa yang kita bisa buat dan kita miliki! Apa?

Saya bukan tipe orang yang chaufinistik dan membabi buta pada nasionalisme. Bukan juga orang anti asing. Bukatinya, lebih separuh apa yang saya pakai dan saya miliki bukan milik Republik ini. Pasti, sebagian dibuat di sini dan karena itu mendatangtkan rezeki pencaharian dan menggerakan roda perekonomian. Saya faham betul hal itu.

Namun, kenapa sampai staples saja kita tak bisa produksi yang bagus? Kenapa kolor dan baju saja, teh dan kopi saja, harus kalah sama produk luar. Pertanyaan kapan kita bisa produksi mobil dan dan barak elektronik canggih terlalu sadis ditanyakan sekarang. Tapi kenapa bisa kita tak eksis sama sekali untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kta sendiri.
Tak kebayang jika suatu saat nanti semua pemilik perusahaan-perusahaan itu memutuskan untuk pergi. Apa yang tersisa wahai bangsa bebal? Akan ada jutaan orang nganggur, ekonomi dalam sekejap runtuh, negeri ini bubar.

Strategi Budaya
SAYA yakin persoalannya bukan karena kita ini bodoh-bodoh. Bukan. Ada banyak orang hebat di negeri kita. Namun orang-orang hebat itu tidak dikoordinasi dan disinergikan untuk bergerak pada satu arah yang sama. Sederhananya: bangsa ini tak punya strategi budaya. Orang-orang pintar akhirnya pintar dan kaya sendiri.

Strategi budaya ini butuh komando dan kemauan politik. Harus dikawal oleh kepemimpinan yang kuat dan inspiratif. Pemimpin inilah yang akan memimpin orkestra raksasa rakyat indonesia menjalankan strategi kebudayaan yang telah dan terus menerus dirumuskan dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Dulu Bung Karno punya strategi budaya yang sederhana namun sangat mengena: ber-di-ka-ri alias berdiri-diatas-kaki-sendiri. Itu adalah strategi budaya sederhana namun unggul. Bung Karno ingin, dengan bantuan negara lain tentunya, suatu saat negara ini menjadi negara yang mandiri dan berdaulat, negara yang bisa menyediakan cukup selempak, staples, dan peneiti untuk negaranya sendiri; bangga datang ke restoran yang dibuat, dimiliki dan dimasak oleh anak-anak negeri; mengendarai mobil bermerek ‘Dasep’. Dan karena itu tidak terlalu tergantung pada kiriman celana dalam, staples, air soda dan mesin mobil dari negara lain.

Tapi sayang strategi budaya itu dianggap sedikit norak, apalagi oleh para ekonom yang pandai-pandai. Kalau bisa dapat barang murah dari China dan buat sendiri lebih mahal, buat apa produksi sendiri? Tidak efisien. Tanpa modal asing dan investasi tidak mungkin bisa maju dan berkembang. Dan anu, dan anu. Saya bukan enokom jadi tidak tahu. Tapi intinya para ekonom yang pandai itu selalu menganggap wajar perdagangan, investasi dan keterbukaan ekonomi. Setuju. Saya setuju, sepanjang keterbukaan itu tidak lantas membuat kita tergantung pada pihak lain. Kita harus membuat keterbukaan ekonomi itu menjadi alat kemandirian, bukan ketergantungan.

Rumusannya dari dulu memang begitu. Selalu saja pihak luar masuk membawa investasi dengan iming-iming transfer teknologi. Nanti kita akan bisa buat mobil canggih dan kereta sendiri kalau membolehkan perusahaan Jepang masuk, bisa buat komputer hebat kalau memolehkan US masuk dan bermitra. Faktanya? Kita yang naif dan lugu. Mana ada orang mau kasih rahasia kesuksesannya. Mana ada orang mau kasih teknologi yang susah payah mereka temukan, yang dihasilkan oleh percobaan dan investasi mahal. Mana ada!

Teknologi dan inovasi itu hanya mungkin kita miliki kalau kita curi. Ya harus dicuri karena kalau menunggu diserahkan dan ditransfer, tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun. Airbus, perusahaan pesawat Eropa itu, membeli pesawat dari Boeing, saingan mereka di Amerika. Tapi pesawat itu hilang dan tidak dipakai. Ternyata pesawat itu dibedah dan dipreteli untuk dijiplak. Jepang pada tahun 50an sedang belajar membuat mobil sendiri. Toyota saat itu adalah produsen mobil kacangan. Mereka beli mobil-mobil dari Eropa dan mereka bongkar, preteli, teliti dan jiplak!. Samsung langsung mempreteli iPad dan iPhone begitu produk itu booming di pasaran. Tujuannya: jiplak!

Taklama setelah mereka menjiplak dan meniru,mereka sudah bisa mengalahkan para guru mereka. Apple bisa disaingin, Toyota menjadi raja, Airbuss sama-sama sukses bersaing dengan Boeing.

Sekarang yang sedang melakukan strategi yang sama adalah China. Buat orang china, sekarang fokusnya adalah bagaimana bisa mengkopi, mereplikasi atau menjiplak produk-produk suskses yang ada dipasaran. Mereka buat motor Jialing yang mirip Honda namun dengan kualitas kacangan, mobil Cherry, telepon genggam Xiaomi dan Htc. Tapi tunggu 10 tahun lagi. Bisa jadi mereka merajai. Mirip Lenovo yang dulu adalah produk kelas teri kini menjelma raksasa.

Strategi seperti ini oleh para sejarawan ekonomi disebut sebagai strategi emulasi. Emulasi adalah strategi yang digunakan oleh bangsa tertetu untuk menyamai pencapaian pesaiangnya. Dan emulasi itu selalu menempuh rute yang sama, sejak Raja Inggris meniru mesin pemintalan wool dari Spanyol sampai Samsung meniru Apple: imitasi, inovasi dan kreasi.

Strategi budaya emulasi sebenarnya menggambarkan perkembangan natural semata. Ketika anak tumbuh dan berkembang, hal pertama yang dilakukannya adalah dengan meniru. Meniru cara bicara ayah ibunya, meniru cara membuka tutup botol, meniru cara menulis dan lain-lain.
Perkembangan peradaban juga sama. Untuk maju, pertama-tama kita harus bisa meniru: membuat persis sama produk yang ada. Itulah yang dilakukan Raja Henry VII di Inggris pada abad perengahan saat melarang eksport bahan baku wool dan mendorong produksi pengolahan wool sendiri. Itulah yang dilakukan Toyota dan Airbuss saat mempreteli produk yang baru mereka beli. Itulah yang dilakukan China sekarang.

Tapi lebih dari itu, elumasi butuh satu hal penting agar tumbuh dan beranjak pada pase inovasi: politik pemerintah yang pro industri dalam negeri. Inovasi adalah langkah dimana ketika sudah bisa menjiplak produk yang ada, disesuaikan dengan kebutuhn yang mungkin baru muncul. Mana ada produk handphone mirip iPhone dengan dual sim card kalau bukan hasil ’inovasi’ China? Mesin-mesin mobil buatan Eropa itu dibuat lebih irit bahan bakar oleh para produsen mobil Jepang agar lebih laku.

Inovasi itu muncul lewat penelitian dan riset, investasi dan keberpihakan. Dan dalam hal ini pemeriantah harus turu tangan. Riset itu mahal, Bro. Tangan pemerintah harus hadir di sana untuk meringankan, membantu dan menjembatani antara peneliti dan industri. Tanpa inovasi dan riset, serta dorongan pemerintah (dalam bentuk insentif pajaklah, atau grant penelitianlah) sulit rasanya staples dan selempak buatan dalam negeri bersaing! Apalagi mobil dan keretanya.

Mungkin pada jangka pendek akan banyak efek negatif: barangnya kurang bagus dan mahal, tidak efisien, pemborosan anggaran negara dan lain-lain. Tapi kapan kalau tidak dimulai? Pada jangka panjang, seiring dengan ‘inovasi’ produk yang sepertinya tak berkualitas akan semakin bagus. Lihat POLYTRON! Dulu orang menganggap produk ini kelas dua saja. Sekarang, produk buatan Indonesia ini perlahan dicintai, minimal oleh kalangan bangsanya sendiri. Kalau anda pernah ke bandar udara di kawasan Asia Tenggara, TV merk Polytron jadi tv display di beberapa bandara.

Kalau anda suka bersepeda, Polygon adalah merk yang mulai mendunia, dibuat di Jawa timur. Suka donat? J.Co mulai menjadi makanan kesukaan di Manila, Kuala Lumpur dan Singapura. Asli produksi Jhonny Andrean yang awalnya tukang cukur itu. Di Bandung kita sudah bisa buat pesawat kelas kecil dan mulai akan buat kelas menengah. Kapal perang dibuat di Surabaya. Senjata seperti pistol dan laras panjang dibuat oleh Pindad. Indomie dan Kopiko merajai dunia untuk urusan kelas mie-miean.

Artinya, kita punya banyak harapan dan potensi. Senang rasanya kalau nanti ada lebih banyak barang yang saya pakai dibuat dan dimiliki sendiri oleh tangan-tangan anak negeri. Tapi juga jangan naif dengan menutup diri dan tidak terbuka pada produk luar negeri.[]

 sedang Belajar di Amerika UCLA School of Law Graduate Studies , tulisan-tulisan ciamiknya dapat diakses di www.zenzaenal.com / Facebook Zezen Zaenal  Mutaqin.

LEAVE A REPLY