Kalau Masih Marjinalkan Wanita, Primitif.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Tri Wuryaningsih M.Si Pada Seminar Hari Ibu Brebes di Pendopo, Senin (19/12). [Foto: Humas Brebes]
>

Brebes, Harianbrebes.com-Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Tri Wuryaningsih M.Si menilai primitif kalau masih memarjinalkan perempuan. Sebab manusia memiliki derajat yang sama dimata Allah, kecuali bagi yang bertakwa. Bahkan wanita, telah diangkat derajatnya hingga setara dengan laki laki.

“Sangat primitif, kalau masih memandang rendah terhadap wanita,” demikian disampaikan Tri Wuryaningsih saat mengisi seminar Hari Ibu tingkat Kabupaten Brebes, di Pendopo Bupati Brebes, Senin (19/12), dengan ratusan peserta yang hadir.

Sejak Nabi Muhammad SAW diutus ke muka bumi, lanjutnya, wanita sudah ditingkatkan derajatnya. Bahkan Siti Khadijah, menjadi pemeluk Islam yang pertama dari seorang wanita. Khadijah menjadi wanita perkasa, pengusaha besar

Tri menandaskan, bahwa banyak wanita yang memiliki kemampuan lebih dalam berbagai jenis pekerjaan dan disiplin ilmu. Dari pemimpin nasional sampai pemimpin daerah, wanita bisa memegangnya. Meski demikian, masih pelabelan negatif atau stereotype masih melekat di tubuh wanita seperti, wanita hanya sekadar berkutat di sumur, dapur, kasur, macak, masak, manak “sekedar ibu rumah tangga” dan dianggap sebagai pengangguran, kalaupun bekerja dianggap sebagai perpanjangan peran domestik.

Padahal, wanita bisa berperan ganda, seperti sebagai perawat, pendidik anak, pendamping suami, juga pencari nafkah tambahan.

“Perempuan pencari nafkah utama masih harus mengerjakan tugas domestik,” ulasnya.

Meski demikian, lanjutnya, perempuan kerap mendapatkan Violence atau kekerasan secara fisik maupun non fisik. Kekerasan tersebut berupa larangan untuk belajar atau mengembangkan karir, penggunaan istilah yang menyebut ciri fisik atau status sosial: bahenol, janda kembang, perawan tua, nenek lincah, dan seterusnya.

Wanita kerap mendapat tindakan yang diasosiasikan sebagai pernyataan hasrat seksual seperti kerdipan, suitan, rangkulan, green jokes. Pemaksaan atau sebaliknya pengabaian penggunaan kontrasepsi, Pencabulan, perkosaan, incest.

selain itu, Pembatasan atau pengabaian pemberian nafkah, penggunaan genitalitas perempuan sbg alat penaklukan baik pada masa damai ataupun perang. Perselingkuhan atau poligami tanpa izin isteri, pemukulan atau penyiksaan fisik lain, pengurungan di dalam rumah, pemasungan hak-hak politik. Juga pemaksaan perkawinan, pemaksaan pindah agama mengikuti agama pasangan, perendahan martabat perempuan semata-mata sebagai objek seks dalam iklan.

Plt Bupati Brebes Budi Wibowo dalam sambutan pembukaannya mengajak kepada para kaum hawa untuk tidak cengeng. Tetap bersemangat dengan berbagai bekal ilmu dan kemampuan yang dimiliki secara maksimal untuk pengabdian kepada keluarga dan Illahi.

“Wong wadon aja dadi ketiplak karo umpakan (bulan bulanan), tetaplah berkarir dengan tidak meninggalkan kodratinya sebagai seorang wanita,” tuturnya.

Ketua Panitia Hari Ibu ke-88 Aqilatul Munawaroh menjelaskan, PHI tingkat Kabupaten Brebes selain seminar juga diadakan ziarah ke taman makam pahlawan, donor darah, upacara, sosialisasi LPG non subsidi, dan bantuan siswa miskin berprestasi. [Red-Hb/Arkana]

LEAVE A REPLY