Suka Duka Gaji 600 Ribu Per Bulan

Anita Dewi [Dok.Pribadi]

Oleh Anita Dewi

 
PAGI itu tak begitu istimewa bagi saya dan keluarga, walau mungkin bagi sebagian orang merupakan hari bersejarah karena berangkat kerja di awal tahun 2017. Sebagaimana mereka yang menancapkan titik semaogat diawal tahun tentu aku pun demikian.

Hanya bedanya mungkin mereka para pejabat lebih fres karena liburan akhir tahun yang diisi dengan jalan – jalan bersama keluarga. Kalau saya lebih pada berkumpul dengan keluarga dan tidak kemana – mana.

Tentu ini bukanlah pilihan tapi lebih pada menyikapi keadaan dan mencoba menikmati yang ada. Mendung tipis bergulung memayung dijalanan setapak kala itu 3 januari 2017 seperti biasa ku berangkat menuju tempat kerja.

Jarak rumah dan tempat kerja yang lebih dari 15 KM membuat saya memilih jalur pintas dengan berlangganan menyeberangi sungai PEMALI Brebes.

Sungai yang terbilang besar dalam deretan sungai – sungai di jawa tengah. Yah…orang Brebes lebih akrab dengan Sebutan Kali Pemali.

Melihat mendung yang tampak manyun seolah menandakan kemurunganya saya sudah pesimis bakal gagal saya menyeberangi sungai dengan sepeda motorku yang terkadang jadi rebutan saya dengan suami saya. Selalu usaha dan mencoba adalah kebiasaan saya.

Benar saja prau butut yang biasa membawaku ke seberang kulon pemali tampak tersangkut dan tak berpenghuni. Badanya terombang ambing oleh arus deras Pemali seolah sampah yang akan di telan arus menuju muara.

Jalanan yang becek karena genangan air membuat aku putar arah memilih jalan darat dengan melintasi kota Brebes. Kotaku yang hampir tak pernah ku lewati karena saya sudah menjadi pelanggan tetap jukung penyebrangan.

Jukung sebutan perahu kecil bagi masyarakat Brebes yang memperpendek jarak menuju Puskesmas Jagalempeni tempat aku mengais rejeki sebagai staf administrasi. Sepeda motorku melangkah pelan hanya berjalan maksimal 30 KM/jam karena ada sisa trauma yang masih terasa ketika itu jatuh dari motor pas melintas kotaku yang berada di ujung paling barat provinsi Jawa Tengah.

“Hmmm…..sampai juga ke Puskesmas Jagalempeni Rumahku yang ke dua” suaraku dalam hati. Beberapa teman menyambutku dengan senyum pesona dan ada juga yang mengucapkan selamat tahun baru. Ada banyak suka cita ditempatku bekerja. Ada dokter, ada perawat, ada bidan dan staf yang lain seolah menyatu dalam satu keluarga. Tidak ada perbedaan sekilas mungkin dimata orang karena saya yang tampil prima dengan senyum gembira memang senantiasa ku pasang.

Hampir tidak ada orang yang tau kalau dalam hati ada banyak curahan yang akan aku tumpahkan, bukan untuk berbelas kasih tapi mencoba temukan hikmah dalam kehidupan melalui pelajaran perjalanan kehidupan anak manusia yang mungkin ada manfaat untuk para pembaca. Yang jelas bagi saya ini adalah hikmah terbesar dalam hidup dan bekal Kehidupan dimasa depan.

Waktu terus berlalu sudah setahun lebih saya asik dan terbuai dengan aktifitas rutinitas sebagai staf admin. Pencatatan, pendataan laporan – laporan saya kerjakan dengan lancar dan nyaman hingga aku lupa pada catatan keuangan pribadiku dan keluargaku. Bukan pamer gajiku sebagai staf admin Tenaga Kerja Non PNS (BLUD) Brebes tak lebih dari Rp. 600.000.

Tentu sebuah angka yang sulit di otak atik dalam RAB rumah tangga. Kebutuhan transportasi dari bensin dan penyeberangan sungai. Makan siang tentu harus tidak boleh kurang Rp. 20.000/hari, jelas angka ini bila dikalikan 1 bulan akan habis pas pasan dengan gajiku.

Namun demikian aku jalani dan syukuri sebagai suatu rizqi dan tanggung jawab yang harus ku tempuh sebagai pembantu kepala keluarga mencari nafkah tambahan. Suami bekerja menjadi buruh serabutan karena bekal ijazah SMA apa yang dapat diharapkan lagi selain buruh kasar kuli Bangunan.

Namaku Anita Dewi tercatat dalam SK Pengangkatan tenaga kontrak yang setiap tahun harus diperpanjang. Saya memang terlalu asik dan sibuk dengan duniaku. Suasana kerja yang nyaman penuh dengan keakraban persaudaraan membawa aku untuk melupakan sebuah penghasilan.

Syukurlah ada Jasa Pelayanan yang aku dapat sebagai penghasilan tambahan dari kapitasi yang di keluarkan oleh BPJS melalui Puskesmas. Jumlahnya tidak tetap tapi kurang lebih tak bergeser jauh dari angka Rp 250.000/bulan.

Syukur dan mencoba ikhlas dengan keadaan hingga aku lupa sudah berapa Upah Minimum Kabupaten (UMK) Brebes sekarang berapa? Kata teman sich sudah mencapai Rp. 1.300.000/bln. Kalau memang benar demikian upahku tentu jauh dari UMK yang di tetapkan. Tapi tak mengapa lah…bagiku apa yang menjadi takdirku ini adalah yang terbaik untukku.

Gayaku yang selalu semangat dan terlihat periang mampu mengubah pandangan masyarakat Tentang enaknya menjadi pegawai di Puskesmas. Walau sebenarnya saya dan suami sering dibikin pusing karena penyusunan RAB rumah tangga yang sering deadlock tak temukan titik temu.

Tapi ini realita, ini kenyataan hidup mau tidak mau harus ku jalani dengan semangat kerja yang tinggi. Anak semata wayang yang duduk dalam PAUD harus ku menanggung malu karena selalu saya titipkan ke orang tua tanpa tau bagaimana harus berterimakasih. Seolah ada perasaan sedih ketika dari dalam kandungan sampai skarang tak selesai juga merepotkan ibuku.

Dari ngantar anak ke sekolah hingga mempersiapkan makan siang untuk buah hatiku. Itulah sifat ibu yang tidak pernah bosan mengabdi untuk anaknya tanpa melihat bakti anak. Sedangkan kini sayapun sudah menjadi seorang ibu masih belum mampu memberikan yang terbaik untuk anaku.

Hmmmm….Ya Allah yang maha kuasa segala – galanya. Tentu bukanlah untuk berkeluh saya tulis cerita ini, Bukan pula untuk berharap belas kasihan orang. Saya sudah cukup nyaman dengan pekerjaan saya walau mungkin cerita ini telah membuat kurang nyaman kepada segelintir pejabat berwenang.

Ceritaku adalah suara hatiku yang terus berdoa dalam keikhlasan untuk mengetuk hati sang pemimpinku agar dibukakan pintu hati untuk memandangku sama seperti mereka karyawan pabrik dengan UMK 1,3 jt. Memang tak akan habis cerita kebutuhan manusia tapi ambang batas angka kesejahteraan menurut standarisasi atau kriteria tentu ada.

Ceritaku tentu kurang lebih sama dengan teman – teman seprofesiku di puskesmas lain di Kab. Brebes. Inilah cerita tutur suka duka yang menitip pesan kepada sang penguasa berharap keadilan akan menyentuh juga sampai ke staf admin Puskesmas Jagalempeni. Semoga ada manfaat dan hikmah dari goresan pena maya simbol suara nyata dari sang pengabdi masyarakat. [] 

*Penulis adalah Pegawai Honorer Brebes.

1 KOMENTAR

  1. Semangat mb, sy dulu honor di rsu utk tk sarjana dpt 30k, visite kalo beruntung bisa dpt 300k, tp sering kurang dr itu. Anak masih bayi, susu sekaleng 800g harga 30k, cuma utk 3 hari … cuma BBM wkt itu masih murah. Alhamdulillah hampir 3 th honor, akhirnya jd PNS… ikhlaskan kerja itu ibadah, nanti dapat balasan yg terbaik dr Allah SWT

LEAVE A REPLY