LTM NU : Ayo Kembalikan Remaja ke Masjid

Ali Shobirin Wakil Sekretaris LTM PBNU [Foto: Dok Pribadi]
o /

Jagalempeni, Harianbrebes.com-Kecenderungan sebagian remaja Indonesia memilih tongkrongan di Mall ketimbang beraktivitas di masjid, menjadi keprihatinan Lembaga Tamir Masjid (LTM) PBNU. Sehingga perlu dicari terobosan agar Mereka bisa kembali ke masjid, sehingga masjid kembali semarak karena banyaknya aktivitas Remaja Masjid.

Keprihatinan tersebut disampaikan Wakil Sekretaris LTM PBNU Ali Sobirin, di sela Latihan Kader Penggerak NU di Desa Jagalempeni Kecamatan Wanasari Brebes, Sabtu (14/1) lalu.

Menurutnya, 95 persen Masjid dan Mushola sepi kegiatan remaja maupun pendidikan khusus untuk remaja apalagi kegiatan ekononomi. Paling banter, hanya kegiatan sholat maghrib, Isya subuh dalam jumlah jamaah jamaah yang amat sedikit serta sholat jumat.

Fungsi masjid sebagai pelayan jamaah, lanjutnya, belum maksimal dan ini perlu revitalisasi fungsi masjid dengan terlebih dahulu menyadarkan mengurus atau tamir masjid sebagai penyambung tangan rachmat Allah SWT.

“Problem ini, harus kita pecahkan bersama agar masjid tidak sepi pemuda, yang tentunya dengan program yang komunikatif seperti tersedianya wi-fi,” ungkitnya.

Ali Sobirin berkeyakinan, bila para remaja dan pemuda sudah seneng datang disekitar masjid, lambat laun akan ada hidayah buat Mereka. Bolehlah, Mereka awal-awalnya tidak ikut sholat karena masih asyik dengan wi-fi, tapi setidaknya Mereka mendengarkan adzan, melihat orang sholat dan tentunya akan tergerak meringankan langkah menuju ke masjid.

“Kenapa Mereka milih ke mall, karena mall menyediakan kebutuhan ekspresi pemuda,” ungkapnya.

Dalam kaitan ini, lanjutnya, dia melakukan training di 17 provinsi dan 40 kabupaten tentang revitalisasi fungsi masjid untuk kesejahteraan umat. Dia mengajak bergerak bareng, antara lain dengan gerakan infak zakat masjid (Gizmas) dan Bersih Bersih Masjid (BBM). Gizmas yang merupakan tradisi jimpitan bagi warga NU, sangat mudah dilakukan dan menjadi semangat yang luar biasa yang pemanfaatannya tidak hanya untuk fisik masjid, tetapi juga kegiatan ekonomi masyarakat desa setempat.

“Beberapa daerah, sudah melakukannya dan hasilnya sangat memuaskan dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat termasuk para remaja masjidnya,” pungkasnya.

Panitia Latihan Kader Penggerak NU tingkat MWC NU Wanasari Sururi mengatakan, kegiatan internal ini diikuti 50 peserta perwakilan dari pengurus ranting se Kecamatan Wanasari. Mereka mendapatkan materi selama 4 hari dengan narasumber dari PCNU, PWNU, dan PBNU.

“Kami berharap, peserta bisa menjadi kader NU yang militant dan mengaplikasikan materi yang didapat dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya. [Red-Hb/Arkana]

LEAVE A REPLY