ZIKIR TELOLET

Abdullah Wong (Wong Dzolim) Penulis Buku Gus Dur. [Foto: Dok. Pribadi]
o /

Oleh Abdullah Wong*

 
“Maka sesungguhnya Dia Maha Tahu
yang rahasia dan yang lebih tersembunyi

(Thaha: 7)

 
LIHATLAH anak-anak itu. Tubuhnya tak sekuat dan sekokoh bis antar kota yang melintas. Suara mereka juga tak mampu menaklukkan deru bis kota yang melaju. Tapi mereka beresedia sigap berdiri. Keringat mereka menjadi saksi. Bekal mereka hanya selembar kertas, acungan jempol, dan senyuman tulus. Mau mereka hanya satu: klakson indah yang menderu dari bis kota. “Telolet,” begitu konon bunyinya.

Kenapa anak-anak itu meminta deru klakson?
Seberapa penting anak-anak itu meminta bunyi klakson? Apakah klakson selama ini tak cukup? Agaknya, anak-anak itu sedang menyadarkan kepada kita bahwa bunyi klakson bukanlah sekadar klakson. Klakson bukan semata untuk gagah-gagahan. Tapi klakson adalah simbol pengingat yang secara mendasar berfungsi untuk mengingatkan orang lain yang lengah di tengah jalan. Dengan klakson, mereka yang ngantuk akan sadar dan terbangun, mereka yang mlongo menjadi melek dan ngeh, mereka yang gagal fokus menjadi bangkit dan terarah.

 

Dunia ini selalu butuh peringatan demi peringatan. Tidak cukup kah gempa sebagai pengingat atas kepongahan kita? Tak cukup kah sikap saling benci hanya menjadi petaka bagi siapa pun? Tak cukup kah korban-korban di jalan raya lantaran kepongahan dan kelalaian para sopir yang sebenarnya adalah pemimpin? Bayangkan jika sopir itu bernama camat, bupati, gubernur, menteri, hingga presiden dan para anggota dewan? Bayangkan pula jika sopir itu adalah ulama, dosen, guru-guru sekolah, hingga orang tua. Bukankah setiap pribadi adalah sopir (pemimpin) bagi yang ia pimpin?

 
Kenapa anak-anak itu minta klakson kepada sopir?
Kepada siapa kalau bukan kepada sopir? Karena sopir adalah pemimpin. Sopir adalah imam dari umat yang bernama penumpang. Bagaimana mungkin seorang pemimpin dapat mengingatkan (menyadarkan) orang lain, sementara dirinya meleng dan sadarkan diri. Tentu bukan kepada kenek atau kondektur. Meski mereka bagian dari awak bis, tapi mereka bukan imam. Mereka hanya bagian dari kesatuan sistem transportasi (wasilah) dalam mencapai suatu tujuan. Maka, hanya kepada sopir anak-anak itu berharap. Bukan ke yang lain. seakan, anak-anak itu sedang berkata, “Wahai siapa pun yang menjadi sopir atawa pemimpin, sadarilah dirimu akan peringatan bernama klakson. Miliki lah klakson indah semacam Telolet. Sebuah klakson yang dapat mengingatkan siapa pun yang salah dan melenceng.”

 
Lalu kenapa anak-anak yang meminta?
Di sini kita melihat, anak-anak pemberani itu rela berdiri berlama-lama di pinggir jalan demi Telolet. Tentu hanya anak-anak yang masih polos, yang tak punya kepentingan apapun. Hanya manusia yang polos dan murni (mukhlis) seperti anak-anak itu yang dapat mengingatkan para pemimpin. Anak-anak itu semacam bocah angon yang selalu punya kepekaan untuk mengingatkan siapa pun yang mendapat anugrah sebagai sopir atawa imam.

 
Telolet mungkin peristiwa massif yang remeh. Tapi bukankah Tuhan tak pernah mencipta sesuatu apa pun tanpa pesan dan makna apalagi remeh dan sia-sia? “Bukankah setiap hal adalah ayat dari-Nya?,” demikian kata Kitab Suci. Jika demikian adanya, apakah bukan mustahil jika Telolet adalah zikir baru yang perlu dikumandangkan kepada semua pihak lantaran kini zikir-zikir suci telah dikotori oleh ragam kepentingan dan ambisi.

 
“Om Telolet, Om.”

*adalah wong Brebes Asli Jatirokeh Penulis Buku Mata Penakluk Manakib Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

LEAVE A REPLY