Calon Gubernur Jawa Tengah, Sudirman Said Kagum dengan Pondok Pesantren

Calon Gubernur Jawa Tengah Sudirman Said saat menjadi pembicara pada Halaqoh Alim Ulama Jawa Tengah, Jum'at (13/10) lalu. [Foto: Humas Brebes]
o /

Bulakamba, Harianbrebes.com- Calon Gubernur Jawa Tengah, yang juga Mantan Menteri ESDM Sudirman Said menyatakan kekagumannya dengan pesantren, saat mengisi Halaqoh Alim Ulama Jawa Tengah di Ponpes Al Ishlah Assalafiyah 2 Luwungragi, Bulakamba Brebes, Jumat sore (13/10) lalu.

Bukan hanya itu, ia melihat ada kekuatan berhidmat dalam mengelola pesantren yang pantang menyerah. Dia kagum dengan beraneka ragam pesantren di Indonesia yang hanya memiliki puluhan santri hingga ribuan santri tetapi tetap berjalan. Bahkan ada juga yang hanya memiliki beberapa meter petak sawah dan bilik juga berjalan.

Namun dari balik kesederhanaan para santri, ketika berada dipanggung sangat piawai dalam menjalankan roda politik maupun birokrasi. “Santri memang berkarakter,” tandasnya dihadapan peserta Halaqoh.

Sedangkan Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Anwar Sarang Rembang, Jawa Tengah Dr KH Abdul Ghofur Maimun Zubair MA menegaskan, Pesantren yang sarat dengan pendidikan karakter mencetak santri berkarakter. Namun demikian, banyak yang luntur ketika masuk kedunia politik maupun birokrat. Dengan kelunturan tersebut, menunjukan kalau santri tersebut belum matang alias tidak menyerap karakteristik pesantren atau berkarakter jelek.

“Santri yang baik, ketika jadi politisi maupun birokrasi memegang teguh karakter santri,” ujar Gus Ghofur panggilan akrab Dr KH Abdul Ghofur Maimun Zubair MA saat memaparkan makalahnya pada halaqoh Alim Ulama Jateng.

Karakter yang baik juga ditunjukan dengan kedisiplinan yang tinggi, yang dibedakan antara disiplin internal dan disiplin eksternal.

Disiplin internal, terdorong dari dalam diri manusia itu sendiri karena hasil pendidikan yang penuh kasih sayang dan itu diterapkan di berbagai pondok pesantren salaf. Namun kalau disiplin eksternal tercipta karena ancaman dan hukuman.

Ancaman dan hukuman cepat merubah seseorang menjadi disiplin tapi semu, karena dalam waktu yang singkat akan luntur bahkan hilang kedisiplinan tersebut. Namun kalau disiplin internal terbangun cukup lama, berbulan bulan bahkan bertahun-tahun namun akan bertahan lama dan membekas sehingga benar-benar terpatri ke dalam dada.

Menjadi Bupati yang berkarakter, akan berlanjut hingga periode berikutnya bahkan bisa meningkat menjadi Gubernur bahkan meningkat menjadi Presiden.

“Jatuhnya peradaban, karena jatuhnya karakter dan karakter berada pada titik-titik pemegang kekuasaan maupun rakyatnya,” ujarnya.

Isilah dunia politik dan birokrasi dengan orang-orang baik ke dalam struktur dan itu di miliki para santri.

“Karakter Santri tidak hanya untuk santri itu sendiri, tetapi juga untuk bangsa dan Negara. Jadi sah-sah saja, ketika santri berada di panggung politik maupun birokrasi,” tandasnya.

Ketua Panitia Halaqoh Ulama Jateng KH Maufur Idrus menjelaskan, halaqoh digelar dalam rangkaian hari santri nasional. Diikuti perwakilan ulama dari 35 Kabupaten dan Kota Se Jateng. Halaqoh mengusung tema Peran Ponpes dalam Penguatan Pendidikan Karakter Bangsa.[Red-HB/Arkana/w]

LEAVE A REPLY