Merekam Kebahagiaan di Wae Rebo

Wae Rebo [Foto : https://www.google.co.id/search?q=wae+rebo&rlz=1C1CHFX_enID718ID718&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjHsd2bmMfXAhUHK48KHfgwBO8Q_AUICigB&biw=1517&bih=735#imgrc=qYOgSDVYTGlx-M]
/

oleh

Dia Assamani*

LANGIT Wae Rebo sore itu cukup bersahabat. Sisa-sisa cahaya mentari menari bersama kabut tipis menyelimuti awan, memayungi kampung adat yang terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Tepat berada di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia, desa tradisional ini selalu menyambut setiap wisatawan yang datang dengan penuh kebahagiaan.

Aku masih tak menyangka bisa menjejakkan kaki di dataran tinggi Wae Rebo. Semua masih segar dalam ingatan ketika keinginan menuju destinasi impian ini menjadi sebuah kenyataan yang sebelumnya hanya ada dalam khayalan: mengunjungi dan melihat segala keotentikan budaya kampung adat di Pulau Bunga ini hanya lewat gambarnya di majalah perjalanan atau video yang banyak diunggah oleh para pejalan ulung di media sosial.

Ya, pejalan ulung, karena buat aku pribadi yang tak pernah ambil bagian dalam komunitas pencinta alam (baca: pendaki gunung), untuk sampai di Wae Rebo perlu itu “perjuangan”.  Menyusuri trek terjal dan licin dibasahi gerimis sepanjang kurang lebih tiga jam selama pendakian itu “sesuatu”. Ini pasti soal kecil bagi para pendaki andal. Ternyata aku juga bisa seperti mereka. Alhasil, perjuangan dan kejutan berbanding sama ketika berhasil menapaki desa adat yang pada 2012 lalu dinobatkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Wae Rebo bertahan dengan  budaya yang sudah menjadi cara hidup penduduknya secara turun temurun selama 19 generasi. Identitas desa dan penduduknya begitu tegas diekpresikan lewat pakaian, tempat tinggal, makanan dan minuman (sandang,pangan,papan), bahasa, pola hidup serta kepercayaan. Semua tampak jelas walaupun hanya sekilas aku amati lewat kehidupan spiritual maupun sosial yang berciri khas masyarakat pegunungan. Semua bisa disaksikan dan diresapi dalam waktu sehari satu malam, 1 x 24 jam.

Keunikan utama Wae Rebo adalah rumah adatnya yang berbentuk kerucut bernama Mbaru Niang. Terbuat dari kayu dan atapnya dari ilalang yang dianyam, sangat tradisional. Kini Mbaru Niang ada di hadapan mata bahkan aku bisa bermalam di dalamnya. Jumlahnya ada tujuh rumah, dikelilingi bukit-bukit hijau yang menyejukkan. Yang paling besar ditempati oleh sesepuh adat dan keluarganya. Enam lainnya berukuran lebih kecil dan masing-masing ditempati seorang kepala keluarga, istri serta anak-anak mereka.

Ada banyak atraksi yang bisa dilakukan oleh wisatawan di sini. Kita bisa bercengkrama dengan sesepuh adat dan penduduk atau melihat para mamah (ibu) yang punya rutinitas menenun di bawah rumah mereka setiap hari. Oiya, saat baru datang biasanya tamu disuguhi kopi khas Wae Rebo. Nikmatnya. Dan yang tak kalah seru adalah menikmati sore bersama anak-anak Wae Rebo, seperti sore itu.

Lihat, Ryan, salah satu teman seperjalanan, asyik sekali bermain sepak bola bareng anak-anak laki Wae Rebo di pelataran berumput hijau alami yang luasnya tentu jauh dari standar panjang-lebar lapangan bola pada umumnya. Jangan salah, melihat mereka berlarian mengejar si kulit bundar di pinggir lapangan bak berada di tribun penonton Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Seru!.

Nuansa pertandingan begitu nyata saat anak-anak mungil itu gigih menggiring bola ke gawang. Dan, “goaaaaall!” Seorang striker cilik berkaki kijang berhasil memasukkan bola ke gawang Ryan yang tampak tidak lemas mengalami kekalahan, malah senyum sumringah. Mungkin itu caranya -pura-pura kalah demi melihat anak-anak tertawa. Tapi bisa jadi ia memang betul-betul kalah hebat dengan anak-anak yang saban sore bermain bola. Apapun motifnya, inilah pertandingan persahabatan yang sesungguhnya. Bertanding dan bergembira.

Puas menonton pertandingan sepak bola persahabatan, saatnya berswa foto dengan putri-putri cantik Wae Rebo berlatarbelakang Mbaru Niang. Wah, mereka berebutan ingin tampil di depan kamera telpon pintarku. Cheers!

Ada yang tak puas dipotret saja, alih-alih langsung memegang telpon genggamku. Tentu mereka sudah tidak asing dengan bentuk alat komunikasi ini. Hanya tampak sekali mereka penasaran ingin melihat isinya. Apakah aku melarangnya lalu menyembunyikan hp ke saku celana? Tentu tidak. Aku jadikan ini sebagai momen edukatif. Caranya, aku berikan telpon pintarku dan meminta mereka menuliskan nama dan kelas di ruang memo setelah memberikan sedikit arahan.

Ternyata ada yang sudah mengenal huruf dengan baik dan hanya perlu beradaptasi sejenak dengan tuts layar sentuh berisi abjad dan simbol-simbol. Ada pula yang masih terbata mencari aksara demi menulis nama mereka sendiri. Di sini peranku mengenalkan huruf-huruf. Manfaatnya, aku menyimpan nama mereka di memo sekaligus mengenalkan aksara lewat alat teknologi.

Sementara itu, di selasar Mbaru Niang nampak wisatawan lain dikerubutin anak-anak saat membagikan permen atau makanan. Tampaknya telah menjadi kebiasaan bagi para turis melakukan hal itu. Hal seperti ini bukan tidak tepat, sebaiknya juga diiringi dengan cara lain yang lebih bertahan lama manfaatnya buat anak-anak hebat Wae Rebo. Misalnya akan lebih bermanfaat mendonasikan buku-buku ilmu pengetahuan, wawasan dan keterampilan untuk perpustakaan yang sudah ada di Wae Rebo namun masih minim jumlah dan variasinya.

Senja makin tua. Rasanya momen-momen indah di Wae Rebo tak ingin segera berakhir. Supaya semua terkenang tanpa akhir aku tekan tombol video di hp dan merekam kegembiraan yang tercipta bersama anak-anak lewat syair lagu Kasih Ibu yang mereka nyanyikan dan gubah liriknya dengan bahasa Manggarai. Rupanya mereka juga pandai bernyanyi. Sungguh momen 1 × 24 jam di Wae Rebo amat menyenangkan. Nah, ini bahagiaku. Datanglah ke Wae Rebo dan temukanlah kegembiraanmu!.[]

 *Dia Assamani: travel blogger, lecturer, researcher

LEAVE A REPLY