Aksi HMI Cabang Brebes, KPMDB, Aliansi BEM Se-Brebes Bela Petani Bawang Merah

o /

Brebes, Harianbrebes.com-Pagi itu, Jum’at  29 Desember 2017 lalu, sekitar 250 peserta Aksi Bela Petani Bawang Merah Brebes di depan Kantor Bupati Brebes Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Brebes, Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah Brebes (KPMDB), Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se-Brebes dan Petani Bawang Brebes berjalan riuh. Ini lantaran petani tidak ditemui Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang sedang bertugas ke Semarang.

Aksi demo petani ini juga memacetkan jalan pantura Brebes hampir sekitar 3 meter lebih, ini karena mereka memblokade jalan, yang  berlangsung hampir 20 menit.  Sehingga aparat keamanan juga disibukkan mengatur lalu lintas yang ada. Bukan hanya itu, mereka juga melempari halaman kantor bupati dengan hasil panen bawang merah yang murah. Aksi blokade dan lempar bawang mereda setelah polisi berhasil menenagkan pendemo.

“Kami rugi besar, dan punya utang di Bank,” kesal firman petani asal Kedungbokor yang ikut aksi.

Meskipun banyak pejabat yang menemui baik Narjo Wakil Bupati Brebes, para asisten Setda Brebes, pegawai Dinas Pertanian, dan Pegawai Dinas Kominfotik Brebes, massa masih bergeming ingin menemui  Bupati Brebes yang menurut mereka dijanjikan sejahtera bagi petani bawang  merah Brebes, saat kampanye Pilkada. Sambil berteriak-teriak “mana bupati, mana bupati, mana bupati” melalui pengeras suara koordinator aksi diikuti petani bawang merah.

Tak puas dengan itu, Fahmi Alfan Aktifis HMI Cabang Brebes menelepon Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang sedang  jalan pulang menuju Brebes. Melalui loundspeker pada handphonnya ia meminta untuk bertemu dengan Bupati Brebes, namun bupati Brebes saat itu, belum memberikan kepastian bisa bertemu pendemo.

Karena ketidakpastian orang nomer satu Brebes untuk bertemu pendemo, massa aksi mulai riuh dengan merangsek pintu masuk Kantor Bupati yang dijaga aparat keamanan. Suara saling sahutan antara orasi diatas mobil pik up dengan aparat keamanan. Sesaat itu, hampir terjadi ricuh antara aparat keamanan dengan petani Bawang Merah. Hal ini, karena Kapolres Brebes AKBP Sugiharto turun langsung sampai memanjat  dinding gapura pintu masuk Kantor Bupati.

“Tenang-tenang, saya ditengah-tengah Bapak Ibu petani Bawang merah, saya sudah koordinasi, saya jamin nanti Bapak Ibu akan bertemu dengan Bupati Brebes, karena sedang perjalanan kurang lebih dari Batang-Brebes dua jam, nanti jam 2 saya akan temani , sementara Bapak Ibu nanti saya sediakan makan minum sambil menunggu Bupati Brebes,” terang  Kapolres Brebes AKBP Sugiharto menenangkan massa petani Bawang Merah.

Sementara itu, Akmal Baihaqi Aktifis HMI Cabang Brebes juga meminta untuk peserta jangan anarkis dan tetap tenang.

“Hati-hati, awas provokator jangan anarkis, kita saudara pak Kapolres, kita tidak akan anarkis” tegasnya sambil berteriak melalui pengeras suara diatas mobil.

Sekitar pukul 13.00 lebih petani di temui Bupati Brebes Hj Idza Priyanti didampingi Kapolres AKBP Sugiharto sambil mendengarkan keluhan petani bawang merah.

Dibawah ini salah satu tuntutan massa aksi Bela petani Bawang merah Brebes.

Hidup Mahasiswa !

Hidup Pemuda !

Hidup Petani !

Hidup Rakyat !

Salam Perjuangan !

Tumbangnya orde baru pada tahun 1998, yang kemudian dikenal sebagai reformasi, hanya menghasilkan rezim-rezim  baru yang sedikitpun tidak mampu menjadi garda depan perubahan bagi kaum tani dan rakyat indonesia. Dari pemilu ke pemilu pasca reformasi, hanya mendudukkan kepemimpinan bangsa ini pada rezim yang sangat kapitalistik. Bukan hanya  bertindak sebagai penguasa yang pro dengan kaum pemodal, tetapi juga telah menjadikan nasib kaum tani semakin masuk  kedalam jurang kemiskinan. Menyikapi dengan seksama atas perkembangan situasi agraria di tanah air baik tingkat nasional maupun daerah.  Banyaknya persoalan terkait harga jual hasil produksi bawang merah menjadi perhatian khusus bagi seluruh komponen kaum  tani khususnya petani bawang merah. Dalam kurun waktu tahun 2017 harga jual produksi bawang merah terus mengalami  penurunan hingga mengakibatkan kerugian.  Indonesia sebagai negara agraris harusnya bisa mewujudkan swasembada pangan. Bidang agraria lewat pertanian  harusnya dapat menjadi ujung tombak perekonomian bangsa. Dimana petani sebagai motor utama bidang agraria mendapat  perhatian khusus untuk mendapatkan kesejahteraan.

Potret daerah Brebes terjadi kejanggalan, daerah penghasil bawang merah, tetapi masih banyak petani hidup miskin.  Beban biaya hidup terus mengalami kenaikan (harga BBM, listrik/TDL, gas elpiji, sembako, biaya transportasi, biaya  pendidikan dll) namun petani tidak kunjung mendapatkan kesejahteraan dengan cara bertani. Sistem ekonomi yang  diterapkan saat ini terbukti telah menguntungkan segelintir orang atau kelompok dibandingkan mayoritas rakyat khususnya  petani bawang merah.

Kebijakan Revolusi Hijau yang dijalankan pemerintah dan disponsori oleh Trans National Coorporation perusahaan penyedia dan penjual sarana produksi, dalam jangka panjang masih berlangsung hingga hari ini telah menghancurkan kemampuan, keterampilan dan kearifan lokal yang dimiliki oleh petani Indonesia. Begitu juga dalam hal pupuk dan pestisida untuk tanaman, semua harganya melambung dan tidak sesuai dengan biaya produksi dan harga jual produksi. Perusahaan

besar menjadi produsen pupuk dan peptisida, semua disediakan dan beredar bebas di pasaran tanpa adanya kontrol negara.

Dalam konstelasi ini, secara gamblang kita dapat melihat negara justru hadir tidak berpihak pada petani secara umum lebih-lebih petani kecil. Dengan regulasi dan peraturan-peraturan yang dikeluarkan tampak negara lebih berpihak pada  kepentingan pemodal. Regulasi tentang pupuk, regulasi tentang agraria, regulasi budidaya sampai regulasi hilir tentang  import pangan tampak betul bagaimana Negara justru mengabdi pada kepentingan pemodal.

Berangkat dari realitas di atas, sudah saatnya mahasiswa dan rakyat bersatu untuk bangkit melawan ketimpangan ini.  Oleh karena itu, kami KPMDB menilai pemerintah JOKOWI gagal dalam menghadirkan kesejahteraan untuk seluruh petani  Indonesia. Kondisi bangsa harus diselamatkan oleh anak bangsa. Kami menghadirkan AKSI BELA PETANI BAWANG  MERAH sabagai koreksi atas beragam kondisi yang melenceng dari kesejahteraan petani. Adapaun poin tuntutan dalam  AKSI BELA PETANI BAWANG MERAH adalah sebagai berikut:

  1. Tolak politik oligarki, kartel kekuasaan dan segala bentuk persengkongkolan politik yang merusak tatanan demokrasi dan perekonomian indonesia.
  2. Tolak ekonomi kapitalistik yang hanya berfokus pada pertumbuhan, tanpa mewujudkan pemerataan dan keadilan
  3. Sejahterahkan petani bawang merah Indonesia
  4. Stabilkan harga jual produksi bawang merah dan subsidi pupuk serta obat-obatan bawang merah.
  5. Stop impor pangan dan bawang merah.
  6. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan (UUD ’45 Pasal 33 Ayat 1)

Demikian lembar pernyataan sikap ini dibuat sebagai bentuk kepedulian kami terhadap petani bawang merah Brebes pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya.[Red-HB/Arkana/karno]

 

LEAVE A REPLY