Jum’at Keramat, Marjinal Injakan Kaki Di Ponpes Al Falah, Brebes

o /

Brebes, harianbrebes.com,- Sejarah Punk Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama Band Marjinal. Grup musik yang bernaung di bawah Komunitas Taring Babi ini adalah ‘dedengkot’ band Punk di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1996.

Pada perjalanannya, Marjinal sudah beberapa kali berganti personel dan band punk rock ini resmi menggunakan nama Marjinal pada tahun 2000, ketika Mike terinspirasi oleh nama Marsinah pejuang buruh perempuan. Marsinah adalah sosok buruh perempuan yang sangat berani dalam memperjuangkan haknya yaitu kaum buruh.

Baru pertama kalinya, Grup Band Marjinal ini menginjakan kakinya di pondok Pesantren Al Falah di Songgom, Kabupaten Brebes dan bertemu langsung dengan KH. Mas Mansyur Tarsyudi yang merupakan pengasuh ponpes tersebut.

Marjinal bersama para santri diponpes Al Falah, Songgom, Brebes.

“Wejangan dari Mbah Kyai bersinergi dengan apa yang Kita lakukan di Jakarta (terkait bumi). Yaitu Kita mengadakan gerakan Sampah (Sambut Pahala) Masyarakat yang dideklarasikan pada tanggal 17 Agustus 2019”, Kata Mike saat ditemui di halaman Stadion Karang Birahi, Brebes. Jum’at, (23/8/2019) malam.

Mereka terbiasa menggunakan media visual, lewat poster dari cukil kayu, baliho dan lukisan yang menggugah kesadaran generasi muda. Selain melakukan diskusi, penerbitan newsletter, dan aksi turun ke jalan, mereka juga bermain musik.

“Niat kita datang kemari untuk berjumpa, belajar dan banyak hal-hal yang diketemukan, dan sangat menginspirasi,” tandasnya.

Ali, Roni Kribo, Handayani Rin, Anom Panuluh, Gus Bill bersama Marjinal di rumah Baron, Songgom, Brebes

Rencananya mereka akan beraksi dengan musiknya dalam acara Songgom Bergetar VI ‘Reuni Akbar Pekerja Keras’, pada tanggal 25 Agustus 2019 di halaman Pasar Induk Songgom, Kabupaten Brebes.

“Iya, rencananya Kita akan tampil di Songgom”, lanjutnya.

Komunitas Taring Babi sendiri terbentuk atas latar belakang kesamaan dalam menyikapi belantika hidup satu sama lainnya. Mereka berusaha menyampaikan suatu pesan akan suatu penolakan maupun penerimaan dan harapan setelah apa yang dirasa, dilihat, di raba, dan di dengar dalam kehidupan sehari-hari. (Gust)

LEAVE A REPLY