Padi Gagal Panen Dapat Asuransi Rp 6 Juta Per Hektar

o /

Brebes, Harianbrebes.com,- Untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen, petani padi di Kabupaten Brebes bisa mendaftarkan luasan tanahnya dengan premi gratis untuk memperoleh penggantian modal maksimal enam juta rupiah per hektar dari pemerintah.

Meskipun baru menanam, luasan sawah petani bisa didaftarkan asuransi dengan premi gratis ini. Sehingga dengan didaftarkan, tanaman padi milik petani yang mengalami gagal panen itu akan menerima penggantian modal maksimal enam juta rupiah per hektar.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Brebes, Sri Basuki mengatakan, asuransi itu bisa diperoleh dengan cara petani mendaftarkan sawahnya kepada DPKP.

“Petani cukup mendaftarkan luasan sawahnya saja. Baik sebelum masa tanam maupun sudah tanam. Tapi asuransi ini khusus untuk petani yang menanam padi,” kata Basuki saat ditemui di kantornya, Jumat (4/10).

Sri Basuki menjelaskan, mulai bulan September kemarin, asuransi yang sebelumnya dikenakan premi sebanyak 20 persen dari modal tanam, kini semuanya sudah berlaku gratis. Sebab, pemerintah pusat memberikan subsidi sebanyak 80 persen, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan subsidi sebanyak 20 persen.

“Petani tinggal mendaftarkan, dan jika sawahnya mengalami gagal panen karena terserang hama maupun bencana alam, maka petani tersebut bisa mendapatkan asuransi,” tambahnya.

Namun demikian, asuransi gagal panen ini lebih diprioritaskan kepada petani yang tergabung dalam anggota kelompok tani.

Masing-masing petani, lanjutnya, akan memperoleh subsidi dari pemerintah jika luas sawah miliknya tak lebih dari 2 hektar. Pemerintah akan memberikan subsidi bagi petani dengan batasan maksimal petani memiliki lahan seluas 2 hektar.

“Diusahakan kelompok tani karena akan lebih mudah mendapat penggantian kerugian akibat gagal panen dengan maksimal uang yang diterima Rp 6 juta per hektar. Asuransi itu untuk penggantian modal petani,” ujarnya.

Basuki berharap, kelompok tani atau yang mewakili kelompok tani bisa mendaftarkan sawahnya sebelum 14 Oktober mendatang. Sebab saat ini merupakan musim kemarau, di mana risiko gagal panen lebih tinggi karena sulitnya mendapatkan air untuk pengolahan lahan.

“Terlebih saat situasi kemarau begini. Risiko gagal panen lumayan tinggi. Sehingga petani diharapkan secepatnya bisa mendaftarkan sawahnya untuk mengikuti program ini,” imbuhnya.

Meskipun, lanjutnya, saat ini petani masih bisa melakukan produksi dengan pompanisasi untuk mendapatkan air. (Gust).

LEAVE A REPLY