D’PORTIR, Kreatifitas Diujung Lapas

Brebes, Harianbrebes.com,- Reformasi Birokrasi yang saat ini tengah dikumandangkan pada banyak Kementerian termasuk Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia menuntut Satker pada Kementerian kami harus melakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan organisasi Lembaga Pemayarakatan. Tidak terlepas pula dengan penyelenggaraan pola pembinaan Warga Binaan yang merupakan tanggung jawab utama Lembaga Pemasyarakatan.

Kenyamaan dan keamanan Warga Binaan akan menjadi ukuran penilaian mutlak dalam kompetisi menjadikan area percontohan penerapan pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Sebab hal ini sangat berkait erat dengan penilaian meningkatkan pelayanan prima dan menekan praktek KKN serta diskriminasi dalam proses penyelenggaraan pembinaan bagi Warga Binaan Pemasyarakatan.

Mengacu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 Pasal 2, yang menyebutkan bahwa program pembinaan meliputi kegiatan pembinaan kepribadian dan kemandirian. Khusus dalam hal pembinaan kepribadian, memiliki beberapa aspek kegiatan yang bertujuan membentuk mental rohani dan jasmani narapidana yang meliputi; meningkatnya tingkat keimanan sebagai pengendalian diri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, memiliki badan sehat dan berjiwa seni dan memiliki kesadaran bernegara sebagai wujud cinta terhadap tanah air.

Kehilangan kemerdekaan adalah merupakan satu-satunya penderitaan yang dimiliki oleh Warga Binaan Pemasyarakatan, dimana hal ini telah disebutkan secara jelas dalam Azas Penyelenggaraan Sistem Pemasyarakatan.

Dengan tolok ukur pada indikator Zona Integritas bahwa kepercayaan masyarakat (trust) merupakan kunci dasar dalam upaya menjadikan Satker Lapas menjadi salah satu Institusi yang memiliki kredibilitas layak untuk mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sehingga Lapas membutuhkan peran aktif dan intervensi yang besar petugas Lapas dan masyarakat untuk dapat memberikan pola pembinaan bagi Warga Binaannya menjadi figur yang sesuai dengan sasaran ideal menurut

Undang – Undang tersebut, selain infrastruktur dan motivasi besar untuk berubah menjadi lebih baik tentunya. Harus ada kerjasama yang baik antara sistem dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat aktif di Lapas. Bukan sekedar menjalankan sistem yang telah ada selama bertahun-tahun, namun bagaimana hati dan otak kita terus mencari inovasi dan terobosan baru agar Lapas menjadi lebih baik.

Akuistik Lapas Brebes

Kesenian merupakan bagian dari budaya dimana seni merupakan sarana yang digunakan untuk mengekspresikan rasa keindahan dari dalam jiwa manusia. Selain itu, kesenian juga memiliki fungsi lain. Misalnya, mitos yang berfungsi menentukan norna untuk perilaku yang teratur serta meneruskan adat dan nilai-nilai kebudayaan.

Secara umum, kesenian dapat mempererat ikatan solidaritas suatu komunitas. Oleh karena itu, pembinaan bidang kesenian di Lembaga Pemasyarakatan merupakan kegiatan yang dapat memulihkan jiwa warga binaan pemasyarakatan ke arah yang lebih baik.

Awal keberanian kelompok ini muncul yaitu pada tanggal 5 Maret 2017 atau sehari sebelum Seminar Pelajar Anti Narkoba dilaksanakan oleh Dharma Wanita Persatuan Lapas Brebes.

Kemunculan mereka dimata umum tidak serta merta menarik perhatian tamu VIP yang duduk diruang transit sebelum Seminar dimulai. Tugas yang tidak ringan untuk menghibur tamu VIP. Bahkan tak satupun tamu VIP yang melirik kelompok ini walaupun mereka telah melantunkan beberapa lagu.

Hingga akhir sesi akhir Seminar dan waktu transit tamu VIP selesai dilaksanakan, tak banyak tamu yang memberi respon kepada kelompok ini. Hanya karyawan Lapas yang mengambil inisiatif untuk meramaikan acara makan siang bersama setelah tamu VIP pulang. Itupun beberapa lagu masih didominasi oleh solo organ yang dihadirkan oleh panitia Seminar. Sebab audiens yang hadir pada saat itu sepertinya tidak terlalu cocok dengan genre lagu yang dibawakan oleh kelompok akuistik ini.

Tak berselang lama, hanya sebulan kemudian, kelompok ini meminta untuk didampingi latihan rutin dan menginginkan untuk diberikan masukkan dan kritik kepada mereka. Melihat potensi Warga Binaan kami ini, kami meyakini bahwa potensi musik dan kemampuan personal mereka sangat baik bahkan lebih dari sekedar “bisa”.

Kami yakin inilah potensi yang layak untuk mendapatkan perhatian dan akan sangat tepat jika dipergunakan untuk mengisi berbagai event apabila anak-anak ini dilatih dan ditempa dengan matang.

Mental dan percaya diri yang hampir runtuh saat mereka menyandang status sebagai warga binaan harus kembali dipompa sehingga berlian ini akan bersinar dan memukau semua orang.

Hampir setiap hari kami memberikan waktu kepada mereka untuk terus mengasah kemampuan dan ide-ide segar dalam bermusik. Vokalis harus melampaui serangkaian latihan keras untuk melatih power dan mengolah kemampuan berkomunikasi dengan penonton serta mengikuti sesi pelatihan Body Language dan Stage Act and Attitude dari narasumber yang tepat.

Saya memberi kesempatan kepada mereka untuk berekspresi secara bebas saat latihan berlangsung, Selebihnya mereka tetap mendapatkan pembinaan kedisiplinan. Membutuhkan kombinasi antara toleransi dan kedisiplinan yang tepat untuk tetap membuat mereka menikmati latihan keras ini dengan baik tanpa kehilangan mood dan idenya.

Apresiasi selalu masuk kepada kami dan selalu kami sampaikan kepada mereka. Kami tak pernah melewatkan kesempatan kegiatan apapun tanpa mereka. Jika memungkinankan mereka tampil, kami aktif menawarkan dPortir. Saat hari Bhakti Pemasyarakatan dengan banyak kegiatan termasuk olah raga, Hari Kartini, dan Paskah Seluruh Indonesia.

Kami paham, kami tidak boleh menjanjikan apapun kepada mereka, kami hanya meyakinkan kepada mereka bahwa kesuksesan tak pernah ingkar janji dari kerja keras. Hingga akhirnya dPORTIR mampu meraih Juara I dalam Festival Musik Religi di Bumiayu Brebes Selatan tahun 2017, Best Perfomance Band dalam Festival Musik Bumiayu Fair dan Band Tamu dalam even Brebes EXPO yang merupakan even besar tahunan di Brebes, semua merupakan prestasi yang berhasil ditorehkan dPORTIR pada tahun yang sama.

Jika lantas saat ini mereka mampu dipercaya untuk mengisi berbagai acara formal dan informal di Kabupaten Brebes sehingga masyarakat telah mengenal nama dPOTIR, bagi kami ini merupakan prestasi yang layak dibanggakan.

Kami telah mempu memberikan rasa nyaman kepada masyarakat dengan menghadirkan Warga Binaan kami dihadapan mereka dengan banyak prestasi musik yang mereka peroleh. Keberadaan mereka di tengah masyarakat telah mampu memberikan nilai peningkatan kredibilitas Lapas Brebes dimata masyarakat, bahwa kami layak mendapatkan kepercayaan untuk membina Warga Binaan kami dengan sangat baik.

Apresiasi masyarakat dengan terus mengundang dPORTIR dalam even-even lain merupakan ukuran fundamental yang mampu bicara, bagaimana kami memberikan kesempatan besar kepada Warga Binaan kami dengan baik.

Ukuran selanjutnya adalah semakin lengkapnya alat yang dimiliki oleh dPORTIR. Dari awal kami mengawal kelompok ini, alat yang kami miliki tidak se-update sekarang. Inilah prestasi yang tidak mampu kami bayangkan sebelumnya, bahwa seluruh alat yang kami miliki saat ini merupakan sumbangan dari banyak pihak yang telah mengundang dPORTIR untuk mengisi acara mereka. Mulai drum, lead dan bass guitar electric, hingga jimbay merupakan sumbangan dari penggemar mereka.

Banyak sekali pertanyaan yang terus menyelimuti idealisme kami.
Apakah dPORTIR akan terus berkibar ?
Bagaimana jika mereka bebas kelak?
Apakah masih ada dPORTIR di lapas Brebes?
Tidakkah anak-anak di dalam Lapas yang lainnya merupakan tanggungjawab kita juga?
Tidakkah masyarakat tergerak hatinya untuk ikut memberi mereka kesempatan untuk menjadi lebih baik?
Tidakkah masyarakat mampu melihat bahwa mereka ini juga warga Brebes yang harus bangkit kembali?
Tidakkah Kabupaten Brebes merasa bangga dengan potensi mereka?
Satu lagi… Bukankah mereka juga merupakan aset bangsa Indonesia yang layak kita selamatkan dan beri kesempatan?
Sebuah pesan selalu kami untuk mereka…
Anak-anakku…
Yakinlah, bahwa segala ujian itu datangnya dari Alloh.

Bersyukurlah, sebab dari milyaran manusia dibelahan bumi ini…. kalianlah yang dipilih oleh Alloh untuk menjalani ujian itu di Lembaga Pemasyarakatan dengan segala keterbatasan yang kalian miliki saat ini.

Hingga saatnya nanti tiba, kami akan melihat seberapa tinggi dan jauhnya lompatan kalian setelah mampu menjalani ujian ini dengan jiwa yang utuh.

Percayalah… tidak ada orang baik yang tidak memiliki masa lalu, tidak ada orang jahat yang tidak memiliki masa depan. Sebab, semua orang mempunyai hak sama untuk berubah. (*/Gust)

*Oleh: Maliki SH. MH (Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Kabupaten Brebes).